Kapal Kargo Terbakar di Laut, Ratusan Penyu dan 20 Lumba-Lumba Mati Terdampar

Aliefa Khaerunnisa Salsabila, Jurnalis · Selasa 06 Juli 2021 04:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 05 406 2435919 kapal-kargo-terbakar-di-laut-ratusan-penyu-dan-20-lumba-lumba-mati-terdampar-ioMp4wu2yK.jpg Penyu (New York Post)

RATUSAN kura-kura laut atau penyu mati terdampar di tepi pantai Sri Lanka. Para ahli menyebut ini sebagai salah satu bencana lingkungan buatan manusia terburuk di negara itu.

Laporan mengatakan setidaknya empat paus, 20 lumba-lumba dan 176 penyu mati beberapa minggu setelah sebuah kapal kargo MV X-Pearl terbakar dan tenggelam di lepas pantai barat Sri Lanka, pada Juni 2021.

Melansir dari Independent, Senin (5/7/2021), petugas satwa liar telah memindahkan bangkai penyu dan lumba-lumba yang mati karena keracunan bahan kimia dan panas yang hebat dari kapal kontainer yang terus terbakar selama hampir dua minggu di lepas pantai Sri Lanka.

Baca juga: Luput dari Maut, Gerombolan Penyu Muda Dilepas ke Teluk Meksiko

Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sri Lanka bersama dengan Penjaga Pantai India, bekerja sama untuk memadamkan api di kapal kargo yang terbakar.

Pada 20 Mei, MV X-Pearl yang terdaftar di Singapura dengan 1.486 kontainer, termasuk 25 ton asam nitrat bersama dengan bahan kimia dan kosmetik lainnya, terbakar. Laporan mengatakan kru telah mengetahui kebocoran di salah satu kontainer.

 

Kapal terus terbakar selama hampir 14 hari, setelah itu tenggelam pada 2 Juni. Para kru telah dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit. Beberapa anggota juga dinyatakan positif COVID-19 dan diisolasi.

Reuters melaporkan bahwa Tyutkalo Vitaly, kapten kapal Rusia, muncul di pengadilan pada Kamis tetapi belum didakwa.

Baca juga: Asyiknya Mengunjungi Anak-Anak Penyu di Pusat Penangkaran di Gili Meno

Pada sidang pengadilan awal pada Rabu, wakil jaksa agung negara itu Madawa Tennakoon, mengatakan bahwa racun yang dikeluarkan dari kapal yang terbakar itu membunuh "176 kura-kura, 20 lumba-lumba dan empat paus.”

“Ada lebih dari 190 item kargo (di kapal) dan sebagian besar berbasis plastik,” kata Mahinda Amaraweera, Menteri Lingkungan Hidup Sri Lanka.

Pelet plastik yang tak terhitung jumlahnya juga telah tersebar di seluruh pantai dengan beberapa sukarelawan berusaha membersihkannya.

Sebagian besar bangkai yang ditemukan di pantai barat diketahui terkena dampak langsung dari kapal karam karena makhluk laut tidak pernah mati dengan cara ini, menurut Amaraweera.

“Sangat jelas bahwa kematian hewan laut ini terkait dengan kapal. Tahun lalu, selama periode waktu yang sama hanya dua kematian penyu yang dilaporkan,” kata Dharshani Lahandapura, Ketua Otoritas Perlindungan Lingkungan Laut Sri Lanka.

Pusat Keadilan Lingkungan yang berbasis di Kolombo memperkirakan kapal itu menumpahkan sebanyak 70 miliar potongan kecil plastik yang dikenal sebagai nurdles, yang secara fatal dapat menyumbat sistem pencernaan hewan yang memakannya, lapor New York Times.

 Ilustrasi

Pemerintah Sri Lanka telah menetapkan setidaknya 15 orang, termasuk Vitaly, sebagai tersangka dalam kasus kerusakan yang ditimbulkan. Vitaly tidak berbicara dengan media tentang meninggalkan pengadilan pada hari Kamis, kata laporan lokal. Dia telah dilarang meninggalkan negara itu.

Awalnya, ketika pelet plastik dan puing-puing dari kapal yang tenggelam terdampar di pantai, pemerintah Sri Lanka melarang penangkapan ikan. Namun, pihak berwenang mengatakan pekan lalu bahwa mereka telah mencabut larangan di beberapa bagian pantai yang terkena dampak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini