Begini Strategi Jawa Barat Bangkitkan Industri Pariwisata

Antara, Jurnalis · Senin 31 Mei 2021 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 406 2417843 begini-strategi-jawa-barat-bangkitkan-industri-pariwisata-HtnQbKQ0Fk.jpg Perkebunan teh Rancabali di Kabupaten Bandung (Instagram @pesonaid_travel)

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat (Jabar) melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar menyiapkan sejumlah strategi sebagai upaya mempercepat industri kepariwisataan untuk mendongkrak perekonomian di samping mengendalikan atau menekan penyebaran virus COVID-19.

"Kami memiliki sejumlah pilar sebagai strategi dalam rangka mengakselerasi pariwisata dan kebudayaan di Jawa Barat," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Dedi Taufik, Senin (31/5/2021).

 Baca juga: 6 Hal Menarik Seputar Pantai Ujung Genteng, Daya Pikat hingga Penginapan

Dedi menuturkan strategi pertama, menguatkan kekuatan budaya. Jawa Barat memiliki zona budaya, Sunda Betawi, Sunda Priangan di wilayah Metropolitan Bandung dan sekitarnya dan Cirebonan.

"Kekuatan itu akan diangkat melalui sebuah ekspansi budaya di masing-masing kabupaten kota di masa pemulihan ini," kata dia.

Kedua, menguatkan SDM karena di dalam Adaptasi Kebiasaan Baru ada adaptasi di internal dan eksternal pariwisata yang sigap menyesuaikan terhadap kondisi pandemi.

Kemudian mengembangkan konten destinasi dan ada destinasi yang berbasis religi, alam serta buatan namun di masa pemulihan, pihaknya lebih memprioritaskan pariwisata berbasis alam karena dianggap lebih sesuai dengan kondisi pandemi.

 

“Selain destinasi alam tadi, kita industrinya adalah industri lokal ya, supaya dalam situasi seperti ini yang kita inginkan ekonomi kreatif kita jalan ya karena Jawa Barat ini ada keunggulan, di film, fashion, kuliner, dan kriya,” katanya.

Selain itu, pendekatannya ke desa dari 5.312 desa, sekarang ada 215 desa wisata yang memang harus punya basis keunikan, baik kesenian, budaya, kerajinan, keunikan di alam, dan lainnya.

"Kemudian kita harus perkuat adalah pemasarannya,” ujar Dedi.

Baca juga:  Jawa Barat Punya 50 Wisata Alam Baru, Tersebar dari Bogor hingga Garut

Pihaknya juga mengatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten kota melakukan early warning melalui protokol kesehatan dan pengetesan.

Kebijakan yang dilakukan secara disiplin oleh pengelola maupun pengunjung merupakan salah satu kunci industri pariwisata bisa berbenah di masa pandemi.

Dalam keadaan sebelum berdasarkan data BPS Jabar tahun 2019, pariwisata menyumbang Rp3,3 triliun atau sebesar 16 persen dari keseluruhan realisasi PAD provinsi yang sebesar Rp19,8 triliun.

Prokes ketat

Berdasarkan data Disparbud Jabar, angka pendapatan sektor pariwisata yang diperoleh dari kabupaten/kota selama triwulan pertama atau Januari sampai Maret 2021 sebesar Rp819 miliar.

Jumlah tersebut diperoleh dari pajak hotel, restoran dan rumah makan, tempat hiburan, dan retribusi.

“Di sektor pariwisata yang memang kita sekarang dalam rangka pemulihan. Di Tahun 2022, kita berharap nanti ada sebuah penormalan-penormalan, ini juga diawali dengan pemulihan kita punya strategi-strategi,” katanya.

Jika masih ada tempat wisata di Jawa Barat yang masih abai terhadap prokes, pemerintah tak segan melakukan sanksi tegas yang dilakukan melalui prosedur dan tahapan berupa teguran lisan dan tertulis hingga penutupan sesuai peratuan hubernur.

 ilustrasi

Strategi mitigasi COVID-19 harus dilakukan mengingat kunjungan wisatawan mengalami penurunan setelah pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan sosial. Kunjungan ke sejumlah destinasi pariwisata di Jawa Barat dari wisatawan mancanegara turun sebesar 16 persen.

Sedangkan, dari turis nusantara anjlok hingga sekitar 80 persen dan perlu dilakukan strategi untuk kembali membangkitkan sektor pariwisata.

Pertama, melakukan pendekatan kondisi gawat darurat Covid-19 dengan refocusing dan realokasi anggaran bidang pariwisata.

Diharapkan pada tahun 2022 kondisi sektor pariwisata sudah normal kembali seperti biasa.

Terdapat beberapa langkah yang dilakukan di antaranya promosi bersama antara pusat, provinsi, dan kabupaten dan kota, serta melakukan pengawasan protokol kesehatan yang ketat di setiap tempat wisata.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini