Fakta-Fakta Menarik Masjid Keramat di Kalimantan yang Kental Arsitektur Jawa

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Kamis 25 Februari 2021 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 408 2368119 fakta-fakta-menarik-masjid-keramat-di-kalimantan-yang-kental-arsitektur-jawa-P87OKPNaWm.jpg Masjid Keramat Pelaju di Pandawan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (Wikipedia.org)

MASJID Keramat Pelaju salah satu objek wisata religi di Kalimantan Selatan. Masjid bersejarah ini letaknya di Desa Pelajau, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Berdiri di lahan seluas 400 meter persegi, Rumah Allah ini adalah salah satu masjid tertua di Kalsel. Menurut riwayat, Masjid Pelaju dibangun sejak abad 14 Masehi, saat kedatangan utusan Raden Patah dari Kerajaan Demak bersama pangerang dari Kerajaan Banjar.

Baca juga:  5 Masjid Berarsitektur Megah di Makassar Ini Bikin Siapapun Berdecak Kagum

Masjid Pelaju masih berdiri kokoh dengan arsitektur khas Jawa yang unik. Dikelola secara swadaya oleh masyarakat, masjid ini jadi tempat ibadah, penyebaran peradaban Islam sekaligus objek wisata ziarah.

Berikut fakta-fakta menarik tentang Masjid Keramat Pelajau yang dikutip Okezone dari berbagai sumber :

1. Berarsitektur Jawa

Masjid Keramat Pelaju kental dengan arsitektur Jawa, mirip dengan masjid-masjid era Kerajaan Islam Demak. Maklum, masjidnya dibangun saat utusan dari Raja Demak datang ke Kalimantan.

Secara keseluruhan masjid terbuat dari kayu ulin dengan bentuk atap joglo yang juga dilengkapi dengan menara.

Selain itu, terdapat pahatan huruf Jawa di soko guru masjid yang memberitahu sejarah pembangunan masjid. Pahatan itu bertuliskan nama hari dan waktu pembangunan masjid tersebut.

Bagian luar masjid ini memiliki satu pintu gerbang di bagian depan, sedangkan wilayah sekelilingnya diberikan pagar teralis besi. Lahan parkir yang disediakan memang tidak cukup luas, namun beberapa kendaraan roda 4 masih dapat parkir di dalam kawasan.

ilustrasi

2. Asal mula nama

Menurut buku yang ditulis Meldy Muzada Elfa yang berjudul ''Sejarah Masjid Keramat Pelajau Barabai'', masjid ini didirikan pada abad ke 14 Masehi oleh pedagang-pedagang sambil berdakwah menyiarkan agama Islam.

Nama Palajau diangkat dari nama sungai yang dekat dengan kampung tersebut yaitu Palayarum. Sungai Palayarum ini dulunya merupakan satu-satunya urat nadi perhubungan yang dapat dilayari oleh para pedagang. Namun sayang, sungai itu kini telah mati.

Riwayat lain menyebutkan ada utusan Raja Demak datang ke Kalimantan lalu mendirikan masjid untuk memperluas penyebaran ajaran Islam.

Baca juga: Deretan Masjid Objek Wisata Religi di Surabaya

Dikutip dari laman Kemendikbud, asal mula penamaan Masjid Keramat Pelaju didasari oleh beberapa peristiwa seperti kedatangan Belanda yang saat itu disebut berandal melawan Gusti-Gusti dari keturunan Kerajaan Banjar dan mengakibatkan orang Belanda mengalami muntah darah di masjid tersebut.

Pada 1945, masjid ini selalu dijadikan tempat bermusyawarah dan menyusun strategi perjuangan melawan penjajah Belanda. Di Masjid ini pula pertama kali diputuskan komando perang salib. Atas dasar itulah masyarakat menamakan masjid ini dengan Masjid Keramat.

3. Program dari Kesultanan Demak

Masjid ini merupakan program dari pengembangan ajaran Islam Kesultanan Demak Bintaro yang membangun sembilan masjid. Masjid Pelajau dipercaya sebagai yang kelima dari sembilan masjid yang dibangun Kerajaan Islam Demak.

Saat itu utusan Raden Fatah bersama enam orang lainnya yang berasal dari Kerajaan Islam Demak di pulau Jawa datang ke Tanah Banjar dengan menyusuri Sungai Negara hingga sampai ke Sungai Palayarum di Desa Pelajau.

Bersama pangeran dari Kerajaan Banjar, para utusan tersebut kemudian menjalankan program dari pengembangan ajaran Islam Kerajaan Demak Bintaro yang membangun sembilan masjid. Akhirnya dibangunlah masjid kelima yaitu Masjid Keramat Pelajau tersebut.

“Jadi sesuailah jumlah masjid yang dibangun dengan jumlah wali songo” terang channel Youtube Ampah Channel dalam videonya pada 25 Oktober 2020. 

4. Tradisi Batubambang

Setiap tahun, utamanya saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, masjid ini memiliki sebuah tradisi bernama "Batumbang".

Proses batumbang adalah membawa bayi yang telah berumur sejak lahir hingga kurang lebih satu tahun ke masjid, kaum remaja mengangkat si bayi dan kemudian menjejakkan kaki si bayi tersebut ke atas tangga mimbar tempat Khatib berkhutbah.

Kemudian, setelah acara sungkeman selesai, para orang tua yang membawa bayi tersebut menebarkan beberapa koin uang receh yang langsung diperebutkan oleh anak-anak. Acara dilanjutkan shalat dan do'a yang dipimpin oleh kaum masjid yang diiringi dan diamini keluarga si Bayi dan orang-orang sekitar yang mengikuti kegiatan ini.Lalu yang terakhir adalah dengan membagikan kue apam / apem ke masing-masing pengunjung untuk dimakan bersama.

Beberapa filosofi yang dapat diambil adalah, bayi yang diajari untuk naik ke mimbar tersebut agar kelak menjadi seorang pemimpin yang arif, dan menjadi pribadi yang baik. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini