Hampir Kena Rudal, Pilot Syahreza Selamat dari Maut saat Terbangkan Pesawat

Fatha Annisa, Jurnalis · Jum'at 19 Maret 2021 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 18 406 2380230 hampir-kena-rudal-pilot-syahreza-selamat-dari-maut-saat-terbangkan-pesawat-jCrtb8Qmt1.jpg Kapten Vincent Raditya dan Kapten Syahreza berbagi pengalaman kepada netizen. (Foto: YouTube)

KAPTEN Syahreza, seorang pilot legendaris yang mempunyai delapan lisensi dan pernah bergabung dengan 10 maskapai dunia, menceritakan pengalaman paling ekstrem sekaligus tak terlupakannya selama berkarier menjadi pilot. Seperti apa kisahnya?

Diceritakannya, Kapten Syahreza sempat bekerja di salah satu daerah konflik yang sedang terjadi peperangan. Ia ditugaskan untuk mengantar tentara dari satu negara ke negara lainnya.

Pesawat yang dikendalikannya harus terbang di bawah ketinggian 30.000 kaki guna menghindari rudal.

“Di situ kita harus terbang di bawah flight level 30.000. Kenapa? Biasanya kita terbang tinggi, kan? Karena kalau terbang di atas itu, itu adalah jalurnya rudal. Rudal itu diserang dari selatan ke utara, jadi kita terbang di bawahnya jalur rudal,” ungkap Kapten Syahreza pada video yang diunggah dalam saluran YouTube Vincent Raditya.

Baca Juga: Pramugari Anisa Fajar Pamer Bikini di Kolam Renang, Duh Cantiknya!

Pilot senior itu pernah bertugas saat perang antara dua negara terjadi. Lalu tepat di bawah pesawat Airbus 320 yang dibawanya terdapat rudal dengan kecepatan serupa dengan pesawat. Itu adalah pertama kalinya Kapten Syahreza melihat rudal dari jarak dekat.

 pilot

“Saat kita terbang, ternyata rudalnya di bawah kita. Tapi karena kita berpisah alur, jadi kita sempat lihat rudalnya ke arah sana. Kemudian, kita laporkan. Itu pertama kali saya lihat rudal dalam jarak dekat. Dekat sekali. Tapi rudal itu kena GPS guiders, jadi gak memperngaruhui pesawat kita,” tuturnya.

“Saya melihat di radiometer kok ada yang aneh. Kemudian gak lama dari sebelah kiri ada benda yang terbang. Menjauhi pesawat, tapi sekarang. Dari belakang kanan ke kiri,” sambung Kapten Syahreza.

Kapten Syahreza mengaku tidak mendengar apa-apa. Awalnya, ia juga tidak mengetahui benda apa yang baru dilihat. Ia memfotonya dan bertanya pada tentara yang ada di kabin pesawat. Para tentara tersebut lantas memberitahu bahwa benda itu adalah rudal. Karena kejadiannya berlangsung cepat, ia mengaku tidak sempat merasa takut.

Setelah mendarat, Kapten Syahreza kembali mendapatkan pengalaman yang buatnya bergidik ngeri. Saat sedang melakukan walkaround, ia merasa sesuatu jatuh di kepalanya. Orang-orang di bandara juga menyuruhnya pergi. Ternyata persis di atas bandara tersebut rudal baru saja pecah.

“Pas kebetulan saya di bawah wing, baru saya dengar ada serpihan metal (jatuh). Nah, ternyata rupanya di kota itu baru saja meng-intercept sebuah rudal. Rudalnya persis di atas bandara. Pecahan metalnya jatuh ke airport dan menimpa pesawat saya juga,” katanya.

Demi menghindar dari bahaya senjata konvensional, pesawat yang akan mendarat di daerah konflik harus dalam kondisi gelap dan mengambil sudut kemiringan untuk mendarat lebih tinggi dari biasanya.

“Pertama kita akan melakukan high steep approach. Sudut arahnya misalkan tiga derajat, kita jadi lebih tinggi 3,5 sampai 4 derajat. Lebih curam, supaya orang-orang yang memakai senjata konvensional, yang bisa mencapai ketinggian 1.000, 2.000 feet paling enggak kita hindari. Soalnya udah sering ditembak,” tutur Kapten Syahreza.

“Take off juga sama. Kita take off dengan climb rate yang cukup tinggi supaya dengan sesegera mungkin kita meninggalkan daerah konflik itu dan jarak senjata-senjata konvensional itu gak sampai,” lanjutnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini