Fakta-Fakta Unik Masjid Tertua di Maluku, Saksi Bisu Penyebaran Islam

Fatha Annisa, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 408 2374244 fakta-fakta-unik-masjid-tertua-di-maluku-saksi-bisu-penyebaran-islam-r5GQ0bX1xb.jpg Masjid Wapauwe di Desa Keitetu, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah (Antara Ambon)

MASJID Wapauwe masih berdiri kokoh di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Dibangun sejak 1414 Masehi, masjid ini jadi saksi bisu penyebaran Islam di Indonesia bagian timur. Selain sebagai rumah ibadah, masjid tua bersejarah ini jadi objek wisata religi atau ziarah.

Masjid Wapauwe dulu bernama Masjid Jamilu yang merupakan salah seorang pembawa Islam di Maluku. Namun, ada riwayat menyebutkan bahwa sebelum Jamilu dan Kiai Pati tiba di sana, masyarakat setempat sudah memeluk Islam yang didakwahkan oleh seorang ulama dari jazirah Arab.

Baca juga: Masjid Agung Banten, Wisata Ziarah Peninggalan Putra Sunan Gunung Jati

Masjid ini mulanya dibangun oleh Kesultanan Jailolo di Desa Wawane dan diberi nama Masjid Jamilu. Kemudian mengalami dua kali perpindahan karena berbagai alasan.

Berikut fakta-fakta menarik tentang masjid tertua di Maluku ini:

Pernah Berpindah Tempat

Pada 1614, bangunan Masjid Wapauwe pernah dipindahkan ke Desa Tahella, sekitar 6 kilometer sebelah timur Desa Wawane. Pemindahan ini tidak mengubah struktur maupun gaya asli bangunan sama sekali. Pemindahan lokasi Masjid Wapauwe merupakan perintah dari pemuka agama setempat yang bernama Imam Rajali. Pemindahan tersebut beralasan agar lokasi masjid dekat dengan pusat penyebaran Islam di Desa Tahella.

Alasan lain yang mendasari pemindahan masjid adalah kedatangan Belanda di tanah Maluku pada tahun 1580, setelah sebelumnya Portugis juga hadir pada tahun 1512.

ilustrasi

Masjid Wapauwe (Instagram @kataomed)

Belanda sering kali mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam. Warga menjadi merasa tidak aman, dan masjid pun dipindahkan. Setelahnya, masjid berganti nama menjadi Masjid Imam Rajali.

Saat Belanda berhasil menguasai seluruh tanah Tahitu pada 1646, sebuah kebijakan dibuat untuk menurunkan seluruh penduduk daerah pegunungan ke daerah pesisir.

Baca juga: Alquran Ini Hasil Sulaman Tangan Selama 32 Tahun, Habiskan 25.000 Benang

Sebagai konsekuensi kebijakan politik dan ekonomi tersebut, masjid kembali dipindahkan lagi ke Desa Ateu, yang kini dikenal dengan nama Kaitetu.

Asal-Usul Nama Wapauwe

Desa Ateu atau Kaitetu merupakan lokasi terakhir pemindahan masjid. Di kawasan tersebut banyak ditumbuhi pohon mangga hutan atau mangga berabu. Dalam Bahasa Kaitetu, mangga itu disebut Wapa. Sementara Wapauwe berarti masjid yang didirikan di bawah pohon Wapa.

Arsitektur Masjid Wapauwe

Selain menyimpan warisan budaya religi masyarakat Maluku, Masjid Wapauwe juga memiliki konstruksi bangunan yang unik. Meski sudah berkali-kali dipindahkan dan direnovasi, arsitektur bangunan tidak berubah sama sekali. 

Hal ini karena Masjid Wapauwe memanfaatkan prinsip arsitektur tradisional Indonesia di mana bagian bangunannya merupakan elemen yang mudah dilepas dan dirakit kembali.

Keunikan lainnya adalah Masjid Wapauwe tidak dibangung menggunakan paku. Bangunan ini menggunakan pasak kayu pada setiap sambungannya.

Tembok masjid menggunakan pelepah sagu yang disebut gaba-gaba dengan setengah bagian tembok bercampur kapur. Puncak Menara masjid terbuat dari kayu berbentuk silindris.

Mengutip dari Kemendikbud, bagian dalam Masjid terdapat 4 pilar yang merupakan pilar asli sejak Masjid ini dibangun. Bedug yang berumur sama dengan Masjid juga masih terawat dengan baik dan masih digunakan untuk menandakan waktu sholat atau kegiatan lainnya.

Bedug tersebut terbuat dari kayu Linggua dan memiliki panjang 2 meter dengan ukiran tipis pada belakangnya dengan kulit rusa sebagai bahan dasar pembuat kulit bedugnya. Semula panjangnya 3 meter, namun pada Belanda menginstruksikan untuk menguranginya menjadi 2 meter karena gaunnya menggetarkan benteng yang jaraknya 200 meter dari Masjid tersebut.

Pusaka Masjid Wapauwe

Di dalam masjid Wapauwe terdapat mushaf Al-Qur’an, yaitu mushaf Imam Muhammad Arikulapessy atau imam pertama Masjid Wapauwe yang selesai ditulis tangan pada tahun 1550 tanpa iluminasi. Mushaf tersebut diyakini merupakan merupakan salah satu mushaf tertua di Indonesia.

ilustrasi

Ada pula Al-Qur’an karya Mushaf Nur Cahya. Naskah ini dibuat dengan tulisan tangan di atas kertas berkualitas tinggi pada tahun 1590-an, juga tanpa iluminasi.

Selain itu, karya Nur Cahya lain yang ada di Masjid Wapauwe adalah Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.

Benda-benda tersebut hingga kini masih berkondisi baik karena telah menjadi bagian pusaka Masjid Wapauwe yang dijaga dan dirawat oleh keturunan penjaga Masjid yang bermarga Hatuwe.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini