Seluruh Desa Wisata di Bali Ditargetkan Raih Sertifikasi CHSE Tahun Ini

Antara, Jurnalis · Senin 12 Juli 2021 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 11 406 2438999 seluruh-desa-wisata-di-bali-ditargetkan-raih-sertifikasi-chse-tahun-ini-oa6wWan3BS.JPG Wagub Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace (Foto: Pemprov Bali)

WAKIL Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati meminta pengelola desa wisata di berbagai daerah di Pulau Dewata untuk segera mengurus sertifikasi CHSE yang difasilitasi gratis oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

"Seluruh desa wisata di Bali saya harap menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya agar tahun ini seluruhnya bisa tersertifikasi," kata Wagub Bali yang biasa disapa Cok Ace.

Dalam webinar Forum Komunikasi Desa Wisata (DEWI) Bali yang mengusung tema 'CHSE Desa Wisata Kunci Menerima Wisatawan' ia menambahkan, pada tahun ini, Bali mendapat program sertifikasi CHSE untuk 1.200 objek kategori hotel dan non-hotel.

Sertifikasi CHSE adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, destinasi pariwisata, dan produk pariwisata lainnya untuk memberikan jaminan kepada wisatawan terhadap pelaksanaan kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), keselamatan (safety), dan kelestarian lingkungan (environment sustainability).

Dalam kesempatan itu, Cok Ace menekankan tujuh strategi yang mesti diperhatikan dalam menghadapi tren perubahan pada sektor pariwisata.

Baca juga: Wisata Alam Tubing Garut Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Salah satu strategi yang menurutnya sangat penting adalah integrasi penerapan protokol kesehatan dan keamanan yang menjadi sebuah kebutuhan mendesak saat ini.

Sebelumnya, ujar Cok Ace, pelaku pariwisata terkesan terlalu percaya diri dan sudah merasa nyaman dengan kualifikasi yang dimiliki. Padahal, sebaik apapun kualifikasi yang dimiliki, belum bisa meyakinkan jika tak dilengkapi bukti sertifikat.

"Saya contohkan hal kecil, seorang tukang kebun di satu hotel secara kualifikasi punya kemampuan yang andal. Tapi tanpa sertifikat, dia tidak memiliki bukti kalau dia andal," kata pria yang juga Ketua PHRI Bali itu.

Selain pentingnya integrasi penerapan protokol kesehatan dan keamanan, enam strategi lain yang harus mendapat perhatian yaitu memahami perubahan kebiasaan wisatawan, pentingnya campur tangan pemerintah, dan komunikasi marketing untuk pemulihan kepercayaan pasar.

Selanjutnya investasi di bidang teknologi informasi, pengembangan model bisnis baru dengan mengedepankan sistem online dan pentingnya pemahaman cara mempertahankan bisnis.

Panglingsir Puri Ubud ini mengingatkan pula dua hakikat yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata. Pertama, pariwisata tidak boleh mendegradasi, merusak apalagi mematikan adat dan budaya bali.

Kedua, pariwisata tidak boleh mematikan atau mengeliminasi rakyat Bali dan tidak boleh menghancurkan alam bali dan memberi manfaat bagi kesejahteraan.

Webinar ini turut menghadirkan enam pembicara lain yaitu Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Trisno Nugroho, Ketua BTB/GIPI Bali IB Agung Partha Adnyana, Kadis Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa, Ketua Pusat Unggulan Pariwisata UNUD Anak Agung Suryawan Wiranatha, Tim Sertifikasi CHSE IB Purwa Sidemen dan Asesor CHSE Dian Indrawati.

Sementara itu, Asesor CHSE, Dian Indrawati mengatakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memprioritaskan Bali dalam program sertifikasi CHSE. Di tahun 2020, pihaknya mengeluarkan 982 sertifikat CHSE untuk 510 hotel dan 472 non hotel.

"Tahun 2021, Bali memperoleh jatah sertifikasi untuk 1.200 objek, terdiri atas 200 kategori hotel dan 1.000 non hotel," kata Dian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini