Ampo, Camilan Unik dari Tanah Liat Khas Tuban

Pipiet Wibawanto, Jurnalis · Minggu 28 Februari 2021 11:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 28 301 2369668 ampo-camilan-unik-dari-tanah-liat-khas-tuban-Ka964eWzqh.jpg Ampo khas Tuban. (Foto: Pipiet Wibawanto)

TANAH liat dijadikan sebagai panganan unik yang diburu wisatawan di Tuban, Jawa Timur. Hmm.. seperti apa rasanya?

Bagi kebanyakan orang, tanah liat dianggap sebagai gumpalan tanah yang tak berguna. Namun, di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tanah liat dari sawah dapat diolah menjadi camilan khas yang disebut ampo.

Jajanan unik dan langka itu, bisanya diburu wanita hamil yang sedang ngidam. Sekaligus digunakan untuk jamu penghilang demam serta nyeri tulang.

Tanah liat bukan sesuatu yang menjijikkan bagi Mbah Rasimah (85). Hampir setiap hari warga Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban mengumpulkan tanah liat dari sawah sekitar.

Baca Juga: Resep Sup Jagung Telur ala Hotel Bintang 5, Yuk Dicoba di Rumah

 ampo

"Bahannya tanah yang saya ambil dari sawah. ini bisa dimakan, buat camilan, dimakan untuk jamu, camilan untuk orang yang merasa tidak enak," kata Mbah Rasimah.

Bukan untuk main-main, tanah sedikit berair ini diolah Mbah Rasimah menjadi camilan yang disebut ampo. Namun tidak sembarang tanah liat digunakan bahan baku membuat ampo.

Mbah Rasimah biasanya memilih tanah liat persawahan yang bersih dari batu dan sedikit mengandung air.

Cara membuatnya cukup sederhana. Tanah liat dipadatkan terlebih dahulu, kemudian disimpan beberapa hari. Selanjutnya, gumpalan tanah liat dikikis menggunakan sebatang bambu tajam, hingga mengasilkan gulungan-gulungan tipis menyerupai astor.

Setelah dirasa cukup, gulungan tanah liat ini dipanggang menggunakan cawan di atas tunggu. Proses pemanggangan ini membutuhkan skill dan ketelatenan.

Sebab, tungku tidak boleh mengeluarkan api dan hanya dibutuhkan asap panasnya saja. Pemanggangan berlangsung sekira 15-20 menit hingga gulungan tanah liat dirasa kering. Selanjutnya, camilan tanah liat ini bisa ditiriskan.

Ampo merupakan camilan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Mbah Rasimah merupakan generasi kelima yang menerima resep dari pendahulunya.

Sebagai warisan budaya, ampo terancam punah. Mbah Rasimah merupakan satu-satunya pembuat ampo di wilayah Kabupaten Tuban.

Resep diperoleh turun-temurun dari orangtua. Namun kini cara membuat ampo telah diajarkan kepada sang anak perempuan.

"Sehari membuat 10-25 kilogram. Ini dulu dari leluhur, sekarang turun temurun ke anak saya," tambahnya.

Ampo dijual di pasar tradisional. Namun tak jarang warga yang datang langsung ke rumah meminta untuk dibuatkan. Harga ampo Mbah Rasimah cukup murah, sekira Rp10 ribu per kilogram.

"Ini tadi beli ampo, kebetulan ada teman ke Tuban minta dibelikan ampo," kata Penikmat Ampo, Arianto.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini