Rumah Ibadah Bersama Dibangun di Berlin, Satu Tempat untuk Tiga Agama

Fatha Annisa, Jurnalis · Minggu 28 Februari 2021 17:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 28 408 2369755 rumah-ibadah-bersama-dibangun-di-berlin-satu-tempat-untuk-tiga-agama-epX2bp0aRa.jpg Churmosquagogue. (Foto: Kuehnmalvezzi)

DI tengah hiruk-pikuk Kota Berlin, sebuah bangunan suci akan dibangun dengan tujuan membawa umat Kristen, Yahudi, dan Muslim ke satu tempat ibadah. Bangunan ini dinamai House of One, atau dalam bahasa sehari-hari dijuluki Churmosquagogue.

Tidak seperti bangunan suci lain, House of One merupakan gabungan dari gereja, masjid, dan sinagoga. ruang pertama di tengah gedung akan terbuka untuk orang-orang dari agama lain dan orang masyarakat perkotaan sekuler. Batu pondasi bangunan ini akan diletakkan pada 27 Mei mendatang oleh orang-orang beragama Islam, Kristen, dan Yahudi. House of One disebut-sebut akan menjadi bangunan paling bersejarah di dunia.

Melansir The Indian Express, House of One akan dibangun di situs Gereja St. Peter yang rusak dalam Perang Dunia II dan dihancurkan sepenuhnya oleh pemerintah Jerman Timur pada tahun 1964. Terdapat hampir 4.000 kerangka yang ditemukan pada fase pertama penggalian, yang berlangsung beberapa tahun. Beberapa peninggalan arkeologi dari bab sejarah ini akan dilestarikan di aula dengan langit-langit setinggi delapan meter di Churmosquagogue.

Baca Juga:  Uniknya Masjid Pintu Seribu, Ada Lorong Gelap Pengingat Mati

“Alun-alun ini, tempat kota pertama kali berdiri dan tempat gereja pertama bediri, sekarang menjadi rumah bagi masa depan. Dari fondasi gereja-gereja lama akan tumbuh tempat ibadah baru yang memungkinkan orang-orang dari agama yang berbeda untuk berdoa berdampingan,” kata Rev Gregor Hohberg, seorang menteri yang bekerja di House of One.

Baca Juga: Deretan Hotel Bintang 5 Jakarta Harganya di Bawah Rp1 Jutaan, Buruan Cek!

“Orang-orang yang datang ke sini akan teteap setia pada agama mereka sendiri, terus menarik dari kekuatannya, dan terlibat dalam dialog damai bersama anggota pupulasi sekuler kota. Rumah ini akan menjadi rumah bagi kesetaraan, perdamaian, dan rekonsiliasi,” lanjutnya.

Ide House of One muncul sebagai kelompok akar rumput dari tiga komunitas agama. Ide aslinya datang dari komunitas gereja Protestan, St. Petri-St. Marien, yang kemudian bergabung dengan komunitas Yahudi Berlin, seminari rabbi Abraham-Geiger-Kolleg, dan inisiatif Muslim untuk dialog Forum Dialog e.V.

Rabbi Tobia BenChorin, salah satu pemrakarsa proyek, mengatakan bahwa sebagai seorang Yahudi, dia menghubungkan Berlin dengan kenangan akan rasa sakit dan luka yang dalam. Tapi, itu bukanlah akhir dari cerita.

“Situs bersejarah yang memiliki kegelapan di masa lalu memiliki potensi perdamaian di masa depan. Kota ini juga menjadi tempat jalan alternatif, tempat pencerahan dan perkembangan kehidupan Yahudi. Bagi saya, Berlin adalah tentang ingatan dan kelahiran kembali,” ujar Rabbi.

Perencanaan The House of One sudah ada selama 10 tahun. Pembangunannya diperkirakan akan memakan waktu empat tahun. Biaya yang dibutuhkan, yakni €47 juta, hampir terkumpul. Pemerintah federal dan negara bagian Berlin telah menyumbang €30 juta untuk monumen tersebut dan penggalang dana telah mengumpulkan €9 juta. Sebuah kampanye diluncurkan pada Natal tahun lalu untuk mengumpulkan dana yang tersisa.

Pada 2012, sebuah kompetisi bagi arsitek dari seluruh dunia berlangsung demi menemukan rancangan paling original untuk bangunan tersebut. Seorang arsitek Berlin, Kuehn Malvezzi pun yang dinobatkan menjadi arsitek The House of One.

“Dari membangun arsitektur terbaik hingga mendirikan fondasi yang memberikan bobot sepadan antara agama dan masyarakat, pekerjaan kami telah memberikan harapan, menggerakkan, dan memenangkan hati seluruh dunia. Kami sangat bersyukur atas kepercayaan yang kami inspirasikan, yang pada akhirnya menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri kami,” kata Imam Kadir Sanci.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini