Gunung Fuji Menghipnotis Para Pendaki dengan Sunrise Spektakuler di Atas Awan

Firziana Zahra, Jurnalis · Rabu 28 Juli 2021 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 27 408 2446842 gunung-fuji-menghipnotis-para-pendaki-dengan-sunrise-spektakuler-di-atas-awan-TeudS3k05k.jpg Sunrise di Gunung Fuji, Jepang (AFP via Daily Sabah)

JALUR pendakian ke puncak Gunung Fuji setahun lebih ditutup akibat pandemi COVID-19. Namun, gunung ikonik di Jepang ini kembali dibuka bulan ini. Para pendaki pun bergembira. Mereka berbondong-bondong ke gunung berapi aktif itu untuk menikmai matahari terbit atau sunrise yang spektakuler di atas awan.

Pada dini hari baru-baru ini, lebih dari 100 orang berkumpul di puncak gunung suci yang tertutup es dan salju hampir sepanjang tahun.

"Fuji selalu dipuja. Itu adalah gunung yang menjadi objek pemujaan. Meskipun saya tidak terlalu religius, saya merasa dimurnikan dengan datang ke sini, entah bagaimana," kata Takeo Tokunari, seorang pendaki berusia 34 tahun.

Baca juga: 7 Destinasi Wisata Alam yang Menakjubkan di Jepang

Fuji-san, seperti yang dikenal dalam bahasa Jepang, adalah simbol klasik dari negara yang saat ini menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 2020.

Ilustrasi

Acara bersepeda sedang berlangsung di dalam dan di sekitar lerengnya, dengan tanjakan curam dari road race jarak jauh yang menantang bahkan atlet terkuat di musim panas yang terik di Jepang.

Gunung setinggi 3.776 meter atau 12.388 kaki tersebut berjarak sekitar 2 jam dari pusat kota Tokyo dengan kereta api.

Tapi itu dapat dilihat dari jarak bermil-mil, dan telah diabadikan dalam karya seni Jepang yang tak terhitung jumlahnya, termasuk "Gelombang Besar" Hokusai yang terkenal di dunia.

Tepat setelah pukul 4:30 pagi, setelah pendakian malam yang panjang dan istirahat sejenak di lereng gunung, para pejalan kaki disuguhi pemandangan matahari terbit yang megah.

Baca juga: Serunya One Day Trip ke Gunung Fuji Jepang

Pendaki di puncak dapat menyaksikannya menembus awan di balik gerbang "torii" tradisional di lereng gunung.

"Saya sudah mendaki gunung lain, tapi Gunung Fuji itu istimewa. Ini adalah gunung berapi yang tidak terhubung ke pegunungan lain, berdiri sendiri dengan anggun di lanskap, menurut saya itu indah," kata pramugari Haruka Fujimori (23) seperti dilansir dari Daily Sabah, Selasa (27/7/2021).

Mizuki Ogawa (23) mengatakan, mendaki Gunung Fuji merupakan sebuah tantangan.

"Dalam kehidupan sehari-hari dan di tempat kerja, saya terkadang mengalami situasi sulit yang membuat saya kehilangan kepercayaan diri. Jadi saya menantang diri saya sendiri untuk mendaki Gunung Fuji untuk mencoba mendapatkan kembali kepercayaan diri saya," kata Ogawa kepada kantor berita AFP.

Namun, di balik pemandangannya yang menakjuban, Gunung Fuji juga berbahaya. Jalur pendakian dari stasiun kelima di lerengnya hingga puncak hanya dibuka dari awal Juli hingga September.

Sisa tahun dianggap terlalu berbahaya untuk didaki. Posko-posko penginapan dan toilet di rute pendakian ditutup untuk mencegah calon pejalan kaki.

Ilustrasi

Tapi hal tersebut tidak selalu menghentikan orang, dan pada Oktober 2019 seorang pria meninggal setelah jatuh dari gunung saat melakukan streaming langsung.

Fuji terakhir meletus pada 1707, dan meskipun belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan dalam beberapa dekade terakhir, para ahli mengatakan letusan dapat menghujani Tokyo dengan abu dan memaksa ratusan ribu orang mengungsi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini