Masjid Kuno Bayan Beleq, Tonggak Sejarah Islam di Tanah Lombok

Fatha Annisa, Jurnalis · Rabu 03 Maret 2021 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 408 2371613 masjid-kuno-bayan-beleq-tonggak-sejarah-islam-di-tanah-lombok-B6J9XpSLbI.JPG Masjid Kuno Bayan Beleq di Lombok Utara, NTB (Foto: Instagram/@petitadventure)

LOMBOK dikenal dengan julukan pulau seribu masjid. Salah satu masjid paling masyhur di sana ialah Masjid Kuno Bayan Beleq. Masjid tersebut merupakan masjid tertua di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Lokasi tepatnya berada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi NTB. Masjid ini menjadi bukti bahwa Lombok bukan hanya kaya akan budaya saja, namun juga situs sejarah.

Masjid Kuno Bayan Beleq ialah peninggalan terbesar yang menjadi saksi bisu penyebaran Islam di Pulau Lombok, khususnya Bayan. Bangunan ini menjadi situs cagar budaya yang dilindungi dan dipelihara oleh pemerintah serta warga setempat. Bangunan ini menggambarkan peradaban masyarakat Lombok Utara yang dibangun berdasarkan kesadaran kosmos, kesadaran sejarah, kesadaran adat dan kesadaran spiritual.

Belum ada penjelasan pasti kapan Masjid Kuno Bayan Beleq dibangun. Namun beberapa sumber mengatakan awal keberadaan masjid tersebut dapat dilihat dari masuknya agama Islam di Pulau Lombok, yaitu pada awal abad ke-16. Ajaran Islam di Lombok diyakini dibawa dari Pulau Jawa, terbukti dari kitab fiqih, suluk, dan lontar yang menjadi pedoman mereka.

Baca juga: Masjid Agung Banten, Wisata Ziarah Peninggalan Putra Sunan Gunung Jati

Melansir laman resmi Kemdikbud, Sunan Pengging, pengikut Sunan Kalijaga, datang ke Lombok pada tahun 1640 untuk menyiarkan agama Islam. Ia menikah dengan putri kerajaan Parwa yang kemudian menimbulkan kekecewaan Raja Goa.

Selanjutnya Raja Goa menduduki Lombok pada tahun 1640. Sunan Pengging yang terkenal dengan nama Pangeran Mangkubumi lari ke Bayan. Di desa itulah ia mengembangkan ajarannya, yang kelak menjadi pusat kekuatan suatu aliran yang disebut 'Waktu Telu'.

Masjid Bayan Beleq

(Foto: Instagram/@hari.srg)

Sejatinya aliran 'Waktu Telu' sudah tidak ada lagi di Bayan. Namun sebagian warga lokal masih melakukan upacara-upacara peninggalan aliran tersebut, seperti upacara sedekah urip, ritual minta hujan dan lainnya. Berikut hal menarik tentang Masjid Kuno Bayan Beleq.

Arsitektur bangunan

Masjid yang juga menjadi ikon pariwisata di Lombok ini berukuran 9x9 meter persegi. Dindingnya rendah dan terbuat dari anyaman bambu. Tak seperti masjid pada umumnya yang memiliki kubah, atap Masjid Kuno Bayan Beleq berbentuk tumpang yang tersusun rapi dari bilah bambu atau dikenal dengan Bahasa Dayan Gunung yaitu atap santek. Sementara itu, lantai tanah masjid merupakan susunan batu kali.

Konstruksi masjid ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni kepala, badan dan kaki. Ketiganya memiliki filosofi tersendiri. Bagian kepala menggambarkan dunia atas, bagian badan menggambarakan dunia tengah, dan bagian kaki menggambarkan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara.

Masjid yang lebih terlihat seperti rumah tradisional masyarakat Bayan ini memiliki denah berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi 8,90 meter. Ada 4 soko guru atau tiang utama yang menopang bangunan, yang terbuat dari kayu nangka. Tiang tersebut berbentuk silinder dengan diameter 23 centimeter dan tinggi 4,60 meter.

Masjid Bayan Beleq

(Foto: Instagram/@rulioktavian)

Baca juga: Uniknya Masjid Pintu Seribu, Ada Lorong Gelap Pengingat Mati

Uniknya, keempat tiang itu berasal dari empat desa berbeda, yakni Desa Bilok Petung Lombok Timur untuk tiang di sebelah tenggara, Desa Terengan untuk tiang sebelah timur laut, Desa Senaru untuk tiang sebelah barat laut, dan Dusun Semokon, Desa Sukadana untuk tiang sebelah barat daya.

Fungsi setiap tiang pun berbeda tiang sebelah Tenggara difungsikan untuk khatib, tiang di sebelah Timur Laut untuk Lebai, tiang di sebelah Barat Laut untuk Mangku Bayan Timur, sedangkan tiang sebelah Barat Daya untuk Penghulu. Selain itu tiang-tiang ini juga berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding yang terbuat dari bambu yang dibelah dengan cara ditumbuk, disebut pagar rancak.

Pakaian khusus

Pakaian yang dikenakan para kiai dan imam masjid memiliki arti tersendiri. Contohnya, warna putih hanya digunakan para kiai sebagai lambing kesucian.

Sedangkan kain panjang atau dodot berwarna merah memberi arti jiwa kepemimpinan. Pakaian tersebut dilengkapi lagi dengan ikat keapala bernama sapuq atau bongot. Celana dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan. Orang-orang yang boleh masuk adalah keturunan dari para penghulu atau kiai yang menyebarkan agama Islam terdahulu.

Agak berbeda dengan pakaian yang harus perempuan kenakan saat memasuki area masjid, perempuan yang ingin masuk ke Masjid Kuno Bayan Beleq cukup menggunakan kemben atau kain yang hanya sebatas dada. Peraturan itu dibuat untuk mengurangi kemungkinan mereka masuk dalam keadaan tidak bersih karena pakaian yang mereka gunakan sebelumnya secara tidak sadar sudah terkena kotoran atau najis.

Masjid Bayan Beleq

(Foto: Instagram/@zulhelmiml)

Makam di area masjid

Ada beberapa makam mengelilingi bangunan masjid. Makam-makam tersebut merupakan makam para kiai yang membawa Islam dan menyebarluaskannya di Lombok pada zaman dahulu. Nama yang tercatat pada makam tersebut antara lain, Pawelangan, Anyar, Titi Mas Puluh, Sesait dan Karem Saleh. Makam mereka berbentuk seperti rumah dengan dinding anyaman dari bambu.

Ada pula makam milik Syekh Abdul Razak, seorang ulama yang menyiarkan agama Islam sampai ke belahan negara lain di abad ke-16 hingga 17 Masehi. Berbeda dengan yang lain, makam ini berada di bagian dalam masjid bersama dengan sebuah bedug dari kayu yang digantung di tiang atap masjid.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini