Kesunyian Desa Mati Berastepu, Korban Gunung Sinabung

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 21:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 408 2374243 kesunyian-desa-mati-berastepu-korban-gunung-sinabung-dCilnlF449.jpg Desa mati di Sinabung. (Foto: YouTube Wira Gin's)

DEKAT Gunung Sinabung, ada sebuah desa yang ditinggal warganya akibat musibah gunung meletus. Namanya Berastepu, yang kini menjadi desa mati.

Berastepu merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Desa yang terletak di kaki gunung Sinabung ini memang sudah lama ditinggal oleh penduduknya dari tahun 2013, akibat dari bencana letusan gunung berapi Sinabung yang dulunya terjadi.

Berastepu merupakan salah satu desa dari 18 desa yang sudah dikosongkan warga selama erupsi Gunung Sinabung. Tiga di antaranya bahkan telah hilang terkubur lahar Sinabung.

 Desa mati

Dilansir dari channel Youtube Wira Gin’s, suasana sepi sangat terasa saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Berastepu. Rumput-rumput ilalang tumbuh bebas hampir menutupi rumah-rumah penduduk.

Sesekali terdengar suara burung menambah kesan mistis yang terasa di desa ini. Sekira 200-an rumah warga beserta isinya kian rusak dan tidak terawat bahkan ada yang roboh, setelah ditinggalkan pemiliknya bertahun-tahun.

“Saya merasa agak ngeri-ngeri dikit ya ketika datang ke sini hanya sendirian. Soalnya udah nggak ada orang lagi,” ungkap pemilik channel Youtube Wira Gin’s di videonya pada 27 Desember 2020.

Warga yang meninggalkan desa ini beberapa tersebar ke seluruh wilayah di Kabupaten Karo. Namun paling banyak adalah di daerah Siosar, Sumatera Utara.

Saat berkeliling, Wira Gin’s menemukan sebuah rumah yang sudah terbengkalai. Rumah itu sudah hancur, tidak berpintu dan dipenuhi oleh ranting pohon. Sedangkan dalam rumah berisi banyak pakaian yang berhamburan. Kemungkinan besar pakaian tersebut adalah milik sang pemilik rumah.

Begitu pula Balai Desa Berastepu yang terletak di pusat desa ini. Kini Balai Desa tersebut sudah hancur, hanya tiang-tiang saja yang tersisa dan atap rumahnya pun sudah berlubang. Jalan untuk menuju ke Balai Desa ini juga sudah tertutupi oleh rumput liar.

Saat Wira Gin’s ingin mengakhiri videonya, ia bertemu dengan bapak-bapak asli penduduk Berastepu. Saat itu mereka berkunjung karena ingin membersihkan tempat leluhur mereka. Tempat leluhur itu berupa rumah adat yang memiliki ukuran yang cukup besar. Uniknya, atap dari rumah tersebut berbahan dasar ijuk dan terletak kepala hewan di atasnya. Menurut bapak tersebut, rumah adat ini sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu.

“Ini dari Bulang (kakek) saya juga dahulu sering membersihkan tempat ini. Waktu kecil, kami sering bermain-main di seputaran sini,” kata bapak tersebut.

Yang menarik dari rumah ini adalah 13 batu yang terletak di satu lokasi namun berdiri secara acak di dalam rumah. Konon katanya 13 batu ini memiliki kekuatannya masing-masing dan batu yang paling tengah adalah batu yang paling kuat.

Menurutnya, batu itu sangat berguna bagi masyarakat desa Berastepu ketika sedang mengalami krisis air. Air hujan akan dipanggil oleh beberapa orang pilihan yang ada di desa dengan cara memandikan ke 13 batu tersebut. Orang pilihan itu disebut Gurumbelin (paranormal) oleh masyarakat sekitar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini