Burung Banyak Migrasi ke Perkotaan selama Pandemi, Peneliti Ungkap Faktanya

Lina Sharfina, Jurnalis · Kamis 07 Oktober 2021 03:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 06 406 2482360 burung-banyak-migrasi-ke-perkotaan-selama-pandemi-peneliti-ungkap-faktanya-qa93FMqX8W.JPG Burung Elang (Foto: Cornell Lab of Ornithology)

MANUSIA mungkin telah menurunkan mobilitas mereka selama pandemi Covid-19, tetapi burung telah meningkatkan mobilitas mereka secara signifikan, bergerak lebih dekat ke daerah yang dihuni manusia. Demikian studi baru yang ditemukan peneliti.

Para peneliti dari University of Manitoba dan Cornell Lab of Ornithology mengamati catatan 4,3 juta burung dari Maret hingga Mei pada tahun 2017 hingga 2020 dan menemukan bahwa 80 persen dari 82 spesies berada dalam 'jumlah yang lebih besar' di daerah-daerah tempat manusia tinggal dan berduyun-duyun, seperti bandara, jalan utama, dan daerah perkotaan.

Para peneliti menemukan bahwa elang botak, burung nasional AS, lebih sering terlihat di kota-kota dengan lockdown terkuat. Burung lain, seperti burung kolibri tenggorokan merah, tiga kali lebih mungkin terlihat dalam jarak dua pertiga mil dari bandara.

Tidak jelas saat ini mengapa burung-burung itu terlihat lebih dekat dengan manusia, kata para peneliti. Namun, mereka berspekulasi itu bisa jadi karena lebih banyak orang yang mengamati burung di rumah pada puncak pandemi atau mungkin perubahan perilaku yang tidak diketahui pasti.

Baca juga: Dikira Sudah Punah, 9 Burung Langka Ditemukan di Hutan Gunung Kelud dan Kawi

Infografis Fakta Jalak Lawu

"Banyak spesies yang benar-benar kita pedulikan menjadi lebih melimpah di lanskap manusia selama pandemi," salah satu rekan penulis studi, Nicola Koper dalam sebuah pernyataan, mengutip Dailymail.

"Saya terpesona oleh berapa banyak spesies yang terpengaruh oleh penurunan lalu lintas dan aktivitas selama penguncian," tambahnya.

Baca juga: 9 Burung Predator Penghuni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Para ahli tidak yakin mengapa burung-burung itu terlihat lebih dekat ke daerah-daerah utama seperti kota, tempat manusia tinggal dan bekerja.

Bisa jadi lebih banyak orang berada di dalam ruangan, mengamati burung, selama puncak pandemi, atau bisa juga karena hal lain.

"Kami juga perlu mewaspadai masalah pendeteksian," ucap rekan penulis, Alison Johnston menjelaskan.

"Apakah spesies dilaporkan dalam jumlah yang lebih tinggi karena orang akhirnya dapat mendengar burung tanpa kebisingan lalu lintas, atau apakah ada perubahan ekologis nyata dalam jumlah burung yang ada?"

Para ahli memang menemukan bahwa beberapa spesies kecil kemungkinannya terlihat di dekat habitat manusia, seperti elang ekor merah. Mungkin saja ini karena lebih sedikit hewan yang terbunuh imbas sedikitnya volume mobil di jalan.

Namun, hasilnya terlihat di seluruh spektrum dari yang lebih besar ke kecil menunjukkan bahwa peningkatan jumlah itu benar karena alasan selain lingkungan yang lebih tenang.

Baca juga: 5 Destinasi Wisata Birdwatching Terbaik di Indonesia, Pemandangannya Keren Burungnya Banyak

Burung

(Foto: Getty Images)

"Hasil kami menunjukkan bahwa aktivitas manusia memengaruhi banyak burung di Amerika Utara dan menunjukkan bahwa kami dapat membuat ruang perkotaan lebih menarik bagi burung dengan mengurangi lalu lintas dan mengurangi gangguan dari transportasi manusia setelah kami keluar dari pandemi," tulis para peneliti dalam studi tersebut.

Studi tambahan diperlukan untuk mengetahui apakah perilaku tersebut merupakan bagian dari perubahan jangka panjang oleh burung. Para ahli akan melihat rentang hidup mereka, ukuran populasi dan masukan lainnya untuk menentukan bagaimana burung bereaksi terhadap kehadiran manusia.

"Memiliki begitu banyak orang di Amerika Utara dan di seluruh dunia yang memerhatikan alam sangat penting untuk memahami bagaimana satwa liar bereaksi terhadap kehadiran kita," ujar peneliti, Michael Schrimpf.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini