Masjid Tertua di Medan Warisan Sultan Deli dengan Perpaduan 5 Budaya

Yudha Bahar, Jurnalis · Minggu 09 Mei 2021 17:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 09 408 2407962 masjid-tertua-di-medan-warisan-sultan-deli-dengan-perpaduan-5-budaya-FMM9tRfKRW.jpg Masjid Raya Al-Osmani di Pekan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara (Wikipedia)

MASJID Raya Al-Osmani atau populer dengan Masjid Kuning terletak di Jalan Komodor Laut Yos Sudarso KM 17,5, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara. Sudah berdiri megah sejak 1854 Masehi, masjid ini diklaim sebagai yang tertua di Medan.

Masjid peninggalan Kesultanan Deli yang memiliki ornamen dari 5 kebudayaan ini menggambarkan Islam sebagai agama yang terbuka bagi seluruh umat manusia.

Baca juga:   Gedung Bekas Gereja Ini Kini Jadi Masjid Pertama Masyarakat Indonesia di Kanada

Masjid Kuning didirikan tahun 1854 oleh Sultan Osman Perkasa Alam, sultan ketujuh yang memimpin Kesultanan Deli. Masjid ini awalnya hanya berukuran 16 x 16 meter yang keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu.

Namun, setelah mangkatnya Sultan Osman Perkasa Alam, masjid raya ini direnovasi menjadi bangunan permanen oleh anak beliau, yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam mulai 1870 sampai 1872 Masehi dan kemudian terus dilakukan perbaikan hingga menjadi bangunan seperti sekarang.

 

Masjid Al-Osmani dulu digunakan sebagai tempat ibadah sultan dan pusat kegiatan keagamaan tidak. Fungsinya masih sama sampai sekarang.

Sementara itu bangunnan era kerajaan sudah rata dengan tanah dan dibangun sekolah yang sekarang bernama Yayasan Pendidikan Islam (Yaspi).

Baca juga:  Ada Masjid Unik Berbahan Kaca Menyerupai Kakbah di Medan

Masjid Raya Al-Osmani memiliki perpaduan arsitektur 5 kebudayaan. Mulai dari timur tengah yang terlihat pada kubah persegi delapan, arsitektur india yang tampak pada ukiran tiang, arsitektur China yang terlihat pada setiap pintu masjid, melayu dan juga spanyol yang dilihat dari warna dan desain bangunan.

Terdapat 3 pintu utama berukuran besar di masjid ini. Selain punya perpaduan budaya pada arsitekturnya, di dalam masjid megah ini juga dapat melihat sebuah mimbar antik terbuat dari kayu ukir yang digunakan khatib untuk berkhotbah.

Di belakang masjid terdapat sebuah bedug tua peninggalam zaman Sultan Osman Perkasa Alam yang masih utuh. Namun, bedug ini sekarang hanya jadi pajangan saja, tidak ditabuhkan lagi.

Sementara itu di area depan dan samping kiri masjid terdapat Kompleks Pemakaman Keluarga Sultan Deli.

 ilustrasi

Masjid Al Osmani terus hidup dengan kegiatan ibadah. Pada Ramadhan seperti sekarang, malam hari diramaikan dengan shalat tarawih, tadarus Alqur’an, berbuka puasa bersama dan memperingati malam Nuzul Qur’an.

Pada setiap Kamis di bulan suci, Masjid Al-Osmani punya tradisi menggelar buka puasa bersama dengan bubur pedas. Ini sekaligus melestarikan masakan tradisional yang menjadi santapan favorit Sultan Melayu di bulan puasa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini