Sandiaga Uno: Pengembangan Wisata Labuan Bajo Sesuai Prinsip Berkelanjutan

Antara, Jurnalis · Jum'at 06 Agustus 2021 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 06 406 2451676 sandiaga-uno-pengembangan-wisata-labuan-bajo-sesuai-prinsip-berkelanjutan-luPDqNa5ST.jpeg Menparekraf RI, Sandiaga Salahuddin Uno (Foto: Kemenparekraf)

MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno memastikan akan terus mengedepankan prinsip-prinsip pariwisata berkualitas dan berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Destinasi Super Prioritas (DSP) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan adalah pengembangan pariwisata yang memerhatikan dengan seksama dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, makhluk hidup, dan ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

"Dalam penerapannya, pariwisata berkelanjutan memiliki prinsip untuk memberdayakan masyarakat melalui kebudayaan dan kearifan lokal. Sejalan dengan itu melestarikan alam dan meningkatkan kesejahteraan, serta ditambah aspek pengelolaan secara profesional. Tidak semata-mata memerhitungkan dampak ekonomi, tapi juga dampak yang akan terjadi terhadap lingkungan dan sosial budaya masyarakatnya," kata Sandiaga dalam keterangan tertulisnya.

Pengembangan pariwisata di Labuan Bajo kata dia, harus tetap memerhatikan aspek lingkungan, budaya, dan kearifan lokal sehingga konsep wisata premium yang disiapkan pemerintah di Labuan Bajo benar-benar terwujud.

Konsep premium yang dimaksud mengacu kepada layanan yang berkualitas tinggi dan kental dengan keunikan alam, sosial, budaya, masyarakat, dan makhluk hidup di dalamnya sehingga memberikan pengalaman yang bernilai tinggi bagi wisatawan, dengan tetap memerhatikan keberlangsungan lingkungan hidup.

Baca juga: 16.487 Pelancong Sambangi Taman Nasional Komodo, Dominan Wisatawan Domestik

Pihaknya lanjut Sandi, akan terus berkoordinasi bersama dengan kementerian/lembaga serta pihak-pihak terkait lainnya untuk terus memastikan bahwa penataan sarana dan prasarana di zona pemanfaatan di Taman Nasional Komodo tidak mengakibatkan dampak negatif terhadap Outstanding Universal Value (OUV) situs warisan alam dunia Taman Nasional Komodo.

Infografis Labuan Bajo

Kemenparekraf kata dia, juga tengah menyusun Integrated Tourism Master Plan (ITMP) Labuan Bajo bersama K/L terkait sebagai salah satu upaya untuk memproyeksi ke depan dan menyusun skenario pengembangan sekitar kawasan dalam ITMP ini.

"Cakupan ITMP akan meliputi analisis demand and supply terhadap pengembangan wilayah. Jadi yang kita susun dalam ITMP adalah proyeksi jumlah wisatawan yang disesuaikan dengan carrying capacity, alur perjalanan dan strategi pengembangan yang terintegrasi. Sehingga para turis diharapkan lebih lama tinggal di Indonesia," katanya.

ITMP didesain dengan teliti dan baik serta perlu memertimbangkan potensi pasar yang ada, baik domestik, internasional, terutama tren pariwisata ke depan pascapandemi Covid-19.

Baca juga: Sandiaga Uno Ajak Masyarakat Singapura Wisata Virtual ke Labuan Bajo dan Bromo

Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang harus bisa mencocokkan keunikan yang dimiliki dan disesuaikan dengan kalkulasi potensi pasar yang tepat.

"Kita harus bisa mencocokkan antara supply and demand dan perlu ada target yang jelas, target yang terukur, breakdown pekerjaan, timeline yang jelas, dalam pembentukan ITMP tersebut," ujar Sandiaga.

Selain itu, Kemenparekraf dalam pengembangan produk wisata di Labuan Bajo juga akan memaksimalkan kekuatan budaya serta konten lokal yang otentik. Saat ini Kemenparekraf bersama Badan Pariwisata Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus mendorong inkubasi berbagai kegiatan kreatif seperti seni pertunjukan, seni musik, seni tari, fesyen, juga kuliner, dengan melibatkan komunitas-komunitas yang ada.

Di antaranya adalah inkubasi 'Aksilarasi' di Desa Pasir Panjang dan di Desa Komodo yang menghasilkan tari kontemporer kreasi anak muda Animal Pop Komodo sebagai alternatif produk wisata yang juga sempat ditampilkan di Stasiun MRT Jakarta, pada Mei 2021 silam.

Selain itu, ada juga dukungan pengembangan desa wisata di luar kawasan TNK seperti Desa Liang Ndara, di mana desa tersebut diberi pendampingan untuk menawarkan atraksi seni pertunjukan berbasis budaya yang memperkenalkan Tari Caci sebagai salah satu kebudayaan milik Manggarai sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo.

"Juga secara konsisten memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat sehingga mereka dapat turut merasakan manfaat dari pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di destinasi," tutup Sandi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini