Kesadaran Masyarakat Jaga Hutan Taman Nasional Tinggi, Pariwisata Bisa Berkembang

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 03 Mei 2021 00:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 02 406 2404371 kesadaran-masyarakat-jaga-hutan-taman-nasional-tinggi-pariwisata-bisa-berkembang-t6skPiLx44.jpg BTN Alas Purwo. (Foto: Instagram btn_alaspurwo)

DEFORESTASI membahayakan keberlangsungan hutan. Tapi apakah hutan wisata yang ada di Indonesia ini bebas dari deforestasi?

Sebagian besar hutan wisata di Indonesia dikelola oleh taman nasional langsung di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK). Semestinya hutan wisata di Indonesia bebas dari deforestasi.

Bahkan diakui Southeast Regional Director Tropical Forest Alliance (TFA) Rizal Algamar, berdasarkan pengalamannya, deforetasi di taman nasional relatif kecil. Sebab tata kelola hutan sudah cukup mumpuni dan ketat.

Baca Juga: Mulai 5 Mei, Wisatawan Tak Bisa Booking Hotel di Malang

hutan

"Ada patroli dari dinas-dinas dab dikembangkan ke masyarakat. Masyarakat yang tinggal sekitar taman nasional itu sudah memahani betapa pentingnya manfaat hutan di lingkungan sekitar mereka," ujarnya saat webinar, baru-baru ini.

Dirinya bahkan pernah membantu memberdayakan desa-desa di sekitar hutan itu. Menurutnya, masyarakat juga mengakui bahwa keberlangsungan hutan penting bagi kehidupan mereka.

Rizal berujar, tidak hanya menjadi sumber makanan, tapi juga sumber pendapatan dari pariwisata. "Mereka sudah memahami dan akhirnya mereka turut menjaga, saya tidak melihat ini jadi satu masalah, tapi tata kelolanya sudah mumpuni."

Sementara itu, dikatakan Rizal, bila hutan sudah bebas deforestasi, maka dampaknya baik untu pariwisata. Di beberpaa desa di Kalimantan Timur misalnya, jika masyarakat diedukasi tentang bahaya deforestasi dan membantu menghidupkan masyarakat hutan dengan sektor pariwisata, desa itu bisa berkembang pesat.

"Mereka menjaga desa itu dan kita membantu promosi desa tersebut untuk pariwisata. Alhasil kepala desa dan segenap masyarakat desa itu berhasil mempromosikan desanya sampai ke wisatawan asing," kata dia.

"Datanglah wisatawan asing dari setahun promosi hanya 20 orang, naik 40-60 orang. Sebelum pandemi bahkan 200 wisatawan asing, mereka merasakan manfaatnya lebih baik, daripada emreka tebang hutan untuk keperluan lain," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini