Menikmati Roti Khas Ramadhan yang Tak Hilang Tergerus Perang di Suriah

Suci Wulandari Putri, Jurnalis · Minggu 02 Mei 2021 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 01 301 2403999 menikmati-roti-khas-ramadhan-yang-tak-hilang-tergerus-perang-di-suriah-i8qvjGOEnV.jpg Pedagang menjual kue tradisional untuk buka puasa Ramadhan di Damaskus, Suriah (AP/Arab News)

BAGI penduduk di Damaskus, bulan Ramadhan tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi naaem, pastry tradisional yang manis dan murah. Pada bulan suci seperti ini, manisan gorang yang biasa disebut roti Ramadhan itu sangat mudah ditemui. Bahkan banyak dijual di kaki lima di ibu kota Suriah.

Melansir Arab News, Minggu (2/5/2021), naaem dibuat dengan cara menggoreng adonan ke dalam minyak panas hingga garing dan harum, kemudian ditaburi kurma coklat tua atau molase anggur. Rasanya yang gurih dan manis membuatnya digandrungi banyak orang.

Baca juga: 5 Perbedaan Kopi Robusta dan Arabika, dari Aroma hingga Sejarah

Satu porsi naaem dihargai sekitar 2.500 pound Suriah atau sekitar Rp29.000. Selain itu juga terdapat makanan manis seperti biskuit barazeq yang dilapisi wijen atau baklava manis yang diisi pistachio juga diminati penduduk.

Selain naaem terdapat berbagai jenis makanan yang tersedia, akan tetapi karena kondisi ekonomi penduduk memburuk sejak terjadinya perang di Suriah, tahun ini daging merah, kaldu ayam, dan manisan berisi pistachio seperti permen dan biskuit, harganya menjadi sangat mahal. Sehingga makanan tersebut tidak tersedia untuk kudapan buka puasa tahun ini.

Hampir setiap tahun, penduduk semakin sedikit yang membeli dan membawa nampan berisi sirup, makanan yang dipanggang dalam ghee dan diisi kacang atau daging kurma yang empuk.

Bahkan untuk satu kilo permen saja harganya mencapai 50.000 pound Suriah atau sekitar Rp574 ribu. Sebaliknya, kudapan naaem masih tetap dijual dan banyak diminati penduduk.

Baca juga: Lezatnya Kari Lam Legendaris di Glodok

Seorang pegawai pemerintah Abdallah (51) mengatakan ia akan bergegas membeli naaem, untuk dibagikan kepada istri dan dua putrinya untuk kudapan buka puasa.

“Betapapun beratnya keadaan, naaem adalah tradisi yang tidak bisa kita tinggalkan selama Ramadhan,” kata Abdullah.

Di tengah kondisi ekonomi Damaskus yang memburuk saat ini, sebagian besar penduduk memilih barang-barang yang lebih murah seperti naaem. Abu Tareq (49) seorang pedagang naaem menawarkan tumpukan naaem renyah kepada setiap penduduk yang berlalu lalang. Ia mengatakan naaem cepat terjual habis menjelang buka puasa.

Menurut Tareq, permen memang termasuk bagian penting saat Ramadhan, namun naaem, adalah yang termurah dan paling enak.

“Ramadhan tidak akan terasa sama tanpanya (naaem),” kata Tareq.

Meskipun harga naaem yang tergolong murah, bukan berarti yang membeli hanya dari kalangan menengah ke bawah saja. Justru penduduk yang berasal dari kalangan menengah ke atas ikut antusias dan menjadi pelanggan naaem.

ilustrasi

Sejak dimulainya perang pada tahun 2011, dan negara tersebut kehilangan 98 persen nilai mata uangnya jutaan penduduk berjuang untuk memperoleh makanan yang dapat disajikan di meja makan mereka.

Jika sebagian besar bahan makanan melonjak mahal, namun naaem sebagai “roti Ramadhan” masih dapat dinikmati renyahnya dan dapat dijangkau oleh semua orang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini