Bakal Jadi Wisata Andalan di Calon Ibu Kota Baru, Apa Keunikan Gua Tapak Raja?

Antara, Jurnalis · Minggu 12 September 2021 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 12 406 2470021 bakal-jadi-wisata-andalan-di-calon-ibu-kota-baru-apa-keunikan-gua-tapak-raja-YKaMW4QpF5.JPG Ilustrasi (Foto: Instagram/@farzin_p)

GUA Tapak Raja di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim) diyakini akan menjadi salah satu wisata alam terfavorit bagi wisatawan, setelah Ibu Kota Negara baru pindah ke provinsi ini pada 2024 mendatang.

"Saat ini saja sudah banyak yang berkunjung, mulai pejabat tingkat provinsi maupun kabupaten dalam rangka tugas kedinasan, hingga masyarakat umum," ujar Kepala Desa Wonosari, Kasiyono.

Terlebih jika ke depan ibu kota negara baru sudah pindah ke Kabupaten PPU, tepatnya di Kecamatan Sepaku, tentu yang berkunjung bukan hanya warga Kaltim, namun tamu negara dan masyarakat luas pun akan tertarik mengunjungi goa yang umurnya sudah ribuan tahun tersebut.

Baca juga: Goa Berusia Ribuan Tahun di Penajam Paser Utara Berpotensi Jadi Destinasi Wisata

Gua Tapak Raja ini berada di Desa Wonosari, Kecamatan Sepaku. Gua tersebut pertama kali ditemukan oleh warga setempat tahun 1983, sejak awal adanya transmigrasi ke kawasan itu.

Kasiyono optimis gua ini akan terus menjadi destinasi wisata favorit karena tidak banyak daerah yang memiliki wisata gua. Apalagi, gua ini memiliki keunikan tersendiri, tidak ada daerah lain yang menyamai. 

"Di dalam gua ini terdapat stalaktit yang menyerupai tapak kaki manusia berukuran besar, makanya gua ini kemudian dinamakan Gua Tapak Raja. Stalaktit tersebut menggantung dari langit-langit gua," ujarnya.

Keunikan lain dari gua ini adalah memiliki dua pintu masuk yang berdampingan, terdapat satu lubang tembus ke atas goa, terdapat trek atas goa yang ditumbuhi aneka flora lokal, termasuk tanaman hias.

Gua Tapak Raja dahulu dijadikan tempat ritual bagi masyarakat setempat, namun seiring perkembangan zaman, maka banyak yang tidak lagi memanfaatkannya untuk ritual.

Meski demikian, masih ada satu atau dua warga yang masih memanfaatkan gua tersebut untuk ritual tertentu, hal ini dapat dilihat dari bekas sesaji yang ada dalam gua tersebut.

"Untuk pengembangan destinasi wisata gua, belum ada bantuan dari pihak lain. Satu-satunya anggaran yang digunakan adalah peningkatan jalan mengarah ke goa yang anggarannya dari desa setempat, yakni dari Dana Desa," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini