Wisata Candi Singosari, Legenda Ikatan Cinta Ken Arok dan Ken Dedes

Elvina Maharani Putri, Jurnalis · Rabu 10 Maret 2021 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 09 408 2375149 wisata-candi-singosari-legenda-ikatan-cinta-ken-arok-dan-ken-dedes-BCL89mP6cG.jpg Wisata Candi Singosari. (Foto: Instagram riantama17/mandalaadji))

WISATA Candi Singosari menjadi simbol untuk menghormati keagungan Raja Kertanegara yang gugur dalam pemberontakan yang dilakukan Jayakatwang. Sisa-sisa di masa lampau masih bisa ditemui keberadaannya hingga saat ini di Jalan Tunggul Ametung No.4, Candirenggo, Kecamatan Singosari, Malang, Jawa Timur.

Wisata Candi Singosari memiliki bangunan menyerupai bentuk limas, batu andesit disusun dari bawah ke atas kemudian dipahat bagian atas agar lebih kecil ketimbang bagian bawah candi. Mulai dari, kaki candi, pondasi atau batur, tubuh candi, hingga atap kegunaannya berbeda-beda serta makna tersendiri juga dimiliki oleh bagian-bagian tersebut.

Pada bagian Batur, berfungsi sebagai pondasi yang menjadi tonggak berdirinya Candi Singosari. Ruangan berlekuk di kaki candi yang ada terdapat arca Resi Agastya dipercaya sebagai penyebar agama hindu dari India ke tanah Jawa.

Baca Juga: Uniknya Wisata Candi Sukuh, Ada Arca Erotis Simbol Seks

candi

Sementara itu, tubuh Candi Singosari sengaja dikosongkan sebagai menghormati roh-roh suci di Candi Singosari. Sedangkan pada bagian puncak candi ini disediakan persemayaman para dewa dan dewi yang dianut oleh agama Hindu-Budha.

Sebagian besar relief yang terukir pada Candi Singosari berbentuk bunga dan binatang. Salah satu relief binatang berbentuk singa dengan pahatan saling bertolak pandang. Ada juga burung jaringan, yaitu burung yang dipercaya hidup pada saat candi ini dibangun.

Tak lupa, pahatan wajah-wajah seram yang disebut Muka Kala atau Kirti Murka ikut menghiasi Candi Singosari. Pahatan ini digunakan sebagai pengusir roh-roh jahat yang akan datang membawa bencana terhadap Candi Singosari.

Bangunan Candi Singosari terdapat di tengah halaman dengan dibantu berdiri di atas batur kaki atau pondasi setinggi 1,5 meter. Pintu masuk ke ruang tengah menghadap ke arah selatan terlihat begitu sederhana tanpa bingkai berhiaskan pahatan, diduga kuat bahwa pembangunan Candi Singasari belum sepenuhnya terselesaikan.

Di bagian dalam Candi Singosari terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk menempatkan sebuah arca Lingga dan Yoni. Sedangkan pada tiap sisinya terdapat arca Resi Agastya di sisi selatan, arca Durga di sisi sebelah utara dan arca Ganesha di sebelah timur. Sayangnya, arca-arca yang tersisa hanya arca Resi Agastya, sedangkan yang lain sudah tidak ada.

Bangunan Candi Singosari ini berada di lahan yang berukuran 200 x 400 meter. Dalam kompleks candi ini, ada beberapa beberapa candi lainnya. Misalnya dua candi yang sengaja dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara, yakni Candi Singasari dan Candi Jawi yang juga merupakan Candi Siwa. Hal tersebut tampak dari adanya beberapa arca Siwa di halaman candi.

Di dalam kompleks percandian ini ada juga sepasang arca raksasa Dwarapala yang tingginya mencapai empat meter. Uniknya, arca raksasa tersebut membawa gada menghadap ke bawah. Berartikan, walaupun penjaganya raksasa, namun mereka menyambut dengan rasa belas kasih.

Kokohnya bangunan Candi Singosari menjadi saksi bisu kejayaan kerajaan yang didirikan Ken Arok. Candi ini juga merupakan perpaduan unsur agama Budha dan Hindu, yang telah menjadi pelindung budaya dan membuat dua agama itu menyebar luas.

Masih belum diketahui sampai saat ini kapan tepat didirikannya Candi Singosari. Namun diperkirakan candi ini dibangun pada 1.300 Masehi, menurut para ahli purbakala.

Kerajaan Singosari ini juga telah menyebar legenda tentang sejarah keris buatan Mpu Gandring, yang terkenal di kalangan masyarakat di Jawa Timur. Menurut legenda, wanita Desa Panawijen bernama Ken Endog dengan Batara Brahma memiliki anak hasil hubungan gelap yaitu Ken Arok.

Setelah lahir, tak lama Ken Arok dibuang oleh ibunya di sebuah pemakaman. Kemudian ditemukan dan dibawa pulang oleh seorang pencuri ulung.

Saat tumbuh dewasa, ia belajar tentang siasat dan taktik pencuri, perjudian dan perampokan dari sang ayah angkatnya. Hal itu membuat dirinya sangat ditakuti di wilayah Tumapel.

Cerita lain, Ken Arok juga berkenalan dengan seorang Brahmana bernama Lohgawe, yang menasihatinya agar meninggalkan dunianya yang hitam. Atas dorongan Lohgawe, Ken Arok berhenti menjadi perampok lalu mengabdikan diri sebagai prajurit Tumapel.

Pada masa itu, Tunggul Ametung yang menjadi akuwu di Tumapel, wilayah Kerajaan Kediri. Sang Akuwu memperistri Ken Dedes, putri Mpu Purwa yang tinggal di Panawijen. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra bernama Anusapati.

Pada suatu hari, Ken Dedes pulang ke Panawijen untuk menjenguk ayahnya. Ketika Ken Dedes turun dari kereta kerajaan, bertiuplah angin kencang yang menyingkap bagian bawah kain panjangnya.

Lalu, Ken Arok yang bertugas mengawal kereta Ken Dedes sempat melihat sekilas betis istri Tunggul Ametung tersebut. Di mata Ken Arok, betis Ken Dedes memancarkan sinar yang silau.

Pemandangan tersebut tak mau hilang dari benak Ken Arok. la lalu menanyakan hal itu kepada Mpu Purwa.

Sang Mpu menjelaskan bahwa sinar yang dilihat Ken Arok merupakan pertanda bahwa Ken Dedes ditakdirkan sebagai wanita yang akan menurunkan raja-raja di Pulau Jawa.

Kutukan Mpu Gandring mulai berlaku, Ken Arok dibunuh dan digantikan kedudukannya oleh Anusapati, Tohjaya, hingga Ranggawuni, anak Anusapati yang dinobatkan sebagai raja dengan gelar Jayawisnuwardhana. Lalu memerintah Singasari mulai pada 1227 hingga 1268.

Kemudian Jayawisnuwardhana digantikan oleh putranya, Joko Dolog yang bergelar Kertanegara pada tahun 1268 hingga 1292.

Kertanegara adalah Raja Singasari yang terakhir. Pemerintahannya ditumbangkan oleh Raja Kediri, Jayakatwang. Namun Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh menantu Kertanegara yang bernama Raden Wijaya.

Raden Wijaya yang merupakan keturunan Mahisa Wongateleng dan Raja Udayana di Bali mendirikan kerajaan Majapahit, dengan pusat pemerintahan di Trowulan.

"Candi di sini merupakan kebangaan warisan sejarah masa lalu tak ternilai harganya, sehingga pantas untuk dikunjungi saat berkunjung ke daerah Malang," dikutip Okezone dari channel YouTube JinggLang Channel.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini