Katak Spesies Baru Ditemukan di Hutan Garut, Seperti Ini Wujudnya

Antara, Jurnalis · Sabtu 31 Juli 2021 04:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 30 406 2448350 katak-spesies-baru-ditemukan-di-hutan-garut-seperti-ini-wujudnya-jLg2e3Lk4d.JPG Katak pucat pantai selatan spesies baru ditemukan di hutan Garut (Foto: Antara)

LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis penemuan spesies baru katak-pucat pantaiselatan dari marga Chirixalus Boulenger. Katak tersebut ditemukan di hutan dataran rendah di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Temuan itu pun menambah koleksi data keanekaragaman hayati Indonesia.

"Setelah dilakukan analisis morfologi, molekuler dengan menggunakan DNA mitokondria dan suara kawin (advertisement call) maka jenis tersebut tidak cocok dengan jenis dari marga yang sudah ada. Oleh karena itu, didukung oleh bukti morfologi, molekuler, dan akustik maka jenis ini dideskripsikan sebagai jenis baru," kata peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy dalam keterangan persnya, Jumat, 30 Juli 2021.

Katak-pucat pantaiselatan (Chirixalus pantaiselatan sp. nov.) merupakan kelompok katak Rhacophorid kecil dengan panjang tubuh jantan 25,3–28,9 mm.

Sampel katak-pucat pantaiselatan itu dijumpai pada 2017 dalam kegiatan citizen science yakni Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita (Go ARK).

Hasil penelitian tersebut telah diterbitkan pada Raffles Bulletin of Zoology pada 5 Juli 2021. Temuan itu dapat memberikan informasi baru tentang distribusi beberapa spesies atau bahkan jenis baru dari area umum.

Amir yang merupakan salah satu penulis dalam penelitian itu mengatakan Chirixalus pantaiselatan sp. nov. secara morfologi paling mirip dengan Chirixalus nongkhorensis dari Chonburi, Thailand.

Baca juga: Hujan Katak hingga Hujan Darah, 5 Fenomena Hujan Paling Menakutkan di Dunia

Katak Pucat Pantai Selatan

"Pola warna punggungnya serta secara genetik paling dekat dengan Chirixalus trilaksonoi yang juga berasal dari Jawa Barat," ujar dia.

Selain Amir, Misbahul Munir yang merupakan salah satu kontributor utama dari penemuan tersebut menuturkan saat ini, status konservasi Chirixalus pantaiselatan kemungkinan terancam kritis.

Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), kriteria Daftar Merah Spesies Terancam adalah tingkat kemunculannya <100 kilometer persegi (km2), luas huniannya <10 km2, dan hanya ditemukan di satu lokasi, yang kualitas habitatnya menurun.

Sementara itu, usulan status Daftar Merah IUCN untuk jenis baru itu didasarkan pada data yang terbatas dan membutuhkan survei intensif untuk justifikasi yang lebih kuat.

Dalam publikasi jenis baru Chirixalus pantaiselatan sp. nov. tersebut juga ditemukan jenis katak lain yang belum pernah dilaporkan dari Jawa, yakni Polypedates macrotis (Katak-panjat telinga-hitam). Sebelumnya, di Indonesia jenis tersebut hanya tercatat dari wilayah Kalimantan dan Sumatera, sehingga kehadirannya di Jawa merupakan catatan baru.

Tim Go ARK terdiri dari mahasiswa dan komunitas penelitian yang melakukan pengamatan dan melaporkan amfibi dan reptil di sepanjang Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Observasi di hutan dataran rendah bagian selatan Jawa Barat melibatkan empat penulis sekaligus peserta Go ARK yaitu Umar Fhadli Kennedi, Mohammad Ali Ridha, Dzikri Ibnul Qayyim, dan Rizky Rafsanzani. Mereka menjumpai jenis rhacophorid yang menyerupai genus Chirixalus.

Di sisi lain, Amir menyoroti pentingnya partisipasi publik dan keterlibatan ilmiah profesional dalam pemantauan keanekaragaman hayati.

"Pengetahuan dan keterlibatan masyarakat dapat memberikan data empiris tentang skala spasial yang belum pernah terjadi sebelumnya," tuturnya.

Kurangnya informasi keanekaragaman hayati seperti distribusi, populasi, dan informasi habitat dari spesies adalah masalah serius dalam program konservasi keanekaragaman hayati di negara berkembang seperti Indonesia.

"Partisipasi publik yang dikelola dengan baik akan dapat membantu menyelesaikan masalah ini di masa depan," tandas Amir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini