Dikira Sudah Punah, 9 Burung Langka Ditemukan di Hutan Gunung Kelud dan Kawi

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 05 Oktober 2021 03:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 04 406 2481198 dikira-sudah-punah-9-burung-langka-ditemukan-di-hutan-gunung-kelud-dan-kawi-wGegzqjQ1a.jpg Burung langka di RPH Sekar, Malang (Profauna Indonesia)

SEMBILAN spesies burung langka yang dilindungi ditemukan masih hidup di kawasan hutan lindung antara Gunung Kelud dan Gunung Kawi tepatnya di Resort Pengelola Hutan (RPH) Sekar, Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Temuan ini diumumkan setelah tim Profauna melakukan pengamatan dua kali di area hutan lindung RPH Sekar, selama Agustus hingga September 2021. Sembilan spesies tersebut ditemukan dari total 43 jenis burung langka dan dilindungi.

 Baca juga: 9 Burung Predator Penghuni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Sembilan jenis burung langka yang ditemukan antara lain Elang ular bido (Spilornis cheela), Elang hitam (Ictinaetus malaiensis) Julang emas (Aceros undulatus), Takur tohtor (Megalaima armillaris), Takur tulung tumpuk (Megalaima javensis), Serindit jawa (Loricilus pusillus), dan Luntur harimau (Harpactes oreskios).

Pengamat burung dari Profauna Made Astuti mengatakan, keberadaan burung-burung langka yang terancam punah ini tergantung juga dari faktor kelestarian hutan, yang jadi lingkungan habitatnya.

"Keberadaan burung-burung tersebut sangat tergantung dengan kelestarian hutan lindung Sekar, misalnya burung Julang emas dan Takur. Tanpa pohon-pohon besar yang beragam, burung-burung ini akan punah,” kata Made Astuti Senin (4/10/2021).

Dia menambahkan, ada jenis burung lain yang juga ditemukan di RPH Sekar, yang masuk dalam kategori sulit ditemukan di alam liar.

Baca juga: Fakta-Fakta Unik Gunung Kawi yang Beraura Mistis

Jenis burung ini antara lainJingjing batu (Hemipus hirundinaceus), Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus), Sepah hutan (Pericrocotus flammeus), Sepah gunung (Pericrocotus miniatus), serta Takur tenggeret (Megalaima australis).

Selanjutnya, ada Takur ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala), Cinenen jawa (Orthotomus sepium), Munguk beledu (Sitta frontalis), Celepuk reban (Otus lempiji), Ciu besar jawa (Pteruthius flaviscapis), Ciu kunyit (Pteruthius aenobarbus), Pelanduk semak (Malacocincla sepiarium), Tepus leher putih (Stachyris thoracica), dan Tepus pipi perak (Stachyris melanothorax).

Ketua Pembina Profauna Indonesia, Rosek Nursahid menyatakan, perlindungan hutan lindung menjadi hal penting untuk menjaga kelestarian alam dan isinya. Selain tentu untuk melindungi potensi keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya.

“Menjadi harga mati bahwa hutan lindung di RPH Sekar harus dilestarikan, jangan sampai terjadi perusakan dan alih fungsi. Selain menyimpan potensi keragaman hayati tinggi, keberadaan hutan lindung ini juga sangat penting untuk menjaga sumber-sumber air yang ada di hutan ini," ungkap Rosek.

Rosek menambahkan, untuk memantau keragaman hayati di hutan lindung RPH Sekar ini, Profauna Indonesia telah mempunyai pos lapangan di Dusun Sekar, Desa Sidodadi, Kecamatan Ngantang.

 Ilustrasi

“Kami berharap adanya pos lapangan Profauna tersebut akan membuat kami lebih dekat dengan masyarakat desa untuk saling berbagi pengetahuan terkait konservasi hutan di wilayah Ngantang dan sekitarnya,” tuturnya.

Sebagai informasi, hutan lindung RPH Sekar mempunyai luas 3.212 hektar, yang berada pada ketinggian mulai dari 1.100 mdpl hingga diatas 2000 mdpl. Beberapa desa yang berada di sekitar hutan lindung yang berada di lereng Gunung Kawi dan Kelud tersebut, antara lain Desa Sidodadi, Purworejo, Pagersari, Banturejo dan Pandansari.

Sedangkan wisata alam yang dikenal yang berada di hutan lindung RH Sekar tersebut antara lain Sumantoro dan Sumbersongo yang berada di Desa Sidodadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini