Museum Belgia Janji Kembalikan Artefak Kuno yang Pernah Dijarah di Kongo

Aliefa Khaerunnisa Salsabila, Jurnalis · Sabtu 10 Juli 2021 01:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 09 406 2438132 museum-belgia-janji-kembalikan-artefak-kuno-yang-pernah-dijarah-di-kongo-Gc80DDQ5Dc.JPG Salah satu patung kuno yang dicuri dari Kongo (Foto: Reuters/Yves Herman)

SEJAK akhir abad ke-19, ribuan karya seni termasuk patung kayu, topeng gading gajah, manuskrip, dan alat musik tradisional 'dijarah' oleh para kolektor, ilmuwan, penjelajah, hingga tentara Belgia maupun Eropa lainnya dari Republik Demokratik Kongo.

Museum Afrika di Belgia yang pernah menjadi perayaan pemerintahan kolonial negara itu, akan memulai proses pengembalian karya seni curian itu ke negara asalnya.

“Pendekatannya sangat sederhana, segala sesuatu yang diperoleh melalui cara tidak sah, melalui pencurian, melalui kekerasan, melalui penjarahan, harus dikembalikan," kata Menteri Junior Belgia, Thomas Dermine melansir Reuters.

"Itu bukan milik kita," tegasnya.

Jutaan orang Kongo diperkirakan telah meninggal sejak akhir abad ke-19 ketika Kongo pertama kali menjadi wilayah kekuasaan pribadi Raja Leopold II, sebelum menjadi koloni Belgia.

Baca juga: Viral Seorang Pria Siram Penumpang Lain di Pesawat karena Selonjoran Kaki

Belgia akan mengalihkan kepemilikan legal dari artefak tersebut ke Kongo. Namun, pengembalian tidak akan dikirim ke negara itu dari museum di Tervuren tanpa permintaan secara khusus oleh otoritas Kongo.

Hal tersebut dikarenakan atensi masyarakat di Belgia terhadap benda kuno lebih besar ketimbang di Kongo, yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia versi PBB.

Terlebih, Belgia memiliki beberapa pusat budaya atau fasilitas penyimpanan yang lebih layak untuk berbagai artefak tersebut.

“Museum percaya akan dapat bekerja sama dengan pihak berwenang Kongo, seperti yang biasa terjadi di antara lembaga-lembaga internasional, untuk menyimpan benda-benda di Belgia melalui perjanjian pinjaman," ujar Direktur Museum, Guido Gryseels, menyitir Hindustan Times.

Museum ini juga memiliki banyak artefak yang asal-muasalnya tidak jelas. Ia berharap untuk menggunakan tim ilmuwan dan ahli selama lima tahun ke depan untuk mengidentifikasi benda-benda agar bisa teridentifikasi dan diperoleh secara legal oleh pihak museum.

“Dalam lima tahun dengan banyak sumber daya, kami dapat melakukan banyak hal, tetapi mungkin perlu bekerja selama 10 hingga 20 tahun ke depan untuk benar-benar yakin dengan semua objek yang kami miliki, bahwa kami mengetahui keadaan persisnya saat mereka diperoleh," tuturnya.

Baca juga: Pasangan Ini Bulan Madu Sambil Berbugil Ria Keluyuran Shopping

Sementara, profesor antropologi di Universitas Kinshasa yang bekerja di Museum Tervuren, Placide Mumbembele Sanger berujar bahwa pengembalian artefak itu sebenarnya bisa dilakukan sangat sederhana, tanpa melalui mekanisme rumit.

“Ini adalah objek yang kembali ke konteks alaminya, jadi saya tidak mengerti mengapa kita harus mengajukan begitu banyak pertanyaan. Seolah-olah Anda pergi keluar dan seseorang mencuri dompet Anda dan orang itu bertanya apakah Anda siap untuk mendapatkannya kembali atau tidak," sindir sang profesor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini