Kisah Wanita Sekampung Menganyam Tikar Lanjutkan Tradisi Nenek Moyang

Jamal Pangwa, Jurnalis · Kamis 01 Juli 2021 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 01 406 2433956 kisah-wanita-sekampung-menganyam-tikar-lanjutkan-tradisi-nenek-moyang-bBckj1ilh4.JPG Wanita Gampong Tijien Daboh sedang sibuk menganyam tikar (Foto: iNews/Jamal Pangwa)

BANYAK hal dilakukan manusia untuk melanjutkan tradisi peninggalan nenek moyang mereka. Seperti yang dilakukan kawanan wanita di Gampong Tijien Daboh, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Mereka begitu telaten melanjutkan tradisi menganyam tikar berbahan daun pandan berduri demi melestarikan tradisi nenek moyang. Hal itu dilakoni mereka di bawah rumah adat Aceh.

Seorang penganyam, Mahdalena, mengungkapkan, tikar digunakan untuk keperluan sehari-hari warga Aceh sejak zaman kerajaan. Tikar bisa menjadi alas tempat tidur, tempat duduk, hingga untuk menyambut tamu.

Baca juga: Bandara Megah Senilai Rp156 Triliun di China Resmi Beroperasi

"Karena sudah dibuat dari masa nenek moyang, sebab keperluan tikar ini bisa digunakan untuk berbagai hal, seperti tempat duduk tamu, tempat sembahyang, untuk membalut keranda orang meninggal," kata Mahdalena, belum lama ini.

Kegiatan menganyam tikar dari pandan berduri merupakan tradisi perempuan Gampong Tijien Daboh. Proses pembuatannya pun tak mudah, lantaran harus mencari bahan baku ke hutan, membersihkan duri, membelah menjadi lebih kecil, digosok, direbus, direndam semalaman kemudian dijemur selama satu hari.

Setelahnya diberi warna yang sesuai dengan motif yang diinginkan, kemudian dijemur kembali selama setengah hari, dan digosok hingga lembut.

Adapun proses menganyam paling cepat selesai dalam dua hari, namun untuk tikar sepanjang empat meter butuh waktu pengerjaan selama satu bulan.

Selain melanjutkan tradisi, para wanita tangguh Gampong Tijien Daboh bisa mendapatkan keuntungan ekonomi dari menganyam tikar daun pandan berduri. Mereka menjualnya dengan harga bervariasi tergantung ukuran.

Upaya mereka sejatinya patut diapresiasi. Sebab, jumlah penganyam tikar di Pidie Jaya di zaman serba modern saat ini tak lagi banyak seperti dulu. Di sisi lain masih banyak orang yang mencari tikar sebagai pelengkap kebutuhan rumah tangga mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini