Bangkit dari Tidur, Gunung Kilauea Muntahkan "Air Mancur" Lava Menakjubkan

Nindi Widya Wati, Jurnalis · Senin 04 Oktober 2021 11:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 04 406 2480815 bangkit-dari-tidur-gunung-kilauea-muntahkan-air-mancur-lava-menakjubkan-9fZcQdt1GW.JPG Gunung berapi Kilauea di Hawaii erupsi (Foto: Reuters/M Patrick)

KILAUEA, salah satu gunung berapi paling aktif di dunia yang terletak di Big Island, Hawaii, Amerika Serikat kembali meletus. Survei Geologi AS (USGS) mengonfirmasi bahwa letusan telah dimulai di kawah Halemaumau gunung berapi Kilauea di puncak gunung berapi.

Rekaman webcam kawah menunjukkan air mancur lava menutupi lantai kawah dan awan mengepul gas vulkanik naik ke udara.

Daerah yang sama telah menjadi rumah bagi danau lava besar di berbagai waktu sepanjang masa letusan gunung berapi. Letusan tidak berada di daerah perumahan, namun berada di Taman Nasional Gunung Api Hawaii.

"Semua tanda menunjukkan bahwa lava akan tetap berada di dalam kawah," kata Ken Hon, ilmuwan USGS yang bertanggung jawab atas Observatorium Gunung Berapi Hawaii.

"Kami tidak melihat indikasi bahwa lava bergerak ke bagian bawah zona keretakan timur tempat orang tinggal. Saat ini semua aktivitas berada di dalam taman," sambungnya.

Tingkat siaga gunung berapi telah dinaikkan menjadi 'awas' dan kode penerbangan diubah menjadi merah. Rabu lalu, para pejabat mengatakan peningkatan aktivitas gempa dan pembengkakan tanah telah terdeteksi, dan pada saat itu menaikkan tingkat siaga.

Baca juga: Mau Liburan ke Hawaii? Jangan Lupa Siapkan Dokumen Wajib Ini

Gunung Kilauea Erupsi

(Foto: Reuters)

Kilauea mengalami letusan besar pada tahun 2018 yang menghancurkan lebih dari 700 rumah dan membuat ribuan penduduk mengungsi. Sebelum letusan itu, gunung berapi itu telah meletus perlahan selama beberapa dekade, tetapi sebagian besar tidak di daerah pemukiman padat penduduk.

Sebelum letusan besar 2018, Kilauea telah meletus sejak 1983 dan aliran lava sesekali menutupi pertanian dan rumah pedesaan. Selama waktu itu, lava terkadang mencapai lautan, menyebabkan interaksi dramatis dengan air.

Lebih dari empat bulan pada tahun 2018, Kilauea memuntahkan cukup banyak lava untuk mengisi 320.000 kolam renang berukuran Olimpiade, mengubur area seluas lebih dari setengah ukuran Manhattan dalam lava yang sekarang mengeras hingga 80 kaki (24 meter).

Baca juga: Turis Sudah Divaksinasi Bisa Masuk Hawaii Tanpa Tes COVID-19 Mulai 8 Juli

Batuan cair itu mengurangi landmark, jalan-jalan, dan lingkungan sekitar menjadi hamparan batu-batu besar yang menghitam dan pecahan vulkanik.

Setelah letusan 2018, danau lava puncak berhenti meletus dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mulai terisi air, meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan interaksi eksplosif antara lava dan air tanah.

Area yang sama dari gunung berapi yang mulai meletus pada hari Rabu juga meletus pada bulan Desember dan berlangsung hingga Mei. Hon mengatakan jenis letusan ini bisa terjadi selama bertahun-tahun saat gunung berapi terisi.

“Kami tahu bahwa satu hal yang terjadi adalah bahwa magma terus masuk ke Kilauea dengan kecepatan yang cukup konstan sehingga mengisi bagian dalam gunung berapi dan menekannya atau keluar ke permukaan,” tuturnya.

Juru bicara Taman Nasional Gunung Api Hawaii, Jessica Ferracane mengatakan kepada The Associated Press (AP) bahwa dia belum tiba di taman, tetapi rekan-rekannya melaporkan melihat beberapa percikan lava dan cahaya di dalam kawah puncak.

"Dia melihatnya dari Volcano House, yang jaraknya setidaknya 2 mil dari lokasi letusan, jadi saya curiga, kita akan dapat melihat cahaya yang cantik, dan entah apa lagi," katanya.

Gunung Kilauea Erupsi

(Foto: Reuters)

Baca juga: Hawaii Kembali Hidupkan Cara Tradisional Atasi Perubahan Iklim yang Rugikan Pariwisata

The Volcano House adalah hotel dan restoran di dalam taman nasional yang berdekatan dengan pusat pengunjung. Taman ini terbuka untuk pengunjung.

Ferracane mengatakan, daerah yang meletus tidak dekat dengan tempat orang bisa mendaki atau berkendara. Jalur melawan arah angin dari letusan telah ditutup selama bertahun-tahun.

"Taman terbuka dan tidak ada penutupan jalan saat ini," kata Ferracane.

Ferracane menambahkan bahwa para pejabat mengharapkan puluhan ribu pengunjung berduyun-duyun ke taman dan orang-orang harus sangat berhati-hati baik dalam hal bahaya alam dan Covid-19.

"Letusan ini akan menarik banyak orang ke taman, kami sudah melihat orang-orang datang ke taman, berkendara setelah gelap malam ini," kata Ferracane.

“Sangat membutuhkan orang untuk mengingat bahwa kita berada di tengah pandemi dan mereka harus tetap aman dan juga menjaga kita tetap aman,” sebutnya.

Ia menambahkan bahwa orang-orang harus menjaga jarak 6 kaki dan memakai masker.

“Jika kamu sakit, tolong jangan datang. Datang berkunjung di lain hari. Nikmati pemandangan dari webcam. Kami benar-benar ingin agar kondisi erupsi saat ini tidak meningkatkan penyebaran Covid-19,” tutup Ferracane.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini