Wisata Religi Makam Buyut Datu Kalampayan Tergerus Abrasi, Sebagian Lantai Ambles

Antara, Jurnalis · Rabu 18 Agustus 2021 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 406 2457038 wisata-religi-makam-buyut-datu-kalampayan-tergerus-abrasi-sebagian-lantai-ambles-uXL23BSpHy.JPG Makam ulama di Kalsel terancam abrasi pantai (Foto: Antara)

SEBUAH makam ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan di Pantai Ujung Pandaran keberadaannya terancam akibat abrasi yang terus menggerus pantai tersebut.

Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Halikinnor mengaku siap membantu penanganan kubah makam yang menjadi destinasi wisata religi di daerah itu.

"Semua itu keputusan ada diyayasan zuriat. Mereka yang memutuskan dipindah atau tidak. Ini makam ulama. Kita tidak tahu di makam itu sekarang ada jasadnya atau tidak. Kalau mereka meminta merelokasi maka kita akan bantu," kata Halikinnor didampingi Wakil Bupati Irawati.

Pantai Ujung Pandaran yang berjarak sekitar 85 kilometer dari pusat Kota Sampit merupakan objek wisata alam andalan Kotawaringin Timur karena pemandangannya yang indah. Di arah timur pantai itu terdapat kubah yang merupakan makam seorang ulama bernama Syekh Abu Hamid bin Syekh Haji Muhammad As'ad Al Banjari.

Syekh Abu Hamid adalah buyut dari ulama terkenal di Kalimantan Selatan yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, dikenal luas dengan kitab karangannya berjudul Sabilal Muhtadin yang hingga kini banyak digunakan di sejumlah negara.

Baca juga: 5 Destinasi Bersejarah di Kota Suci Makkah, Masjidil Haram hingga Jabal Tsur

Kubah itu menjadi objek wisata religi dan banyak didatangi peziarah dari luar daerah. Namun kini keberadaannya terancam akibat abrasi yang terus menggerus pantai tersebut.

Jalan menuju kubah sudah terputus oleh abrasi sehingga peziarah harus menggunakan perahu motor. Bahkan musala yang berjarak beberapa meter dari kubah tersebut, kini sudah ambruk akibat fondasinya ambles digerus abrasi yang dipicu kuatnya gelombang dari Laut Jawa menghantam pantai tersebut.

Pada Sabtu 10 Juli lalu, puluhan pegawai dikerahkan bergotong royong melakukan penanganan darurat dengan membuat tanggul dari ratusan karung berisi pasir. Bupati Halikinnor bahkan ikut turun membuat tanggul darurat tersebut.

Sayangnya upaya itu tidak mampu menahan laju abrasi. Kini setelah sebulan lebih berlalu, abrasi mulai menggerus fondasi bangunan kubah tersebut. Sebagian lantai bahkan terlihat ambles sehingga lantai menjadi berlubang.

Video kerusakan kubah tersebut pun beredar di media sosial sehingga menimbulkan keprihatinan masyarakat. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan kondisi kubah tersebut akan rusak parah.

Sementara pada Minggu lalu, rombongan keturunan Datuk Kalampayan yakni Ketua Zuriatul Arsyadiyah Martapura, Hamdani Hamzah sudah bertemu dengan Bupati Halikinnor dan Penjabat Sekretaris Daerah yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Fajrurrahman di Sampit membahas masalah tersebut.

Halikinnor menegaskan, pihaknya sudah menyampaikan kondisi terakhir kerusakan kubah kepada pihak yayasan zuriat Datu Kalampayan. Dia juga berharap segera ada keputusan dari pihak keluarga sehingga bisa dilakukan penanganan secepatnya.

"Pemerintah daerah prinsipnya mendukung apa keputusan pihak zuriat atau keluarga karena bukan kita pemerintah daerah yang memutuskan. Pemerintah daerah hanya membantu dan memfasilitasi dengan membangun maupun merelokasi," tutup Halikinnor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini