Asyiknya Menikmati Wisata Alam Berpadu Kearifan Lokal di Tengah Hutan

Subhan Sabu, Jurnalis · Sabtu 19 Juni 2021 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 408 2427483 asyiknya-menikmati-wisata-alam-berpadu-kearifan-lokal-di-tengah-hutan-R67mZCiURL.jpg Tuur Ma'asering di Kamulembuai, Tomohon, Sulawesi Utara (MNC Portal/Subhan Sabu)

TOMOHON berada di dataran tinggi dengan topografi pegunungan yang membentang dari utara ke selatan. Kota yang terletak sekira 22 kilometer sebelah timur Manado, Sulawesi Utara ini punya banyak tempat wisata di atas bukit yang menawarkan pemandangan alam indah. Salah satunya Tuur Ma’asering.

Tuur Ma’asering terletak di Kelurahan Kemulembuai, Kecamatan Tomohon Timur, sekira 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Tomohon, merupakan destinasi yang memadukan wisata alam dan kearifan lokal.

Tempat wisata ini berada di tengah hutan pohon aren dan dahulu merupakan tempat masyarakat lokal melakukan penyulingan air nira atau saguer yang dirombak menjadi tempat wisata unik ditambah dengan bangunan cafe yang terbuat dari kayu dan bambu menjadi ciri khas tersendiri di Tuur Ma’asering.

Baca juga:  Uniknya Rumah Panggung Minahasa, Dulu Ditanam Kepala Manusia di Tiangnya

Ciri khas unik lainnya yakni ditempat ini anda bisa menyaksikan secara langsung penyulingan cap tikus, minuman khas tradisional Minahasa yang merupakan hasil fermentasi dan distilasi air nira dari pohon Aren.

 Ilustrasi

Keunikan lainnya di Tuur Ma’asering pengunjung bisa mencicipi saguer yang merupakan minuman beralkohol berkadar rendah khas Minahasa dengan disajikan dalam tempurung dan dijadikan sebagai welcome drink bagi pengunjung yang datang.

Jeffri Polii selaku pemilik tempat wisata ini mengatakan bahwa awal tercetus ide pembuatan tempat wisata ini hasil perenungan panjang dirinya selaku aktivis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Ide tersebut kata dia berawasl dari pergumulan bagaimana kemudian ketika berbicara soal pelestarian lingkungan itu bisa seiring dengan peningkatan ekonomi rakyatnya. Kadang kala isu peningkatan ekonomi kerakyatan dan pelestarian lingkungan itu menjadi isu yang terpisah.

Baca juga:  Ini Strategi Tomohon Menuju Destinasi Wisata Sehat dan Aman

"Bagi saya isu pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat itu harus satu dan kemudian hutan aren ini menurut saya yang paling pas mengangkat dua isu yang bersamaan karena menurut saya pohon aren adalah pohon konservasi karena mampu menampung dan menyerap air yang banyak," tutur Jepol, sapaan akrabnya kepada MNC Portal, Jumat 18 Juni 2021.

Selain itu kata dia, banyak petani-petani aren yang sampai hari ini profesinya menjadi pihak-pihak yang selalu dirugikan karena dipersalahkan dan terkena dampak dari terjadinya kriminalisasi dan keributan.

Baginya, petani aren adalah bagian dari profesi yang kemudian mereka hanya berpikir keluarga mereka bisa makan, anak-anak mereka bisa sekolah, persoalan urusan keributan karena ada minuman lokal itu bukan urusan para petani, ada pihak-pihak yang bertangung jawab soal keributan tersebut.

"Dan bagi saya warisan leluhur Minahasa soal penyulingan minuman lokal itu sebuah maha karya leluhur Minahasa yang saya coba angkat menjadi sebuah ikon pariwisata dan puji syukur ternyata itu bisa diterima oleh banyak sekali kalangan," ujar Jepol.

Inti dari konsep Tuur Ma'sering sendiri adalah wisata berbasis masyarakat, bagaimana masyarakat bisa menjadi mata rantai ekonomi pariwisata, karena biasanya ketika sebuah daerah menjadi destinasi wisata baru maka banyak penduduk-penduduk lokal yang terpinggirkan sehingga menjadikan Tuur Ma'asering menjadi benteng terakhir penduduk lokal menghadapi persaingan ke depan.

"Awalnya di sini tempat masyarakat lokal mencari nafkah dengan melakukan penyulingan, jual saguer. Orang yang masuk ke tuur ma'asering tanpa mereka sadari mereka sudah membantu petani aren, membantu dalam pelestarian lingkungan, karena sebagian harga tiket itu untuk petani-petani aren, karena saguer atau nira dijadikan welcome drink di sini, itu milik petani. Hari ini ada petani aren yang sudah dapat gaji 8 juta perbulan, karena saguer dia bawa kesini kita jadikan welcome drink," kata Jepol

 Ilustrasi

Kalau pohon aren sudah bernilai secara ekonomis, penduduk sudah tidak akan menebang, dikonversi menjadi lahan perkebunan dan turut melestarikan lingkungan. Ke depan kata dia, akan dibuat sekolah alam gratis bagi anak-anak di lahan seluas tiga hektare itu.

Saat hari mulai gelap, pemandangan di Tuur Ma’asering akan terlihat lebih menarik, cahaya lampu yang melingkari pohon aren bakal membuat pemandangan sekitar kian unik.

Juga pengunjung bisa bersantai sambil menikmati makanan-makanan ringan yang ditawarkan di Tuur Ma’asering.

Tempat yang beroperasi sejak Oktober 2020 ini pun belakangan menjadi lokasi tujuan wisatawan yang datang dari berbagai wilayah di Sulut dan juga dari mancanegara. Bahkan sejak dibuka hingga hari ini, pengunjung yang datang tetap stabil.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini