Geliat Wisata Lagoi di Tengah Amuk Corona

Antara, Jurnalis · Sabtu 01 Mei 2021 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 01 406 2403826 geliat-wisata-lagoi-di-tengah-amuk-corona-nTeRp4oVRi.jpg Kawasan wisata Lagoi Bay, Bintan, Kepulauan Riau (Antara/Ogen)

PASIR putih menghiasi sepanjang bibir pantai sebuah kawasan apik nan menawan di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, yang satu tahun lalu ramai dikunjungi orang.

Gelombang laut menyeret pasir hingga ke tengah pantai, kemudian mengembalikannya, diiringi suara, yang menyejukkan hati.

Keindahan Lagoi, demikian nama kawasan ini, cukup populer di nusantara dan wisatawan dari berbagai negara. Kawasan pariwisata berskala internasional itu juga dikenal sebagai Pulau Dewata kedua setelah Bali.

Baca juga:  Kawasan Wisata Lagoi Layani Tes GeNose C19 Mulai 3 Mei, Berikut Tarifnya

Bahkan Lagoi diklaim berbagai pihak jauh lebih indah dibanding Bali.

"Lagoi sangat indah dibanding Bali. Silahkan datang ke Lagoi," kata Bupati Bintan Apri Sujadi.

Ketika Lagoi masih berjaya, kawasan pariwisata ini memberi kontribusi besar terhadap pendapatan asli daerah. Pariwisata merupakan sektor andalan di Bintan.

"Lagoi tempat yang aman dan nyaman. Saya rekomendasikan Lagoi sebagai tempat wisata yang bersih, nyaman dan aman dari COVID-19," ucap Apri.

 ilustrasi

Pantai Lagoi di Bintan, Kepri (Antara)

Menteri Pariwisata Sandiaga Uno pun melirik Lagoi sebagai kawasan pariwata yang mempesona. Lagoi merupakan salah satu objek wisata di bumi nusantara yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Lagoi tetap cantik dan menarik, meski di tengah wabah COVID-19, kata Menteri Sandiaga.

Lagoi pun dinilai sebagai objek wisata dengan penerapan protokol kesehatan yang tinggi sehingga siap menerima turis dari berbagai negara.

"Dibanding Nongsa, Batam, Lagoi merupakan kawasan pariwisata dengan kesiapan yang matang dalam penerapan protokol kesehatan," ujarnya.

Kampanye Lagoi dan Nongsa siap menerima tamu dari Singapura sejak akhir tahun 2020 sudah bergaung. Sekitar dua bulan lalu pun pemerintah gencar menyuarakan program "travel bubble" untuk merayu Singapura.

Namun ajakan Pemerintah Kepri dan Menteri Pariwisata tersebut gagal, meski 21 April 2021 sudah direncanakan pembukaan untuk wisatawan asal Singapura berlibur ke Lagoi dan Nongsa.

Pemerintah Singapura sejak awal sudah menyampaikan kepada publik melalui berita yang disiarkan di berbagai media massa bahwa negara itu kemungkinan "lockdown" hingga Desember 2021.

 

Perbedaan opini dari kedua negara terkait kedatangan turis asal Singapura ke Lagoi dan Bintan juga sempat menuai polemik, yang akhirnya dipertegas oleh Pemprov Kepri bahwa 21 April 2021 sebagai rencana pembukaan kawasan pariwisata berskala internasional di Nongsa dan Lagoi, yang sudah siap menerima tamu asing dengan menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga:  Travel Bubble Kepri-Singapura Ditunda Lagi hingga Agustus 2021

Kepala Dinas Pariwisata Kepri Buralimar mengatakan, pemerintah pusat melalui kementerian terkait yang memiliki akses dan kewenangan untuk membangun kesepakatan dengan Pemerintah Singapura agar wisatawan asal negara berlambang kepala singa dapat berkunjung ke Lagoi dan Nongsa.

Ia berharap Pemerintah Singapura membuka "lockdown" untuk warganya berkunjung ke Lagoi dan Nongsa mulai Mei atau Juni 2021.

"Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Luar Negeri yang dapat melakukan komunikasi secara intensif dengan Pemerintah Singapura. Posisi Kepri sudah mempersiapkan Lagoi sebagai kawasan wisata yang paling aman dari penularan COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat," terang Buralimar.

Buralimar mengatakan sebelum pandemi, wisatawan asal Singapura dalam setiap bulan terbanyak berkunjung ke Kepri sebelum pandemi COVID-19. Akses transportasi laut Lagoi-Singapura pun terbuka untuk memudahkan warga negara tetangga Bintan itu berkunjung ke Lagoi.

"60 persen pendapatan asli daerah di Bintan itu berasal dari sektor pariwisata. Sekarang kondisinya terpuruk akibat wisman tidak berkunjung ke Lagoi," katanya.

Menurut dia, perusahaan pariwisata di wilayah tersebut rata-rata hanya mampu bertahan sampai Agustus 2021 jika tidak memperoleh pendapatan dari wisatawan mancanegara.

Pemilik perusahaan pariwisata seperti perhotelan, resort dan restoran sudah menghabiskan uang untuk bertahan selama masa pandemi COVID-19. Biaya operasional dalam pengelola hotel, resort, restoran cukup besar, sementara tidak ada omzet selama pandemi.

Di Lagoi, Kabupaten Bintan, yang sudah sejak beberapa bulan lalu bersiap melayani wisman memiliki sebanyak 15 destinasi wisata, 10 di antaranya sudah tidak beroperasi. Begitu pula di Nongsa, memiliki 11 objek wisata, namun tidak seluruhnya beroperasi.

"Melihat kondisi ini, pemerintah pusat dan daerah tidak tinggal diam. Kami terus mengupayakan agar destinasi wisata di Lagoi kembali jaya. Untuk tahap awal, pemerintah menargetkan wisatawan asal Singapura mengunjungi Lagoi dan Nongsa," ujarnya.

 ilustrasi

Selain persoalan eksternal, dorongan agar kunjungan wisman ke Lagoi meningkat juga terbentur Peraturan Menkumham Nomor 11 tahun 2020 tentang Larangan Sementara Bagi Orang Asing Untuk Masuk Maupun Transit di Wilayah Indonesia, imbas dari pandemi COVID-19.

Wisatawan Domestik

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Rudy Chua berpendapat bahwa pemerintah daerah dan pelaku usaha pariwisata berskala internasional di wilayah itu belum maksimal menggarap wisatawan domestik, padahal memiliki potensi meningkatkan pendapatan.

"Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pelaku usaha pariwisata justru masih berharap warga Singapura berkunjung ke Lagoi, Bintan dan Nongsa, Batam. Padahal Singapura kemungkinan masih 'lockdown' hingga Desember 2021," ujarnya.

Rudy, yang juga mantan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Kepri, mengatakan, keinginan atau harapan Pemprov Kepri dan pelaku usaha pariwisata di Lagoi dan Nongsa bahwa Singapura membuka akses masyarakatnya untuk berkunjung ke Lagoi dan Nongsa tepat pada hari ini, ternyata tidak terjadi. Padahal opini yang terlanjur terbentuk bahwa hari ini warga Singapura akan berwisata di dua lokasi tersebut.

"Sebenarnya, yang saya pahami, (pemerintah) Singapura tidak pernah membuat pernyataan membuka 'lockdown', kecuali mengapresiasi pembukaan kawasan wisata Lagoi dan Nongsa dengan penerapan protokol kesehatan," ucapnya, yang diusung Partai Hanura.

Ia mengatakan potensi yang jelas tampak di depan mata adalah wisatawan domestik. Semestinya, pemerintah mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menggarap wisatawan domestik agar dapat bertahan sambil menunggu Singapura membuka "lockdown".

Biaya sewa kamar di resort dan hotel yang tersedia di Lagoi dan Nongsa semestinya dilakukan penyesuaian harga. Biasanya, biaya sewa kamar untuk satu malam Rp3 juta atau lebih, mungkin untuk

menggarap wisatawan domestik bisa diskon hingga 50 persen.

Kemudian juga pelaku usaha pariwisata dapat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjual paket wisata, denvan harga yang terjangkau.

Pemilik hotel dan restoran di Lagoi juga dapat menyiapkan ruang pertemuan untuk disewa oleh pemerintah dalam kegiatan tertentu, seperti rapat.

"Dengan harga yang terjangkau, tentu Pemprov Kepri dan pemda lainnya di Kepri dapat mendorong pendapatan pelaku usaha pariwisata agar mampu bertahan," katanya.

Sebelumnya, pengamat pariwisata, Sapril Sembiring, mengatakan wisatawan domestik dinilai lebih realistis bangkitkan sektor pariwisata di masa pandemi.

"Pemerintah pusat dan daerah sebaiknya fokus mendorong wisatawan domestik mengunjungi berbagai tempat wisata di Indonesia, seperti di Kepri," ujarnya, yang juga pelaku usaha pariwisata di Tanjungpinang.

Pernyataan Sapril tersebut terkait harapan Pemprov Kepri dan Kementerian Pariwisata agar warga Singapura mengunjungi objek wisata di Lagoi, Bintan dan Nongsa, Batam. Harapan itu, kata dia kurang realistis karena Singapura kemungkinan "lockdown" hingga akhir tahun 2021.

Permasalahan lainnya di dalam negeri juga masih ditemukan bahwa regulasi belum mengijinkan wisman berlibur di Indonesia dengan alasan mencegah penularan COVID-19.

Dari persoalan itu, menurut dia potensi kunjungan wisatawan ke objek wisata hanya wisatawan domestik. Potensi ini seharusnya digarap secara maksimal melalui berbagai program pariwisata, yang tentu harus menerapkan protokol kesehatan.

"Di masa pandemi, di saat pelaku usaha merasakan dampak, sebaiknya bersama-sama kita mendorong agar wisatawan domestik berkunjung ke objek wisata seperti yang ada di Lagoi dan Nongsa, daripada berharap wisman berkunjung ke tempat wisata tersebut," ucapnya.

 ilustrasi

Optimistis

Bintan Resort Cakrawala (BRC) menyatakan tujuh dari 15 resort dan hotel di kawasan pariwisata berskala internasional di Lagoi, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau memilih tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19.

Group General Manager BRC, Abdul Wahab, mengatakan, delapan dari 15 perusahaan resort dan perhotelan lainnya sudah tutup.

Namun satu resort di antaranya akan dibuka kembali, namun tidak lagi bernama Bintan Lagoon. Perbaikan resort dan hotel eks Bintan Lagoon ini terus dilakukan, yang kemungkinan akan beroperasi tahun 2022. Perusahaan ini akan menyerap tenaga kerja sekitar 350 orang.

Sementara perusahaan yang bertahan saat ini terus berupaya mempertahankan karyawannya, meski jam kerja dikurangi.

"Kami mencoba terus bertahan, tetap optimistis pandemi COVID-19 ini akan berakhir. Kami tetap beroperasi dengan mengandalkan kunjungan dari wisatawan domestik dan kegiatan pemerintahan," ujarnya.

Wahab mengemukakan wisatawan domestik yang berkunjung ke Lagoi tidak banyak. Sebelum pandemi COVID-19, sebanyak 90 persen wisatawan yang berkunjung ke Lagoi merupakan warga asing, yang sebagian besar berasal dari Singapura.

Wisatawan domestik yang berasal dari Tanjungpinang dan Batam mendominasi kunjungi Lagoi. Paket kegiatan pemerintah pusat di Lagoi juga membantu Lagoi tetap bertahan.

"Kalau wisatawan domestik hanya mampu menutupi 15 persen biaya operasional," ucapnya.

Wahab mengatakan pihaknya memberi apresiasi kepada Pemkab Bintan dan pemerintah pusat yang sudah memberi berbagai kemudahan dan stimulus kepada pihak perhotelan dan resort agar tetap bertahan.

"Kami juga memberi berbagai stimulus kepada perhotelan dan resort," ujarnya.

Ia juga memberi apresiasi kepada Pemerintah Indonesia yang mempercayakan Lagoi sebagai kawasan pariwisata yang berstandar protokol kesehatan sejak September 2020. Kepercayaan yang diberikan itu akan menumbuhkembangkan Lagoi, yang kini ikut mendorong agar Pemerintah Singapura membuka akses warganya ke Lagoi.

"Kami melihat usaha yang dilakukan Pemerintah Indonesia agar Pemerintah Singapura membuka 'lockdown' agar warganya dapat berkunjung ke Lagoi. Memang, kebijakan ini hanya dapat dilakukan melalui negosiasi antarpemerintah," tuturnya.

Wahab mengungkapkan usaha perhotelan dan resort di Lagoi tetap menunjukkan optimistis akan kembali jaya. Di saat pandemi COVID-19 ini, empat pengusaha perhotelan dan resort akan dibangun di Lagoi yakni Holiday Inn, Endego, Four Point by Sheraton, dan The Haven.

Empat perusahaan ini akan beroperasi paling cepat tahun 2022. Empat perusahaan ini akan menyerap ribuan tenaga kerja.

"Tentu ini kabar baik, dengan harapan COVID-19 segera berakhir," katanya.

Pandemi COVID-19 masih patut diwaspadai namun pariwisata domestik mulai bebenah dan menanti kedatangan wisatawan lokal untuk menggeliatkan kembali perekonomian.

Lagoi salah satu objek wisata di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau dengan penerapan protokol kesehatan yang tinggi siap menerima turis dari berbagai negara.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini