Masinis Dihukum Gara-Gara Buang Air Besar, Kok Bisa?

Salwa Izzati Khairana, Jurnalis · Sabtu 18 September 2021 12:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 406 2473018 masinis-dihukum-gara-gara-buang-air-besar-kok-bisa-gU4z7G9MsC.jpg Ilustrasi toilet (Boldsky)

PERNAHKAH Anda membayangkan saat tengah bekerja tiba-tiba sakit perut dan harus segera pergi ke toilet? Namun, untuk sebagian pekerjaan tidak bisa sembarangan melakukan ini, lho. Contohnya masinis alias sopir kereta api.

Terdengar normal bila rekan Anda mengatakan “Bisa tolong gantikan saya selama beberapa menit? Saya harus ke kamar kecil.” Permintaan ini memang masuk akal, tetapi bagaimana jadinya bila Anda adalah seorang masinis kereta berkecepatan tinggi?

Baca juga:  Masinis Ungkap Pengalaman Horor Diganggu Hantu saat Dinas

Dan itulah yang terjadi pada seorang karyawan East Japan Railway Company yang meminta seseorang untuk menggantikannya saat dirinya perlu ke toilet dan tengah mengemudikan Shinkansen atau kereta cepat.

Melansir dari SoraNews24, Sabtu (17/9/2021), kejadian ini terjadi saat Hikari 633 Shinkansen melaju di jalur Tokaido Shinkansen dari Tokyo menuju Shin Osaka.

Perjalanan tersebut membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Namun, saat berada di antara Stasiun Atami dan Mishima di Prefektur Shizuoka, seorang masinis mengalami sakit perut.

 

Lantaran perutnya yang sakit, masinis pun meminta seorang kondektur yang tak memiliki lisensi untuk menggantikannya dan mengemudikan Shinkansen. Kemudian masinis itu meninggalkan ruang kemudi dan menuju ke toilet area penumpang.

Baca juga:  Catat! Begini Prokes Terbaru Naik Kereta Api di Masa Pandemi COVID-19

Sang masinis pun kembali dalam waktu cepat; tiga menit. Namun, saat masinis meninggalkan pekerjaanya untuk ke toilet, kereta berkecepatan tinggi itu telah melaju dengan kecepatan 150 km/jam (93 mil/jam).

Berarti kereta itu telah membawa sekitar 160 penumpangnya sejauh 7,5 kilometer tanpa seorang pengemudi yang memenuhi syarat di ruang kemudi.

Beruntungnya tidak ada kecelakaan yang terjadi selama masinis saat berada di toilet. Akan tetapi, Manajemen JR East tetap kecewa dengan tindakan berisiko yang dilakukan masinis tersebut.

Tindakan ke toilet bukan berarti tidak boleh dilakukan dan membiarkan masinis menahan sakit perutnya. Namun, Prosedur pengoperasian Shinkansen menyatakan bahwa bila terjadi demikian, masinis itu harus memberi tahu divisi kontrol pusat.

Sementara, orang yang menggantikannya haruslah mempunyai lisensi dalam mengemudikan kereta.

 Ilustrasi

Bila tidak, kereta api harus dihentikan sampai pengemudinya kembali sehat untuk mengemudikan kereta atau menggantikannya dengan seseorang yang memenuhi syarat. Jadi hal inilah yang seharusnya diambil oleh pengemudi dalam situasi tersebut.

Masinis kereta pun harus mempertanggung jawabkan tindakannya dengan hukuman disipliner. JR East mengatakan akan meninjau kembali kebijakannya untuk membantu memastikan insiden seperti itu tidak terjadi lagi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini