Wisata Religi di Masjid Peninggalan Kyai Mojo, Ulama Kepercayaan Pangeran Diponegoro

Subhan Sabu, Jurnalis · Sabtu 25 September 2021 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 408 2476482 wisaja-religi-di-masjid-peninggalan-kyai-mojo-ulama-kepercayaan-pangeran-diponegoro-9gltVQbacu.jpg Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo di Kampung Jawa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara (Okezone.com/Subhan Sabu)

MASJID Agung Al-Falah Kyai Mojo di Kampung Jawa Tondano, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara salah satu situs bersejarah yang jadi objek wisata religi.

Ini merupakan masjid peninggalan Kyai Mojo atau Kyai Madja. Ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro itu bersama para pengikutnya dibuang oleh Belanda ke Tondano pada akhir 1829, menjelang berakhirnya Perang Jawa.

Dibangun sekitar tahun 1856, Masjid Al-Falah letaknya sekitar 1 kilometer dari lokasi Makam Kyai Mojo.

Baca juga: 5 Destinasi Bersejarah di Kota Suci Makkah, Masjidil Haram hingga Jabal Tsur

Sebelumnya, Panglima Perang Diponegoro itu bersama sekira 62 orang pengikutnya yang kesemuanya laki-laki diasingkan di Desa Tonsea Lama di Tondano Utara.

Ilustrasi

Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo di Minahasa (Okezone.com/Subhan Sabu)

Di situ mereka sempat juga membangun Masjid Diponegoro Tegal Redjo sebelum akhirnya pindah ke Kampung Jawa Tondano, berjarak kurang 5 Km dari Tonsea Lama.

"Masjid yang di Tonsea Lama itu juga yang pertama kali dibangun oleh Kyai Mojo karena pertama Kiai Mojo dan kawan-kawan tempatnya bukan di Kampung Jawa, tapi disebelah sungai yang namannya Kawak," kata Husnan Kyai Demak, Ketua Bidang Imarah BTM Agung Al-Falah Kyai Modjo.

 Baca juga: Mengenal Maqam Nabi Ibrahim, Tempat Berpijak sang Rasul saat Membangun Kakbah

Namun, karena daerah tersebut masih dikelilingi hutan dan banyak binatang liar seperti babi yang mengganggu sehingga Kiai Mojo tidak berkenan ditempatkan di tempat itu dan mengusulkan tempat lain.

Belanda menyetujuinya, tetapi tidak boleh jauh dari Tonsea lama, sehingga pindahlah mereka di tempat yang sekarang dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano (Jaton).

Bangunan Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo yang dulunya masih berbentuk seperti musala sederhana dengan dinding bambu dan beratap rumbia, kini telah berganti beton serta telah mengalami beberapa kali pemugaran. Yang pertama dilakukan pada 1864, dipimpin Raden Syarif Abdullah bin Umar Assegaf yang dibuang Belanda ke Kampung Jaton bersama rombongannya pada 1860.

Selanjutnya Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo mengalami beberapa kali pemugaran yang membuat penampilan masjid menjadi elok, bukan hanya penampilan luarnya namun juga bagian dalamnya.

Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo bergaya Joglo dengan atap limasan tumpang, menyerupai bentuk bangunan Masjid Agung Demak di Jawa Tengah.

Meski telah mengalami beberapa kali pemugaran, namun ada beberapa bagian dalam Masjid yang masih asli, seperti empat sokoguru,atau tiang penyangga setinggi 18 meter yang masih asli, dinding sebelah barat, mimbar, bedug dan kentongan serta masih ada juga barang-barang peninggalan lainnya yang tersimpan di gudang.

"Mimbar ini masih asli peninggalan Kyai Mojo dan pengikutnya. Terbuat dari kayu berukir halus bertuliskan ayat-ayat Alquran. Dibagian depan ada ukiran kaligrafi rukun Iman dan rukun Islam, di bagian samping ada ukiran ayat Alquran pahatan ukiran kaligrafi ini dibuat oleh mbah Koesasie, pengikut dari Kyai Mojo," kata Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Minahasa itu.

 Ilustrasi

Bagian dalam atap Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo sepenuhnya terbuat dari kayu yang ditata dengan rapi dan sangat artistik. Ukiran halus bercitarasa tinggi ditoreh di kayu bersilang lengkung yang berada di bagian pusat yang juga masih asli peninggalan dari bangunan lama.

Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo berdiri dengan anggun di Perkampungan Jawa Tondano yang mayoritas penduduknya beragama Islam, di mana mereka hidup tentram dan damai di tengah-tengah permukiman masyarakat Minahasa di sekitarnya yang mayoritas beragama Kristen. (sal)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini