Inilah Masjid Tertua Warisan Sultan Buton, Penuh Filosofi dan Ada Lubang Rahasia

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Selasa 02 Maret 2021 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 02 408 2370740 inilah-masjid-tertua-warisan-sultan-buton-penuh-filosofi-dan-ada-lubang-rahasia-pTWBKR3zHi.jpg Masjid Agung Wolio di Buton, Sulawesi Tenggara (Foto Sindo)

MASJID Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu'min atau lebih dikenal dengan Masjid Agung Wolio berdiri kokoh di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Masjid bersejarah dan diyakini sebagai yang tertua di Sultra ini merupakan objek wisata religi.

Masjid Agung Wolio memiliki sejumlah keunikan. Ada juga terselip cerita mitos di baliknya.

Baca juga: Masjid Agung Banten, Wisata Ziarah Peninggalan Putra Sunan Gunung Jati

Berikut fakta menarik Masjid Agung Wolio Buton yang dikutip Okezone dari berbagai sumber :

1. Masjid tertua di Sulawesi Tenggara.

Masjid ini dibangun pada 1712 oleh Sultan Sakiuddin Durul Alam Kesultanan Buton, dipercaya sebagai masjid tertua yang masih berdiri di Sulawesi Tenggara.

Sebenarnya ada masjid lain yang lebih tua dibangun pada masa Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis (1427-1473), tapi semuanya sudah terbakar dalam perang saudara.

Saat Sultan Sakiuddin Darul Alam berkuasa, ia membangun Masjid Agung Wolio untuk mengganti masjid yang terbakar. 

Masjid ini memiliki 12 pintu masuk yang salah satu diantaranya berfungsi sebagai pintu utama. Di sebelah timur masjid, tepatnya di bagian depan masjid terdapat serambi terbuka.

Di dalam masjid terdapat sebuah mihrab dan mimbar yang terbuat dari batu bata dan terletak secara berdampingan. Di bagian atasnya terdapat hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tumbuhan yang mirip dengan ukiran Arab.

2. Filosofi Masjid

Masjid ini uniknya tidak memiliki menara, namun, terdapat sebuah tiang bendera yang ujungnya lebih tinggi dibanding puncak masjid. Tiang itu berdiri di sisi bangunan sebelah utara masjid. Didirikan tak lama setelah masjid dibangun, tiang ini konon dulunya berfungsi sebagai tempat eksekusi jika melanggar syariat Islam.

Kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang beras dari Pattani, Siam. Dahulu setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang tersebut.

ilustrasi

Dilansir dari simas.kemenag.go.id, masjid unik ini dibangun dengan kayu berjumlah 313 potong sesuai dengan jumlah tulang pada manusia. Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat dalam sehari.

Baca juga: Fakta-Fakta Menarik Masjid Keramat di Kalimantan yang Kental Arsitektur Jawa

Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah.

Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

Di depan pintu utama di antara dua selasar terdapat sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer dan telah ditempatkan di situ sebagai penampungan air untuk berwudu.

3. Berdiri di Pusat Bumi

Masyarakat setempat percaya Masjid ini dibangun di atas pusena tanah (pusatnya bumi). Hal ini karena terdapat pintu gua di bawah tanah yang berada tepat di belakang mihrab. 

“Dahulu kala saat perang panjang terjadi di Buton, tiba-tiba terdengar suara Bedug dan Adzan dari sebuah lubang, padahal pada saat itu tak ada masjid yang berdiri di sekitar situ. Masyarakat percaya bahwa suara tersebut berasal dari Makkah,” seperti dikutip dari video di channel Youtube Mata Mata Seleb.

Namun cerita itu dibantah Imam Masjid Agung Wolio, La Ode Ikhwan. Lubang di masjid itu sebenarnya dulu adalah pintu rahasia untuk menyelamatkan Sultan Buton jika diserang musuh.

Di dalam lubang ada lima jalan rahasia ke sejumlah tempat di kompleks benteng. Salah satu jalan rahasia itu ada yang tembus ke selatan benteng.

Ketika masjid ini direhabilitasi pertama pada masa Sultan Muhammad Hamidi pada 1930-an, pintu gua ditutup semen sehingga liangnya menjadi kecil dan sebesar bola kaki.

Agar tak menimbulkan persepsi lain dari masyarakat, lubang ditutup dan di atasnya dibuat tempat imam memimpin salat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini