Sederet Kisah Unik Masjid Putih Telur di Pulau Penyengat

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 08 April 2021 17:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 408 2391444 sederet-kisah-unik-masjid-putih-telur-di-pulau-penyengat-J7xt5q33KW.jpg Masjid Pulau Penyengat. (Foto: Instagram jelajahmasjid55)

MASJID Raya Sultan di Pulau Penyengat menjadi peninggalan Kerajaan Riau yang masih terawat dengan baik. Uniknya, masjid ini dibuat dari putih telur loh.

Awalnya Masjid Raya Sultan adalah sebuah bangunan dari kayu. Letaknya diatas bukit kecil tak jauh dari pantai pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau.

Hari dimulainya membangun masjid kayu itu tercatat pada pagi hari tanggal 7 rabiul awal 1218 tahun hijriah (1803 masehi).

Untuk menampung jamaah yang makin lama makin melimpah, masjid lama sudah tidak lagi memadai. Karena itulah Raja Jafaar memerintahkan untuk memperbesar bangunan yang lama dan letaknya diundurkan ke darat.

"Berdasarkan catatan kitab kuno yang ditemukan, digambarkan masjid kayu itu lantainya dari bata merah empat persegi disusun berjajar, dindingnya dari kayu cengal (blanocarpus heimii) yang sengaja didatangkan dari Terengganu, atapnya dari kayu belian (sideroxylon schwangeri), pada cucuran atapnya dibuatkan saluran dari kayu gong (heilica petiolaris) dengan ombak-ombak yang berukir," jelas PNA.Masud Thoyib Adiningrat,Pengageng Kedaton Jayakarta, yang pernah berkunjung ke sana.

 Masjid

(Foto: Instagram jelajahmasjid55)

Sebuah menara setinggi 12 hasta untuk muazzin (bilal) memanggil orang shalat. Sebuah kubah bersegi lima setinggi 17 hasta, dua buah kolam untuk wudhu berdinding dan beratap. Di sekeliling masjid diberi pagar hidup dari beberapa macam pohon kayu yang rimbun dan rindang.

Dua kali kata fisabilillah bergema dengan nyaring di kawasan kerajaan Riau Lingga. Pertama kali ketika Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah tewas di teluk Ketapang.

Kedua, ketika Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman (1831-1844) pada hari raya idul fitri 1 syawal 1248 H (1832 M) memberitahukan kepada seluruh rakyat agar beramal di jalan Allah (fisabilillah) untuk membangun sebuah masjid yang kokoh di tapak masjid lama.

Lalu berdatanganlah orang dari seluruh ceruk dan pelosok teluk, rantau , pulau dan dari kawasan laut ke pulau Penyengat. Mereka datang untuk bekerjasama membangun masjid yang megah.

“Tak hanya tenaga yang dibawa tapi juga persediaan makanan yang melimpah ruah, terutama beras, sagu, sayur mayor, ikan, kambing, ayam dan telur,”jelasnya.

Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman bersama dengan 5.000 orang memulai pembangunan pondasi masjid itu. Laki-laki dan perempuan bekerjasama selama 7 hari 7 malam, dari malam hari sampai subuh.

Selama 7 hari itu, para lelaki dilarang keluar kecuali penjaga keamanan. Setelah dikerjakan secara marathon pondasi masjid setinggi 7 hasta selesai selama 3 minggu.

Lalu pembuatan bangunan induk dipimpin oleh tukang yang terdiri dari orang India yang didatangkan dari Selat (Singapura). Saat itu tersohor cerita terlalu banyak tersedia telur untuk makanan bagi orang-orang yang bekerja. Sehingga tukang itu menyarankan supaya putih telur yang berlimpah dicampur dengan semen sebagaimana yang biasa dilakukan di India. Itulah sebabnya bangunan Masjid menjadi sangat kokoh.

Masjid ini dibuat dengan bentuk unik. Setelah orang menaiki tangga depan atau tangga samping terlihat sebuah halaman sebelum masuk ke bangunan utama.

Seluruh komplek masjid termasuk halaman atas panjangnya 54,40 meter dan lebarnya 32,20 meter. Bangunan induk tempat shalat panjangnya 29,30 meter dan lebarnya 19,50 meter,disangga oleh 4 buah pilar beton.

Lantai bangunan induk dibuat dari batu bata tanah liat empat persegi warna kemerah-merahan. Bumbungan masjid berbentuk kubah sebanyak 13 buah Bersama dengan 4 buah menara, jumlah bumbungan menjadi 17 yang diartikan sebagai 17 rakaat shalat dalam sehari semalam.

Keempat menara masjid tingginya 18,90 meter dari dasar tanah. Dinding dan pagar besi 2 buah menara di sebelah depan berbentuk bundar, ada tangga pusing (tangga berputar) untuk naik tingkat pertama dan tangga kayu untuk naik ke tingkat diatasnya. Di kedua menara ini dulu para muazzin menyerukan azan dari dalam masjid.

Dua buah menara sebelah belakang, dinding dan pagarnya dibuat bersegi-segi. Baik untuk tingkat pertama dan tingkat kedua tidak diberi tangga sehingga kedua menara itu senantiasa dikunci pintu-pintunya.

Konon, mimbar lama masjid pulau Penyengat dibuat dari besi tukang berukir, dindingnya logam berkerawang, di bagian atasnya memakai tutup dari papan berukir timbul yang disepuh dengan timah putih.

Lalu mimbar itu diganti dari kayu jati berukir. Mimbar ini memiliki kembaran, salah satunya diletakkan di masjid Daik di Pulau Lingga, Riau. Mimbar ini agak kecil dibandingkan dengan mimbar di masjid pulau Penyengat.

"Diduga kedua mimbar itu berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Pada tahun 1826, Raja Ahmad ayahanda Raja Ali Haji pergi ke Semarang dan Juana serta singgah pula ke Jepara untuk membeli keranda karena Raja Ali Sakit keras dalam perjalanan sehingga diperkirakan meninggal dunia," paparnya.

ilustrasi

Di dekat mimbar itu disimpan seceper pasir yang kabarnya berasal dari tanah Makkah. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua. “Sampai sekarang pasir ini sering dipakai untuk upacara jejak tanah,”ucapnya.

Ada dua buah Alquran tulisan tangan yang tersimpan dalam masjid Pulau Penyengat. Alquran yang pertama dipajang dalam sebuah peti kaca ialah hasil goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk pulau Penyengat yang pernah dikirim oleh kerajaan Riau Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama.

Sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan terkenal dengan khat gaya Istambul. Pada tahun 1867 dia menyelesaikan penyalinan Alquran yang dikerjakannya sambil mengajar.

Alquran tulisan tangan yang lain disimpan dalam lemari Khutub Khanah Marhum Ahmadi, bertahun 1166 Hijriah yaitu bersamaan dengan tahun 1752 M. Diluar bingkai tulis terdapat tafsir yang ditulis dengan huruf kecil-kecil. Alquran ini sudah dalam keadaan rusak.

Peninggalan lainnya dari masa Kesultanan Riau Lingga di Masjid Raya Sultan Riau ialah 25 helai hamparan permadani Istambul yang sebagian masih dapat dilihat.

Selain itu masih terdapat sebuah lampu gantung yang disebut “kraun” (berasal dari kata crown), terbuat dari kaca potong halus dan indah. Biasanya dipasang ketika memperingati hari-hari besar Islam. Lampu ini hadiah dari Gubernur Jenderal Belanda Jean Christian Baud. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini