Kerang Raksasa Senilai Rp47 Miliar Disita Marinir, Beratnya 80 Ton

Fatha Annisa, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 406 2374183 kerang-raksasa-senilai-rp47-miliar-disita-marinir-beratnya-80-ton-OO5fP3togW.jpg Kerang raksasa. (Foto: AFP/Handout/Channelnewsasia)

PIHAK berwenang Filipina telah menyita cangkang kerang raksasa yang dipanen secara ilegal senilai USD3,3 juta atau setara Rp47 Miliar.

Dilansir Okezone dari Channel News Asia, sebanyak 80 ton kerang ditemukan di sebuah desa pada pulau terpencil di kepulauan barat Palawan. Penemuan ini terjadi ketika sebuah operasi kerang terbesar di Filipina dilakukan.

Filipina adalah rumah bagi sebagian besar spesies kerang tropis raksasa di dunia, yang dianggap terancam di negara tersebut, karena lonjakan perburuan. Ahli konservasi mengatakan, cangkang kerang digunakan sebagai bahan alternatif untuk produk mulai dari anting hingga lampu gantung.

Hal ini dikarenakan gading gajah yang biasa digunakan juga semakin langka keberadaanya.

Baca Juga: 4 Hotel di Kelapa Gading Jakarta, Harganya Rp300 Ribuan Aja

Pasukan marinir, penjaga pantai dan pejabat konservasi lokal menggerebek rumah-rumah penduduk setempat di Pulau Johnson pada Rabu lalu. Mereka menemukan lebih dari 300 cangkang kerang dengan nilai sekira Rp47 Miliar di pasar gelap.

Di antara mereka adalah Tridacna gigas, kerang terbesar di dunia, yang dapat menumbuhkan cangkang hingga sepanjang 1,4 meter. Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam menganggap Tridacna gigas sebagai spesies yang rentan.

Kepala desa pulau itu akan didakwa melakukan perburuan, karena melindungi pengumpulan ilegal, kata Jovic Fabello, juru bicara dewan konservasi pemerintah Palawan.

"Ini merupakan tangkapan terbesar kami sejauh ini," katanya.

Seorang juru bicara penjaga pantai mengatakan kepada AFP, penduduk setempat kemungkinan membutuhkan waktu antara enam bulan sampai satu tahun untuk mengumpulkan tumpukan seberat 80 ton itu.

Palawan dianggap sebagai perbatasan terakhir dari keanekaragaman hayati Filipina yang kaya, tetapi juga merupakan hotspot untuk perdagangan satwa liar ilegal. Beberapa satwa liar yang diburu dan dijual secara ilegal adalah trenggiling, penyu laut, dan burung liar.

Kerang raksasa merupakan komponen ekologi penting dari terumbu karang, yang merupakan tempat pembibitan banyak spesies ikan yang kelak menjadi konsumsi manusia. Undang-undang perikanan Filipina melarang pengumpulan kerang tersebut, dengan hukuman penjara hingga delapan tahun dan denda hingga 3 juta peso atau Rp884,3 juta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini