Curhat Perantau Malaysia Belum Pulang Kampung 2 Tahun

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Jum'at 14 Mei 2021 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 406 2409995 curhat-perantau-malaysia-belum-pulang-kampung-2-tahun-1sI38IgYlb.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

WARGA Malaysia, Mohd Rezuan Othman, biasanya melakukan perjalanan mudik dari Kuala Lumpur ke kampung halamannya di Malaysia Selatan untuk menghabiskan Idul Fitri bersama keluarganya. Tetapi Malaysia lockdown Covid-19, sehingga membatalkan rencananya untuk tahun kedua berturut-turut.

Di bawah peraturan yang diumumkan pada hari Senin, hanya beberapa hari sebelum Idul Fitri, dia dan jutaan warga lainnya dipaksa untuk terpisah dari orang yang dicintai selama Lebaran karena pembatasan perjalanan yang ketat.

Baca Juga: Wisata Bukit Pengilon, Pemandangan Hijaunya Menyegarkan Mata

malaysia

"Saya belum kembali ke kampung untuk Lebaran selama hampir dua tahun sekarang dan saya tidak pernah melihat orang tua saya selama itu," kata juru masak berusia 40 tahun itu, yang dilansir Okezone dari Hindustan Times.

Malaysia adalah salah satu negara paling awal di kawasan Asia Tenggara yang memberlakukan lockdown ketat tahun lalu untuk menjaga agar epidemi tetap terkendali. Pandemi mengakibatkan negara mengalami kemerosotan ekonomi terburuk pada tahun 2020 sejak Krisis Keuangan Asia pada akhir 1990-an.

Lonjakan kasus yang dimulai pada akhir tahun lalu mendorong pemerintah untuk memberlakukan keadaan darurat pada Januari, dan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin pada hari Senin mengumumkan lockdown nasional selama sebulan untuk menangani lonjakan lagi.

Kasus Malaysia melampaui 444.000 dengan 1.700 kematian pada hari Senin, tingkat infeksi tertinggi ketiga di wilayah tersebut di belakang Indonesia dan Filipina.

Beberapa warga, seperti Rusyan Sopian, berpikir pembatasan perjalanan masuk akal mengingat otoritas kesehatan mengatakan lonjakan itu mungkin terkait dengan penyebaran varian yang lebih menular.

"Jika itu membantu mencegah virus, tidak apa-apa bagi saya," kata penulis berusia 38 tahun itu.

Namun di luar gangguan kehidupan sosial, lockdown berulang telah menjadi ancaman bagi mata pencaharian Mohd Rezuan dan banyak orang lainnya di Malaysia.

Bulan puasa Ramadan biasanya ada banyak bisnis yang ramai seperti restoran dan bazar makanan yang menyiapkan makanan untuk jutaan Muslim yang berbuka puasa setelah matahari terbenam. Sekitar 60% dari 32 juta penduduk Malaysia adalah Muslim.

"Saya bekerja di industri makanan. Satu saat buka, satu saat tutup," kata Mohd Rezuan, berbicara saat istirahat dari pekerjaannya di sebuah restoran di pinggiran kota Kuala Lumpur yang biasanya sibuk, sekarang sepi yang tidak wajar.

"Suatu saat gaji saya baik-baik saja, dan saat berikutnya tidak. Bagaimana saya akan bertahan?" pungkasnya. (dwk)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini