Pramugari Diserang Penumpang di Pesawat Sampai Kehilangan Gigi

Fatha Annisa, Jurnalis · Kamis 27 Mei 2021 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 26 406 2415821 pramugari-diserang-penumpang-di-pesawat-sampai-kehilangan-gigi-dJg8ZFrhp6.jpg Ilustrasi (Freepik)

PRAMUGARI maskapai Southwest Airlines diduga kehilangan beberapa gigi setelah diserang oleh seorang penumpang. Menurut laporan serikat pekerja transportasi Amerika Serikat atau Transport Workers Union (TWU) Local 556, kejadian ini terjadi selama penerbangan akhir pekan.

Dalam surat yang dikirim ke Southwest, Presiden TWU Local 556, Lyn Montgomery mengatakan bahwa itu hanyalah salah satu dari ratusan insiden pelanggaran yang terjadi pada penerbangan Southwest dalam beberapa pekan terakhir.

"Akhir pekan lalu, salah satu pramugari kami diserang, mengakibatkan luka di wajah dan kehilangan dua gigi,'' kata Montgomery dalam surat itu seperti dilansir dari Fox News, Kamis (27/5/2021).

Baca juga: Tiga Pramugari Diseret ke Pengadilan karena Suap Rp181 Juta

Associated Press melaporkan bahwa polisi Pelabuhan San Diego, California, telah menangkap Vyvianna Quinonez yang berusia 28 tahun dan menuntutnya dengan tindak pidana yang melibatkan kontak fisik dan menyebabkan cedera tubuh serius sehubungan dengan serangan itu.

Menurut Montgomery, jumlah peristiwa ketidakpatuhan penumpang telah mencapai tingkat yang tidak dapat ditoleransi. Ia juga menekankan jika insiden ini sifatnya lebih agresif.

"Saya menulis kepada Anda hari ini karena kami tidak dapat menolerir teman-teman tercinta kami yang dianiaya sedemikian rupa, dan karena saya meminta bantuan dan kepemimpinan Anda untuk mengakhiri hal seperti ini," lanjut surat itu.

Serikat pekerja mengatakan ada 477 insiden di Southwest dari 8 April hingga 15 Mei 2021.

Southwest Airlines mengonfirmasi kepada Fox News bahwa seorang pramugari telah diserang secara fisik dalam penerbangan dari Sacramento ke San Diego yang mendarat Minggu pagi.

Baca juga: 7 Cara Sederhana Memikat Hati Pramugari di Pesawat

Namun maskapai tersebut belum memastikan berapa banyak insiden yang dihadapinya dalam beberapa pekan terakhir.

"Penumpang tersebut berulang kali mengabaikan instruksi dalam pesawat dan bertindak kasar secara verbal dan fisik saat mendarat," kata juru bicara Southwest Chris Mainz. "Petugas Penegak Hukum (LEO) diminta untuk datang, dan penumpang tersebut ditahan."

Mainz mengatakan maskapai tidak memaafkan atau mentolerir pelecehan verbal maupun fisik yang dialami Awak Penerbangan, yang bertanggung jawab atas keselamatan penumpang.

Tetapi, serikat pekerja tersebut menuntut lebih banyak pengamanan bagi awak maskapai. Salah satu tuntutan adalah memberi tahu penumpang dengan lebih baik tentang konsekuensi yang mungkin mereka hadapi untuk tindakan seperti itu, termasuk denda, tuntutan pidana, dan kemungkinan ditempatkan pada daftar wisatawan terbatas.

"Salah satu alat untuk menghukum dengan lebih baik adalah memasukan ke daftar penumpang terbatas Southwest Airlines," bunyi surat itu. "Masyarakat perlu memahami bahwa perilaku buruk akan mengakibatkan mereka dilarang terbang dengan Southwest Airlines."

Serikat pekerja juga menyerukan lebih banyak petugas udara federal dalam penerbangan untuk membantu dalam situasi seperti itu.

"Harus dicatat bahwa Pramugari Southwest melakukan semua yang mereka bisa lakukan untuk memastikan kepatuhan sambil menciptakan lingkungan yang aman bagi semua penumpang dan awak," lanjut surat itu.

ilustrasi

"Tapi mereka juga membutuhkan dukungan dan alat yang dibutuhkan untuk mencegah cedera pada diri kita sendiri dan orang lain."

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) telah menindak penumpang "nakal" yang melanggar instruksi dari pramugari dan melakukan tindak kekerasan.

Dalam tindakan terbarunya, FAA mengungkapkan bahwa mereka telah mengusulkan denda berkisar antara $ 9.000 (128,5 juta) dan $ 15.000 (Rp214,3 juta) terhadap lima penumpang karena diduga mengganggu, dan dalam beberapa kasus, bahkan menyerang pramugari.

"Kami sama sekali tidak menoleransi perilaku yang tidak bisa diatur atau berbahaya," tulis FAA di Twitter.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini