Lapangan Ikada, Saksi Bisu "Sihir" Bung Karno hingga Jadi Wisata Bersejarah Jakarta

Firziana Zahra, Jurnalis · Selasa 17 Agustus 2021 20:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 17 406 2456903 lapangan-ikada-saksi-bisu-sihir-bung-karno-hingga-jadi-wisata-bersejarah-jakarta-azzLDaWjF0.JPG Presiden RI, Ir Soekarno saat memasuki area rapat raksasa di Lapangan Ikada, Jakarta (Foto: Dok. ANRI)

SEBULAN setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, tepatnya pada 19 September 1945, Presiden Ir Soekarno menyampaikan pidato singkat di hadapan ratusan ribu orang di Lapangan Ikada, Jakarta.

Sebelumnya, rapat direncanakan berlangsung pada tanggal 17 September 1945, tepat 30 hari pasca-kemerdekaan. Namun, adanya ancaman dari tentara Jepang dan Sekutu membuat rapat diundur menjadi dua hari kemudian. Meski tentara Jepang telah melarang rapat akbar tersebut, rakyat tetap datang dengan berapi-api.

Saat itu, rakyat sabar menunggu sejak pagi sampai menjelang sore sambil menyanyikan lagu-lahu penyemangat di mana salah satunya berjudul 'Darah Rakyat'. Mereka rela berada di bawah terik matahari Kota Jakarta.

Tak hentinya rakyat meneriakkan yel-yel untuk pembakar semangat. Tentara Jepang berseragam lengkap melakukan penjagaan ketat sehingga suasana tegang serta mencekam kental terasa.

Meski begitu rakyat sama sekali tidak gentar. Sebagian rakyat bahkan membawa senjata tajam seperti bambu runcing, keris hingga batu yang diselipkan di kantong pakaian mereka.

Baca juga: HUT Ke-76 RI, Menengok Rumah Pengasingan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok

Infografis Wisata Sejarah Kemerdekaan RI

Rapat ini kemudian dikenal dengan sebutan rapat raksasa Ikada lantaran banyaknya massa yang hadir yakni lebih kurang sekitar 300 ribu orang. Dua tokoh proklamator RI, Soekarno dan Mohammad Hatta akhirnya menampakkan diri di Lapangan Ikada untuk menemui rakyat yang sudah menanti mereka selama berjam-jam.

Pidato singkat Soekarno selama lima menit berisi ujaran yang meminta rakyat selalu percaya dengan pemerintah. Pidato tersebut berhasil "menyihir" rakyat sehingga mereka bisa menahan diri untuk tetap tenang meski sudah berkumpul selama 10 jam.

Meski sedikit kecewa karena 'putra sang fajar' hanya berpidato sebentar. Massa lalu membubarkan diri dengan tertib kembali ke rumah masing-masing.

Tujuan diadakannya rapat dalam peristiwa di lapangan Ikada semata-mata untuk mendekatkan pemerintah RI dengan rakyat secara emosional pasca-kemerdekaan Indonesia, sekaligus menunjukkan kepada Sekutu bahwa rakyat siap menghadapi gangguan apapun demi mempertahankan kedaulatan negara.

Bicara soal Lapangan Ikada, tempat ini merupakan sebuah lapangan luas di pojok timur yang saat ini menjadi kawasan Monas.

Tempat sarat sejarah ini sebelumnya dikenal dengan nama Lapangan Gambir dan menjadi pusat kegiatan olahraga. Nama Ikada diambil dari kepanjangan Ikatan Atletik Djakarta. Istilah itu muncul di masa pendudukan Jepang tahun 1942.

Baca juga: HUT Ke-76 RI, Ini 4 Destinasi Wisata Bersejarah Mengenang Perjuangan Kemerdekaan

Sebelumnya, lapangan ini dinamakan Champ de Mars atau Koningsplein. Di sekitarnya terdapat sejumlah lapangan sepak bola yang dimiliki klub-klub era 1940-1950-an. Di sekitar lapangan Ikada juga terdapat lapangan hoki dan pacuan kuda untuk kavaleri militer.

Lapangan Ikada juga pernah menjadi tempat latihan dan pertandingan Timnas Indonesia sebelum adanya Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) selesai dibangun untuk Asian Games IV 1962. Stadion Ikada dibangun di sebelah selatan lapangan pada acara PON (Pekan Olahraga Nasional) kedua, tepatnya tahun 1952 silam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini