Curhat WN Australia Terjebak di Negara Orang, Sampai Kapok Nikah di Luar Negeri

Lina Sharfina, Jurnalis · Rabu 15 September 2021 20:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 15 406 2471560 curhat-wn-australia-terjebak-di-negara-orang-sampai-kapok-nikah-di-luar-negeri-UdL3tXMGiH.JPG Ilustrasi (Foto: NCA NewsWire/Dan Peled)

BANYAK warga negara Australia terjebak di luar negeri lantaran maraknya pembatasan dan larangan penerbangan internasional di tengah situasi pandemi Covid-19.

Pemerintah Australia sendiri bahkan sempat melarang warganya kembali sebagai bentuk kekhawatiran penyebaran Covid-19 yang lebih masif, terlebih setelah munculnya varian baru.

Nestapa itu dirasakan oleh salah seorang warga Australia, Kylie. Ia berujar; “Saya menjual hampir semua barang-barang saya, berhenti dari pekerjaan saya dan memberi tahu teman serumah saya bahwa saya akan pergi," katanya, menyitir News.com.au.

“Karena begitu penerbangan saya ke Australia telah dipesan dan dikonfirmasi, saya tidak punya pilihan selain bersiap seperti saya akan naik pesawat. Saya mengemasi semuanya dan menyingkirkan apa yang saya bisa, dengan harapan akhirnya bisa kembali ke rumah," imbuhnya.

Saat mengira akan benar-benar pulang menggunakan pesawat terbang, harapan itupun seketika pupus menyisakan kegalauan luar biasa setelah menerima kabar via telepon yang menyampaikan bahwa ia gagal terbang.

“Tapi kemudian, panggilan telepon yang menghancurkan datang hanya beberapa hari sebelum penerbangan saya akan lepas landas. Penerbangan gagal, berita itu seperti tendangan di nyali. Sungguh kejam, apa yang terjadi pada kita," keluhnya.

Baca juga: Rumah Bule Australia Kemalingan, Uang Puluhan Juta Raib Digasak Bandit

Kini ia harus menyiapkan plan B, ddengan berusaha mendapatkan pekerjaan dan apartemennya kembali. Jika berhasil, perjuangannya adalah mencoba membangkitkan motivasi untuk terus bekerja meski terjebak di luar negeri dan sangat merindukan keluarganya.

Seiring berjalan waktu, ia berhasil memesan ulang tiket untuk penerbangan lain dalam beberapa bulan, tetapi patut dipertanyakan apakah itu akan benar-benar lepas landas atau tidak. Apapun alasannya lanjut Kylie, ia harus bisa pulang ke Australia sebelum Natal tiba.

Bagi banyak orang seperti Kylie, ketidakpastian situasi tidak hanya menimbulkan mimpi buruk logistik, namun juga sangat menguras emosi. Ada sekitar 43.000 warga Australia yang telah memberi tahu pihak berwenang bahwa mereka berusaha untuk kembali ke negara itu.

Beberapa warga Australia bahkan telah membawa kasus mereka ke PBB, yang pada bulan April memutuskan bahwa negara yang bersangkutan harus memfasilitasi sekaligus memastikan kembalinya warga negara yang terdampar di negara orang.

Susan Jagoe asal Melbourne, termasuk di antara mereka yang tidak bisa pulang. Dia pindah ke Jakarta bersama suami dan dua anaknya, yang berusia 8 dan 6 tahun, pada Januari 2020. Kedua anaknya adalah pemegang paspor ganda.

Baca juga: Siap Buka Penerbangan Internasional, Maskapai Ini Persoalkan Aturan Karantina

Susan Jagoe dan Keluarga

(Foto: Dok. Pribadi/Susan Jagoe)

“Saya biasanya mengunjungi keluarga setiap tahun tetapi tidak sejak Desember 2019,” kata Jagoe.

“Saya pikir jika kami duduk, semuanya akan membaik, tetapi hampir dua tahun lebih buruk dari sebelumnya. Harga tiket pesawat sangat langka dan berkisar antara USD30 ribu atau Rp427 juta hingga USD60 ribu atau sekitar Rp854 juta per orang sekali jalan sejak pembatasan diberlakukan dan Singapura menghentikan transit dari Indonesia,” ungkapnya.

“Ibuku baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-84. Aku hanya ingin melihatnya untuk Natal. Saya tidak akan pernah merekomendasikan (Anda) jatuh cinta dan menikah di luar negeri. Saya hanya berharap kita semua tinggal di satu tempat. Saya merasa sangat tercabik-cabik," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini