Melancong ke China Kini Harus Tes Swab Anal untuk Deteksi COVID-19

Antara, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 01:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 07 406 2373832 melancong-ke-china-kini-harus-tes-swab-anal-untuk-deteksi-covid-19-zW79qckO0c.jpg Pemudik memadati pusat transportasi terpadu di Dongzhimen, Beijing, China awal 2021 (Antara)

WISATAWAN yang akan berkunjung ke beberapa kota di China akan diminta untuk melakukan tes swab atau usap anal untuk mendeteksi COVID-19, walau ini memicu protes dari negara lain.

Beberapa dokter China mengatakan tes dilakukan untuk menangkap pembawa virus corona yang mungkin tidak menunjukkan gejala atau yang mengembangkan gejala ringan tetapi pulih dengan cepat.

Baca juga: Unik, Area Stasiun MRT di China Ini Disulap Jadi Taman Hijau

Menurut mereka, virus corona dapat dideteksi dalam tinja lebih lama daripada di hidung dan tenggorokan.

"Beberapa pasien tanpa gejala atau mereka dengan gejala ringan pulih dengan cepat dari COVID-19, dan mungkin tes tenggorokan tidak akan efektif untuk orang-orang ini," kata dokter penyakit menular di China, Li Tongzeng kepada CNN.

Menurut dia, para peneliti mengungkapkan pada beberapa orang yang terinfeksi, durasi waktu hasil nukleat positif bertahan lebih lama pada tinja dan tes usap anal mereka dibandingkan pada saluran pernapasan bagian atas.

"Oleh karena itu, menambahkan tes usap anal dapat meningkatkan tingkat deteksi positif dari yang terinfeksi," kata dia.

 

Beberapa warga negara China juga diharuskan melakukan tes usap ini. Pada Januari lalu, lebih dari 1.000 siswa dan guru di sebuah distrik sekolah di Beijing dites baik itu di anal maupun hidung.

Baca juga:  Kafe Tertua di Dunia Terancam Tutup Permanen Setelah 300 Tahun Beroperasi

Pemberlakuan tes pada akhirnya memicu protes. Pejabat di Jepang pada pekan ini seperti dikutip dari Livescience, Minggu, mengeluh karena warga negaranya yang tiba di China dan menjalani tes mengalami sakit psikologis yang hebat.

Keluhan juga datang dari beberapa diplomat Amerika Serikat yang diminta untuk mengikuti tes.

Di China sendiri, tes juga menimbulkan keluhan. Wakil direktur departemen biologi patogen di Universitas Wuhan, Yang Zhanqiu, mengatakan tes hidung dan tenggorokan masih lebih efektif daripada tes anal, karena virus diketahui menyebar melalui tetesan pernapasan bukan melalui feses.

Dia mengatakan, apabila tujuan tes ini untuk mencegah orang yang terinfeksi menyebarkan virus, maka argumennya berlanjut menjadi tes hidung tenggorokan akan bekerja paling baik.

"Ada kasus tentang tes virus corona positif pada kotoran pasien, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang," kata Yang.

Para ahli kesehatan di luar China juga mempertanyakan praktik tes usap anal. Menurut mereka, ini karena mereka yang positif COVID-19 pada tes anal tetapi tidak pada tes hidung atau tenggorokan kemungkinan tidak akan menulari orang lain, menurut The New York Times.

"Apabila seseorang terkena infeksi tetapi tidak menular ke orang lain, kami tidak perlu mendeteksi orang itu," tutur profesor kesehatan masyarakat di University of Hong Kong, Benjamin Cowling kepada Times.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini