Legenda Pemandian Aek Sipaulak Hosa, Bukti Sayang Raja Kepada Istrinya

Natalia Christine, Jurnalis · Senin 01 Maret 2021 00:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 28 408 2369819 legenda-pemandian-aek-sipaulak-hosa-bukti-sayang-raja-kepada-istrinya-I9twW2Pie9.jpg Wisatawan membasahi tubuhnya di pemandian. (Foto: Instagram fatar_manik)

AEK Sipaulak Hosa merupakan salah satu tempat wisata yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi oleh wisatawan. Lokasinya berada di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Dalam bahasa Batak, Aek Aipaulak Hosa memiliki arti yaitu air pengembali napas. Air pengembali napas yang dimaksud adalah bahwa setiap orang yang meminum air ini akan merasakan kelegaan dan kesejukan.

Berdasarkan hasil penelitian UNESCO, kandungan mineral yang terdapat dalam Aek Sipaulak Hosa lebih tinggi dibandingkan dengan air minum kemasan yang dijual. Masyarakat setempat meyakini bahwa air ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang ada.

 aek

(Foto: Instagram @gregonovic_helvetia)

Baca Juga: Rumah Ibadah Bersama Dibangun di Berlin, Satu Tempat untuk Tiga Agama

Selain itu juga masyarakat yang memiliki permintaan tertentu diyakini akan terkabul, baik yang memiliki permintaan mengenai jodoh, rezeki, dan lainnya.

Awal mulanya air ini berada yaitu dari Raja Silahi Sabungan dengan sang istri Pinggan Matio yang akan pergi ke tempat mertuanya, yaitu Raja Pakpak.

Sang Raja berangkat dengan berjalan kaki bersama istrinya yang sedang mengandung. Di tengah perjalanan, istrinya merasa kehausan dan mengatakannya pada sang Raja.

Mendengar ucapan istrinya, ia merasa tidak tega. Kemudian ia menancapkan tongkat yang dibawanya ke batu sambil berdoa kepada Tuhan, dan seketika air muncul dari batu tersebut.

“Aek sipaulak hosa artinya si penyambung nafas,” dikutip Okezone dari postingan akun instagram @gregonovic_helvetia.

Kini tempat tersebut telah dikelola dengan baik dan dijadikan objek wisata sejarah bagi wisatawan. Namun, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi jika memasuki destinasi wisata tersebut, dikarenakan tempatnya dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Peraturan yang diterapkan yaitu dilarang berkata kotor atau berperilaku tidak sopan, dan bagi wanita yang sedang berhalangan tidak diperbolehkan masuk. Untuk wisatawan yang ingin memasuki destinasi ini tidak dipungut biaya. Jam operasional yang diterapkan yaitu dimulai pukul 08.30 sampai 18.30.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini