Negara Ini Lenyap dari Peta saat Air Laut Pasang, Terancam Musnah di Masa Depan

Firziana Zahra, Jurnalis · Selasa 17 Agustus 2021 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 17 406 2456749 negara-ini-lenyap-dari-peta-saat-air-laut-pasang-terancam-musnah-di-masa-depan-vxiQGrWTun.JPG Tuvalu, negara kecil yang terancam tenggelam di masa depan akibat perubahan iklim (Foto: News.co.au)

PEMANDANGAN laut Funafuti, ibu kota Negara Tuvalu memiliki pesona luar biasa. Seluruh negeri yang dulunya bernama Ellice Islands di Kepulauan Polinesia itu dibangun di atas tiga pulau karang yang sangat tipis dan berkelok-kelok yang di atas ombak hamparan luas Samudera Pasifik.

Seringkali jarak dari satu pantai Tuvalu ke pantai lainnya hanya beberapa meter dengan ombak laut, tapi ombak itulah yang menjadi ancaman terbesar bagi keberadaan masyarakat Tuvalu.

Sebuah laporan yang dirilis pekan lalu menyebutkan, orang-orang yang tinggal di Tuvalu memiliki ketakutan luar biasa manakala permukaan air laut seang naik atau pasang. Bahkan ada kekhawatiran seluruh negeri yang pada titik tertingginya hanya 4,5 meter di atas permukaan laut. Itu artinya negara itu bisa secara mendadak 'hilang dari peta' karena tenggelam.

Bukan hanya Tuvalu, sebagian besar wilayah Kepulauan Solomon, Kepulauan Marshall, dan banyak lainnya di Pasifik barat juga nyaris mengalami kondisi serupa aibat perubahan iklim.

“Kedengarannya kasar, tetapi sangat sulit untuk membayangkan beberapa tempat dataran rendah ini masih ada,” kata ilmuwan iklim dari Universitas Monash, Shayne McGregor, melansir laman News.com.au.

Baca juga: Panas Melonjak, Warga Arab Saudi Berbondong-bondong Mendinginkan Diri ke Abha

Tanah Tuvalu yang dahulu subur menjadi lebih tandus karena menyerap garam laut sehingga hanya sedikit tanaman yang bisa tumbuh. Penyimpanan air bawah tanah juga telah dibanjiri oleh air laut yang berarti penduduk setempat bergantung pada air hujan.

Negara Tuvalu

Berbicara pada pertemuan Forum Pulau Pasifik pada 6 Agustus lalu, Perdana Menteri Tuvalu, Kausea Natano mengatakan, kondisi itu akan menjadi 'bencana' bagi Pasifik.

“Tidak ada keraguan bahwa kenaikan permukaan laut terus mengancam inti keberadaan kita, kenegaraan kita, kedaulatan kita, rakyat kita, dan identitas kita,” sebut Kausea.

Sementara Prof McGregor menjelaskan, Pasifik tropis barat telah melihat permukaan laut naik lebih tinggi ketimbang di tempat lain karena fenomen El Nino dan La Nina. Memang, permukaan laut di seluruh dunia tidak statis dan juga tidak naik atau turun secara seragam.

"Lautan bergolak bukannya diam. Sesuatu yang sehari-hari seperti pasang surut dapat sangat bervariasi bahkan di sekitar benua Australia. Juga efek dari permukaan laut yang lebih tinggi tidak akan sama di setiap lokasi. Beberapa tempat akan memiliki tebing atau pertahanan pantai buatan yang melindungi daratan," tuturnya.

Apapun teorinya, pulau-pulau di dataran rendah pasifik akan berada di bawah ancaman air laut yang volumenya terus naik. Belum ada tekonologi apapun yang dapat menghalau kekuatan alam itu.

“Titik tertinggi di atas permukaan laut di Tuvalu mungkin 4,6 meter tetapi ketinggian umum dari permukaan laut adalah sekitar 1,2 meter yang sangat rendah dan mereka tidak memiliki banyak pertahanan,” ucap Prof McGregor.

Sebuah laporan pada tahun 2016 silam, menemukan lima pulau karang di Kepulauan Solomon, yang terletak di timur laut Queensland dan dekat dengan Papua Nugini, telah lenyap dan enam lainnya telah terkikis. Air laut telah naik 15 centimeter di sekitar Kepulauan Solomon dalam 20 tahun terakhir.

Kepulauan Marshall, negara berpenduduk 60.000 orang dan di 29 terumbu karang dataran rendah di Pasifik barat, telah disebut sebagai negara paling terancam di dunia karena risiko perubahan iklim.

Meski setiap hari hidup dalam bayang-bayang ketakutan gelombang pasang, masyarakat Kota Funafuti tetap melakukan aktivitasnya. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan, kegiatan perbelanjaan di supermarket tetap menggeliat. Para nelayan juga nampak bersemangat menjala ikan untuk dijual dan dikonsumsi sehari-hari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini