5 Tempat Keramat di Wonogiri yang Pernah Dikunjungi Raja-Raja Jawa

Solopos.com, Jurnalis · Sabtu 07 Agustus 2021 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 07 408 2452375 5-tempat-keramat-di-wonogiri-yang-pernah-dikunjungi-raja-raja-jawa-oCk2uCAgeN.jpg Sendang Siwani di Desa Singodutan, Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah (Solopos)

KABUPATEN Wonogiri, Jawa Tengah, mempunyai cerita atau kisah tersendiri pada masa lalu. Sejumlah tempat di Wonogiri pernah dikunjungi oleh beberapa raja pada masa Kerajaan Islam di Jawa.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Wonogiri, Dennys Pradita, mengatakan daerah di Wonogiri yang pernah dikunjungi para raja dibuktikan dengan adanya petilasan dan pesanggrahan.

Selain itu juga didasarkan pada cerita rakyat yang diwariskan dan memori kolektif masyarakat.

Berikut lima tempat di Wonogiri yang pernah dikunjungi raja pada masa Kerajaan Islam di Jawa:

1. Kahyangan

Lokasi yang saat ini menjadi wisata religi itu bertempat di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri. Berdasarkan cerita rakyat, raja yang pernah mengunjungi Kahyangan yakni Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.

Baca juga: Bukan Islandia, Infinity Pool dengan Panorama Pegunungan Ini Ada di Wonogiri

Dennys mengatakan sebelum menjadi raja, Panembahan Senopati bertapa dulu di Kahyangan. Saat bertapa di sana, ia mendapat wahyu atau pulung dan bertemu dengan penguasa ratu selatan. Kemudian terjadi perjanjian gaib antara keduanya.

Ilustrasi

Kahyangan di Desa Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri sebelum pandemi (Istimewa)

“Dalam pertemuan itu, Panembahan Senopati diberi wejangan atau titah kalau dirinya dan keturunannya akan menjadi raja Jawa,” kata dia kepada Solopos.com, Sabtu (7/8/2021).

Ia menuturkan, Panembahan Senopati ke Kahyangan pada abad ke-16. Hingga kini Kahyangan dibawah pengelolaan Keraton Yogyakarta meskipun lokasinya berada di Soloraya. Sebab dulu ada pembagian tempat yang dianggap keramat dan memiliki nilai religius.

“Saat ini Kahyangan ditetapkan sebagai tempat spiritual. Setiap ada kejadian atau acara digelar di sana. Kahyangan dijadikan tempat yang memiliki nilai religius bagi Kerjaan Mataram,” kata dia.

2. Sendang Siwani

Tempat berupa sumber mata air itu berada di Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Sendang itu menjadi petilasan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau Raden Mas Said (RMS), pendiri Praja Mangkunegaran.

Baca juga: Bukan Bali, Ini Cuma Desa Wisata Kekinian di Wonogiri

“Sendang Siwani menjadi tempat yang digunakan RMS dan pasukannya. Selain di sana, Kecamatan Selogiri juga menjadi pusat membangun kekuatan RMS saat itu. RMS di Wonogiri mulai 1755 hingga 1757,” kata dia.

3. Pesanggrahan Bubakan

Di Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri terdapat sebuah pesanggrahan. Dennys mengatakan, pesanggrahan itu dibangun oleh Raden Mas Said (RMS) atau Pangeran Sambernyawa. Bangunan itu dibangun saat RMS membangun kekuatan di daerah selatan yang berpusat di Nglaroh, Kecamatan Selogiri.

Dimungkinkan, pesanggrahan itu dibangun untuk tempat menyendiri, menenangkan diri atau tempat berlibur raja. “Kini pesanggrahan itu sudah berbentuk rumah yang dibangun dengan tembok,” ungkapnya.

4. Candi Pasimaran

Candi itu berada di Kecamatan Jatisrono, Wonogiri tepatnya berada di sebarang Terminal Jatisrono. Pasalnya bangunan itu ada sejak 1800-an. Masyarakat sekitar menganggap bangunan itu candi karena bentuknya menyerupai candi.

Namun, menurut Dennys, bangunan itu dibangun pada masa Kerajaan Islam. Di sisi lain, biasanya candi dibangun pada masa Kerajaan Hindu dan Budha. Dimungkinkan saat membangun masih terpengaruh dengan kentalnya budaya Hindu dan Budha.

“Dimungkinkan dulu dijadikan tempat pesanggrahan. Masyarakat mengatakan petilasan Raden Mas Said. Namun ada misinterprestasi. Sebab bangunan itu ada setelah hampir seratus tahun setelah RMS meninggalkan Wonogiri. Dimungkinkan bangunan itu petilasan Mangkunegera IV,” papar dia.

Ilustrasi

5. Kawasan Mento-Toelakan

Mento-Toelakan kini menjadi nama Dusun Mento dan Dusun Tulakan, Desa Wonoharjo, Kecamatan Wonogiri, Wonogiri. Pada zaman Hindia-Belanda di kawasan itu berdiri perusahaan serat terbaik dan terbesar. Perusahaan itu bernama Cuultur-Maatschappij Mento Toelakan atau _Onderneming_ Mento Toelakan, berdiri mulai 1897 hingga akhir 1940-an.

Paku Buwana X pernah mengunjungi perusahaan itu karena daerah itu berbatasan wilayah milik Mangkunegaran dan Kasunanan. Selain itu, Paku Buwana X mempunyai kedekatan dengan Kepala Administrator Onderneming Mento Toelakan, Blankwaardt.

“Kedekatan antara keduanya karena Blankwaardt menyukai kebudayaan jawa. Ia mempunyai seperangkat wayang kulit dengan peralatan untuk memahat kulit menjadi bentuk wayang,” kaya Dennys.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini