NTB Perlu Tiru Penerapan Protokol CHSE Bali, Kenapa?

Antara, Jurnalis · Minggu 04 April 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 03 406 2388852 ntb-perlu-tiru-penerapan-protokol-chse-bali-kenapa-NxWW8PRiUh.JPG Ilustrasi (Foto: Dok. Kemenparekraf)

KETUA Komisi III DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Sambirang Ahmadi mendorong Pemerintah Provinsi NTB dapat meniru Bali dalam hal menerapkan prosedur Clean, Healthy, Safety and Environment (CHSE) pada objek wisata di tengah pandemi Covid-19.

"Saya kira gagasan (CHSE) itu layak kita pertimbangkan untuk memulihkan juga pariwisata kita di NTB," ujar Sambirang.

Ia melihat ada persamaan antara Bali dan NTB dalam hal menempatkan pariwisata sebagai urat nadi perekonomian masyarakat. Selain itu, kedekatan kultur dan budaya memungkinkan tingkat efektivitas hasil akan sama atau mendekati keberhasilan Bali, jika nantinya cara ini teruji.

"Jadi, Bali itu menunjuk tiga kawasan, Ubud, Sanur, dan Nusa Dua," katanya.

Baca juga: BLU Borobudur, Perpaduan Konsep Konservasi dan Pariwisata

Kawasan itu akan dijadikan zona hijau dengan memvaksin seluruh masyarakatnya dan pelaku usaha pariwisata. Vaksin yang dibutuhkan sebanyak 170.487. Rinciannya, 47.045 untuk di Ubud, 87.715 untuk di Nusa Dua, dan 34.727 di Sanur.

"Cara yang sama perlu kita coba di NTB, misalnya dengan menentukan tiga kawasan yang menjadi episentrum wisata di NTB," sebutnya.

Ia menambahkan, jika konsep 'kawasan hijau' ini bisa berjalan dengan baik, maka dapat dikembangkan ke daerah kawasan atau zona lain 

"Saya kira tidak akan ada persoalan serius jika ini dicoba di NTB, apalagi kita butuh memulihkan pariwisata kita," lanjut Sambirang.

Selain itu kata dia, NTB juga perlu melihat konsep penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada cleanliness (kebersihan), healthty (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainibility (kelestarian lingkungan) atau CHSE.

"Kalaupun pandemi Covid-19, saya mendengar bahwa pariwisata Bali masih tetap bertahan karena banyak industri pariwisata sudah mengantongi CHSE," katanya.

Sementara itu, Kasi Sarana Promosi dan Komunikasi Digital, Dinas Pariwisata Bali, Dewa Dwijayendra menuturkanberujar bahwa kondisi pariwisata Bali per tanggal 31 Maret 2021 dengan upaya-upaya yang sedang ditempuh mulai ada peluang bangkit lagi.

Ia mengungkapkan sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), rencana tiga kawasan zona hijau akan dibuka untuk dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman) pada Juni atau Juli 2021.

"Dengan catatan penyebaran kasus Covid-19 di Bali melandai," ujarnya.

Sejauh ini sudah 20.600 orang yang telah divaksin, terdiri dari 5.000 orang dari BTDC, 5.600 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, 2.000 di Hotel Harris Sunset Road.

Berikutnya lagi 4.000 orang Hotel Prama Sanur dan 4.000 dari Hotel Four Point. Untuk sertifikasi industri pariwisata, mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga DTW, saat ini telah ada 877 industri pariwisata di-assesment, ditambah lagi dari Kemenparekraf sebanyak 973 industri yang telah disertifikasi.

"Persiapan dengan simulasi penyambutan wisatawan mancanegara di Bandara Ngurah Rai, dengan menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19 dan akan diarahkan berlibur ketiga kawasan zona hijau," tandas Dewa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini