Pria Ini Bangun Tembok dari Kotoran Sapi karena Jengkel dengan Tetangga

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Jum'at 07 Mei 2021 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 07 406 2406930 pria-ini-bangun-tembok-dari-kotoran-sapi-karena-jengkel-dengan-tetangga-T33ADL6imx.JPG Bahan diduga kotoran sapi yang digunakan untuk membangun tembok (Foto: Fox News)

SEORANG pria dilaporkan telah melakukan pembalasan terhadap tetangganya dengan menggunakan kotoran sapi di sebuah kota kecil di Michigan, Amerika Serikat.

Wayne Lambarth mengungkapkan bahwa tetangganya membuat dinding kotoran seukuran 250 kaki setelah perselisihan jalur properti yang dia miliki dengan sesama pemilik pertanian tahun lalu.

Pembatas dengan bahan material 'tidak biasa' itu memisahkan dua properti di Lodi, sebuah kota sipil yang terletak di Washtenaw County. Selain berfungsi sebagai pembatas fisik, Lambarth dan penyewa memberi tahu bahwa dinding kotoran itu berbau sangat menyengat.

Baca juga: Harta Karun Perang Dunia I Ditemukan di Balik Gletser

Namun, petani yang membangun tembok, yang identitasnya dirahasiakan, menyangkal bahwa struktur organik adalah tembok 'kotoran. "Itu pagar (berbahan pupuk) kompos," katanya melansir Fox News.

Pengomposan adalah tindakan menambahkan bahan organik ke tanah untuk membantu tanaman tumbuh, yang dapat mencakup sisa makanan atau halaman, menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS.

Sedangkan kotoran tidak terdaftar sebagai bahan kompos yang ideal di bawah EPA, namun ahli pertanian mengatakan itu justru hal yang baik untuk dilakukan.

Selain itu, tutorial pagar kompos di doityourself.com menyatakan bahwa pagar kompos yang dibangun dimaksudkan untuk membantu menjaga hewan keluar dari kompos dengan kabel atau bahan pagar lainnya. Bahan organik seperti pupuk kandang tidak disarankan sebagai pilihan yang layak.

Sementara pejabat berwenang di daerah tersebut mengatakan, tidak ada yang bisa dilakukan lantaran tembok tersebut berada di atas properti milik pribadi. Tidak jelas apakah dinding kotoran dapat dikaitkan dengan peraturan pertanahan lokal atau negara bagian.

Namun yang jelas, keluarga Lambarth telah tinggal di daerah itu selama lebih dari satu abad secara turun temurun dan tanah tersebut pertama kali dikembangkan oleh kakeknya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini