Majalengka Punya Alquran Berusia 3 Abad, Begini Wujudnya

Inin Nastain, Jurnalis · Jum'at 16 April 2021 06:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 16 406 2395549 majalengka-punya-alquran-berusia-3-abad-begini-wujudnya-mRz01jiOlw.JPG Alquran kuno berusia 3 abad di Majalengka, Jawa Barat (Foto: Inin Nastain)

MUSHAF Alquran dengan tulisan tangan berusia 3 abad, atau tepatnya 363 tahun ditemukan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kitab suci umat Islam itu ditulis pada tahun 1658 dan tersimpan rapi di rumah seorang warga bernama Ridwanuddin, di Blok Pesantren, Desa Pagaraji, Kecamatan Maja.

Ridwan ialah keturunan ketujuh dari penulis Alquran itu, yakni KH TB Latifudin. Usia Alquran bisa diketahui dari catatan pada bagian muka mushaf itu, di mana tertera tulisan oleh KH TB Latifudin pada 1658 di Pagaraji, Maja, Majalengka.

“Memang tidak tahu betul karena saya ini keturunan ketujuh dari KH TB Latifudin, penulis Alquran ini. Kalau dilihat dari sampulnya, tertera Alquran ini dibuat tahun 1658,” kata Ridwan mengawali cerita.

Baca juga: Menilik Makam Siti Hawa, Panjangnya 120 Meter

Seiring berjalannya waktu, Alquran kuno itu dirawat secara turun-temurun oleh ahli waris KH TB Latifudin. Ridwan sendiri baru merawat Alquran itu sejak sekitar 6 tahun silam sepeninggal orangtuanya.

“Sekarang ada di saya karena orangtua sudah meninggal 6 tahun lalu. Sebelumnya disimpan oleh orangtua saya. Jadi Alquran ini diwarisi oleh orangtua saya,” imbuh Ridwan.

Ridwan menyebut tak ada cara khusus yang dilakukan untuk merawat Alquran bersejarah itu. Selama ini, lanjutnya, perawatan mushaf dilakukan dengan cara membungkusnya menggunakan kain, sekaligus diberi kamper agar tidak rusak dimakan serangga.

“Alquran ini masih dibaca. Pada Haul Akbar tiap bulan Syawal, dibaca secara berjamaah. Kalau Ramadan juga dibaca, cuma tidak berjamaah. Paling dibaca surat Yaasin-nya saja,” ujarnya.

Ridwan menambahkan, pada mushaf Alquran itu terdapat beberapa lembaryang diganti dengan kertas baru lantaran kondisinya sudah rusak parah.

“Ada sebagian yang sudah diganti, dibawa ke Kesultanan Cirebon, cuma beberapa lembar saja. Tulisannya juga tulisan tangan. Tapi begitu rapih tulisannya, tintanya juga mungkin dari getah pepohonan,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini