Dunia Sudah 2021, Ethiopia Sekarang Masih Tahun 2014, Kok Bisa?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 18 September 2021 10:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 18 406 2473261 dunia-sudah-2021-ethiopia-sekarang-masih-tahun-2014-kok-bisa-7Seua0GGGw.jpg Warga Ethiopia merayakan tahun baru pada September ini (Foto AFP via BBC)

ETHIOPIA memiliki sejarah yang panjang dan unik. Negara ini baru saja merayakan tahun baru 2014 pada 11 September lalu.

Kalender mereka tertinggal tujuh tahun, ada 13 bulan dalam satu tahun, dan juga dikenal sebagai tujuan hijrah sahabat Nabi Muhammad pada abad ke-7, sebelum hijrah besar ke Madinah.

Nabi Muhammad meminta sejumlah sahabat pergi ke sana karena menghadapi persekusi dari penguasa Mekkah.

Baca juga: Aneh bin Ajaib, Batu Unik Berusia 4.000 Tahun Terbelah Sempurna di Tengahnya

Sejarah juga menunjukkan Ethiopia adalah satu-satunya negara di benua Afrika yang tidak pernah dijajah oleh kekuatan Barat.

Upaya Italia menginvasi negara ini berakhir dengan kekalahan yang memalukan.

Selain itu, warga Ethiopia meyakini Ark of the Covenant, tabut berisi perintah Allah yang diwahyukan kepada Nabi Musa berada di negara mereka, tepatnya tersimpan di dalam bangunan Our Lady Mary of Zion Church, di kota Axum, di kawasan Tigray.

Kalender tertinggal tujuh tahun delapan bulan

Tahun 2021 sudah lebih setengah jalan dan sudah memasuki September, namun bagi warga Ethiopia, mereka baru saja memasuki tahun 2014.

Baca juga: Ilmuwan Klaim Bisa Hidupkan Kembali Mammoth yang Punah Ribuan Tahun Silam

Sistem penanggalan yang dipakai Ethiopia memang tujuh tahun dan delapan bulan lebih lambat dibandingkan kalender Masehi, yang dipakai di banyak negara.

Itu semua disebabkan karena ketika Gereja Katolik mengubah penghitungan pada tahun 500, Gereja Ortodok di Ethiopia tidak mengikuti langkah tersebut dan akibatnya, sistem kalender mereka menjadi tertinggal jika dibandingkan dengan kalender Masehi.

Perbedaan lain adalah, dalam satu tahun, Ethiopia memiliki 13 bulan, bukan 12 bulan seperti dalam kalender Masehi.

Di Ethiopia, satu bulan terdiri dari 30 hari, dan sisa lima atau enam hari -- tergantung apakah tahun itu kabisat atau bukan -- dimasukkan ke bulan yang ke-13.

ilustrasi

Yang juga berbeda adalah sistem waktu. Jika kita memulai waktu pada pukul 00.00, maka warga di sana memulai waktu pada pukul 06.00 pagi.

Karenanya, sangat terbuka kemungkinan ketika Anda mengajak kawan di sana untuk minum kopi pukul 10.00 pagi, bisa jadi ia muncul pada pukul 16.00 sore.

Mereka bermukim di Negash dan mendirikan masjid, salah satu yang tertua di Afrika. Tahun lalu, masjid al-Negashi dibom saat pecah pertempuran di Tigray.

Warga di Negash meyakini 15 sahabat Nabi dimakamkan di sini.

Dalam sejarah Islam, kepindahan sejumlah sahabat Nabi ke Aksum dikenal sebagai hijrah yang pertama sebelum hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Saat ini, sekitar 34% penduduk Ethipia -- dari total 115 juta jiwa -- memeluk agama Islam.

Tabut Perjanjian Nabi Musa

Warga Ethiopia meyakini Ark of the Covenant, tabut atau peti berisi lauh (kepingan batu) bertuliskan 10 Perintah Allah untuk bangsa Israel yang diwahyukan melalui Nabi Musa berada di negara mereka.

Gereja Ortodok Ethiopia mengatakan tabut tersebut berada di dalam bangunan Our Lady Mary of Zion Church dengan pengawalan yang sangat ketat dan tak seorang pun boleh melihatnya.

Dikisahkan, Ratu Sheba mengadakan perjalanan dari Aksum ke Jerusalem untuk menemui Raja Sulaiman pada sekitar tahun 950 SM.

Perjalanan dan pertemuan antara Ratu Sheba dan Raja Sulaiman dikisahkan di epik Kebra Nagast, salah satu karya sastra Ethiopia, yang ditulis pada abad ke-14.

Dikisahkan pula Ratu Sheba memiliki anak laki-laki yang diberi nama Menelik dan bagaimana beberapa tahun kemudian Menelik pergi ke Jerusalem untuk menemui sang ayah, Raja Sulaiman.

Sulaiman ingin Menelik menetap di Jerusalem dan menggantikannya sebagai penguasa saat ia meninggal, namun Menelik lebih memilih kembali ke Aksum.

Sulaiman setuju dan memberi izin Menelik pulang dengan pengawalan satu kafilah Israel, satu orang di antaranya mencuri tabut, dengan mengganti tabut asli dengan yang palsu.

Ketika Menelik mengetahuinya, ia setuju tabut ini tetap berada di Ethiopia, karena meyakini sebagai kehendak Tuhan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini