Riau Dorong Implementasi 4 Paradigma Baru Pariwisata, Apa Saja?

Antara, Jurnalis · Kamis 05 Agustus 2021 13:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 05 406 2451094 riau-dorong-implementasi-4-paradigma-baru-pariwisata-apa-saja-a0chymUzsf.JPG Salah satu objek wisata di Riau, Pantai Rupat (Foto: Instagram/@nandahopii)

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Riau terus mendorong implementasi empat paradigma baru sektor pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke daerah itu di masa pandemi. Tujuannya semata-mata untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Empat paradigma baru sektor pariwisata tersebut yakni berbasis lingkungan, sinergi antara komunitas, paradigma berbasis ekonomi kreatif, dan tata kelola yang baik, yang perlu terus didorong agar minat pengunjung makin meningkat," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat.

Paradigma baru pariwisata yang pertama adalah berbasis lingkungan, yakni mendorong masyarakat menjaga keseimbangan ekosistem, pelestarian sumber daya alam, mempertahankan sistem air dan kesuburan tanah.

Baca juga: Riau Kembangkan Desa Wisata Batu Tilam, Surga Tersembunyi Memesona

Mungkin sistem ini, sudah diterapkan sejak dulu, namun perlu lebih dioptimalkan lagi dengan mendorong seluruh masyarakat fokus wisata alam, yang dinilai sangat potensial di Riau.

"Wisata alam Riau yang potensial dikembangkan antara lain Pantai Rupat dengan pasir putihnya, Ombak Bono dan kawasan Tesso Nilo, Taman Nasional Bukit Tigapuluh Rengat, Candi Muara Takus, satu-satunya candi peninggalan umat Budha di Riau, dan lainnya, sehingga butuh partisipasi publik dalam pengelolaan destinasi tersebut," terang Roni.

Partisipasi publik dalam pengelolaan destinasi tersebut kata dia, perlu lebih ditingkatkan, sebagai bagian dari memperkuat sinergitas antara komunitas, disamping tetap memperkuat kearifan lokal.

Sinergi antara komunitas dimaksudkan adalah bagaimana berkolaborasi antar komunitas yang ingin mengeksplor kawasan baru wisata dan bagaimana mempromosikan wisata tersebut melalui media sosial, tujuannya adalah meningkatkan pendapatan masyarakat dan usaha mikro, yang diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja sebagai hilirisasi dari pariwisata tersebut.

"Pengembangan usaha mikro khususnya di lokasi destinasi wisata selain fokus untuk mendapatkan keuntungan dari parkir atau tiket masuk, juga meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata, dengan mengandalkan sektor ekonomi kreatif," tuturnya.

Contohnya kata dia, pengembangan usaha ekonomi kreatif di Koto Masjid Kabupaten Kampar, mengolah ikan salai patin, kerupuk patin yang memberikan dampak pada semua masyarakat di sekitar usaha tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini