Kisah Owner Wisata Jual Burung Rp2 Miliar Buat Gaji Karyawan

Adi Haryanto, Jurnalis · Selasa 27 Juli 2021 18:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 27 406 2446871 kisah-owner-wisata-jual-burung-rp2-miliar-buat-gaji-karyawan-eNK2HTzaif.JPG Koleksi burung di TWGC Lembang, Bandung Barat (Foto: Instagram/@officialgrafika)

PENGELOLA wisata menjadi salah satu paling terdampak penutupan objek wisata imbas pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Belum lagi kebijakan PPKM memaksa mereka menghentikan operasionalnya demi menekan laju penyebaran Covid-19.

Lesunya kunjungan wisatawan membuat mereka terpaksa harus merumahkan karyawan lantaran minimnya pemasukan. Namun, di tengah kondisi serba sulit ini masih ada pengelola wisata yang rela memutar otak demi tetap bertahan hidup.

Salah satunya yakni pemilik objek wisata Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Eko Suprianto. Ia bahkan terpaksa menjual 12 ekor burung Macaw di wahana Grafika Bird Park demi menutupi biaya operasional.

Baca juga: Pantai Mutiara Baru, Destinasi Wisata Pengamatan Burung di Lampung

Belasan burung itu sebenarnya merupakan koleksi dan menjadi satwa primadona di wahana Grafika Bird Park.

Burung TWGC Lembang

(Foto: Instagram/@officialgrafika)

"Burung-burung (Macaw) sudah dijual, totalnya ada sekitar 12 ekor. Itu untuk menutupi biaya operasional perusahaan," kata dia mengawali cerita, Selasa (27/7/2021).

Harga jual ke-12 ekor burung Macaw itu lanjut Eko, mencapai Rp2 miliar dengan harga terendah Rp30 juta dan banderol tertinggi Rp200 juta. Akan tetapi ada pula burung yang diberikan ke kolega dan temannya untuk dialihrawatkan. Sedangkan yang tersisa kini hanyalah Jalak Bali dan Rusa.

"Semoga kondisi cepat pulih, Covid-19 hilang jadi wisata kembali normal. Karena kalau terus begini sulit bagi pelaku usaha wisata untuk bertahan," tuturnya.

Dia juga sudah mengurangi karyawan untuk dirumahkan sementara dari asalnya sekitar 200-300 orang, kini tinggal di kisaran 100 orang. Sebab, tidak kuat untuk membayar gaji karyawan yang totalnya mencapai lebih dari Rp500 juta per bulannya.

Eko melanjutkan, pembayaran pajak ke Pemda KBB juga harus ditangguhkan sementara. Hal itu terjadi sejak Desember 2020 hingga Mei 2021. Surat resmi telah dilayangkan ke Pemda KBB untuk menunda pembayaran pajak. Namun hal itu kembali akan dibayar ketika objek wisatanya kembali beroperasi.

"Pajak daerah dari Desember, Januari sampai Mei belum dibayar. Yang Juni saya bayar, tapi dikenai denda. Soalnya lagi susah, pajak yang dibayar kan dari pemasukan konsumen atau pengunjung, kalau usahanya tutup ya gimana," jelas Eko.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini