Viral Desa Mati di Kuningan, Begini Pengakuan sang Kuncen

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Selasa 09 Maret 2021 21:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 09 408 2375143 viral-desa-mati-di-kuningan-begini-pengakuan-sang-kuncen-BCik6kQB2v.jpg Suasana Desa Cimeong penuh semak belukar. (Foto: YouTube wekajournal)

ADA satu desa mati yang menjadi destinasi wisata horor di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Namanya Desa Cimeong yang menyimpan kisah suram.

Dusun Cimeong yang berada di Desa Cilayung, Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat mendadak viral di media sosial. Hal ini karena dusun ini kosong bak desa mati.

Desa ini kosong karena ditinggal oleh penghuninya sejak 2016 akibat bencana berupa pergeseran tanah cukup parah. Selain berada di daerah pegunungan yang jalannya menanjak, akses jalan menuju kampung ini sudah rusak parah, karena telah ditumbuhi oleh semak yang tinggi dan pohon yang lebat sehingga menyulitkan siapapun untuk menjelajahi kampung.

Baca Juga: Kesunyian Desa Mati Berastepu, Korban Gunung Sinabung

Rumah-rumah yang ada di Dusun Cimeong tampak sudah rusak dan terbengkalai. Dilihat dari temboknya yang sudah mengelupas dan atapnya yang sudah menghilang. Berdasarkan penelusuran Okezone, dulunya kampung ini sebagian besar dihuni warga dengan aktivitas sehari-sehari sebagai petani.

Karena relokasi, warga pun berpindah ke Dusun Mekarsari Desa Cilayung dan sudah mendapatkan rumah di sana. Meski seluruh warga sudah pindah, namun masih ada satu warga yang tersisa di dusun ini.

Orang tersebut merupakan Lurah Dusun Cimeong bernama Edi. Abah Lurah Edi merupakan orang yang berpengaruh di desanya.

Ia menjadi seseorang yang cukup dihormati oleh warga desa ketika itu. Ia tinggal sendirian di dusun itu tanpa istri dan anaknya, karena mereka sudah pindah.

Namun mereka masih sering mengirimi makanan dan istrinya datang menjenguknya setiap seminggu sekali. Alasan Abah Edi menetap adalah karena menjaga dan menggarap sawah miliknya dan jarak sawah tersebut lebih dekat apabila dibandingkan dengan kampung relokasi yang jaraknya cukup jauh.

Faktor usia dan riwayat penyakit maag dan jantung membuat Abah Edi tidak bisa berjalan jauh.

“Jadi biasanya (saya) tani sesudah jam 8 sholat sunnah Dhuha, sesudah jam 2 pulang lagi untuk melaksanakan shalat Duhur,” ungkap Abah Edi menjelaskan kegiatan sehari-harinya yang dilansir dari channel Youtube Dicky Reva.

Kondisi rumah Abah Lurah Edi jika malam hari gelap gulita karena listrik sudah dicopot dari dusun tersebut. Untuk penerangannya, Abah Lurah Edi biasanya menggunakan senter.

“Ya gelap karena memang sudah tidak ada apa-apa,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini