Wisata GLOW Pengaruhi Ekosistem Kebun Raya Bogor, Begini Kata Ahli IPB

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Senin 11 Oktober 2021 15:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 11 406 2484308 wisata-glow-pengaruhi-ekosistem-kebun-raya-bogor-begini-kata-ahli-ipb-7i5DPpNgLt.JPG Wisata GLOW Kebun Raya Bogor (Foto: MNC Portal/Putra Ramadhani)

EDUWISATA malam Glow yang rencananya akan dibuka di Kebun Raya Bogor sempat mengalami sejumlah polemik.

Pasalnya, konsep eduwisata yang menggunakan cahaya itu dikhawatirkan menganggu ekosistem tanaman dan hewan pada malam hari.

Menanggapi hal tersebut, Ahli Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University, Dadan Hindayana menyebut bahwa spektrum cahaya yang ditanggap manusia dengan hewan berbeda. Di mana, visible light yang dapat ditangkap oleh indra manusia ada dikisaran 400-700 nanometer.

"Dan diketahui yang sangat berpengaruh nyata terhadap proses fotosintesis tumbuhan ada pada panjang gelombang 450-495 nanometer untuk warna biru dan 620-750 nanometer warna merah," kata Dadan dalam keterangannya kepada MNC Portal Indonesia.

Selain jenis warna, juga penting diketahui seberapa besar intensitas cahaya yang digunakan. Jika ada pengaruhnya, itu untuk intensitas cahaya berapa.

"Menarik untuk dikaji jika menggunakan spectrum warna selain biru dan merah, misalnya hijau apakah itu akan mempengaruhi proses visiologi tumbuhan di malam hari. Spectrum cahaya yang ditanggap manusia, berbeda dengan hewan utamanya serangga. Serangga itu umumnya dapat menangkap cahaya Ultra Violet (UV), spectrum yang manusia tidak bisa melihatnya," jelasnya.

Baca juga: Bima Arya Minta Wisata Malam Glow di Kebun Raya Bogor Dihentikan, Kenapa?

Wisata GLOW Kebun Raya Bogor

(Foto: MNC Portal/Putra Ramadhani)

Dadan menjelaskan, ada beberapa serangga yang selain cahaya UV juga bisa melihat warna lain. Misalnya lalat yang bisa juga melihat warna hijau dan lebah dapat juga warna melihat biru dan kuning.

"Hal sudah dapat dipastikan, serangga sama sekali tidak bisa melihat warna merah. Oleh sebab itu, para peneliti biasanya kalau ingin melakukan penelitian perilaku serangga di malam hari, mereka pasti menggunakan warna merah," ungkap dia.

Sedangkan, untuk adaptasi tumbuhan dan asosiasinya dalam kehidupan manusia sudah berjalan selama manusia hidup. Ia pun kembali mencontohkan pohon mangga yang dipastikan berasal dari kebun dan mungkin hutan dapat beradaptasi dengan baik di pekarangan rumah dengan penyinaran intens khususnya malam hari.

"Mangga itu tetap hidup dan bahkan berbuah lebat setiap musim. Selain itu, hewan yang berasosisai dengan pohon mangga di antaranya kelelawar juga hadir di permukiman. Jadi tidak heran bila kita memarkirkan kendaraan di bawah pohon mangga itu, pagi harinya kotor dengan kotoran hewan yang kotoran kelelawar itu," ungkapnya.

Namun, Dadang menambahkan, pada prinsipnya di dunia ini berkembang dua paham utama tentang kehidupan. Pertama yakni paham penciptaan yang mengatakan semua mahluk ini diciptakan tuhan dengan sempurna dan hidup sebagaimana mestinya.

Kemudian yang kedua paham evolusi yang intinya mengatakan bahwa dunia ini ada dalam waktu yang panjang, selalu mengalami perubahan dan selalu berkembang.

"Bagi seorang scientist yang percaya dengan penciptanya, tentu meyakini betul paham penciptaan ini, tapi teori evolusi yang basis utamanya seleksi alam pasti diakui juga kebenarannya," tuturnya.

Baca juga: 4 Taman Cantik di Kebun Raya Bogor, Asyik Buat Jalan-Jalan

Bahkan, kata dia, evolusi dan co-evolusi selalu terjadi dalam kehidupan ini. Dadan kembali mencontohkan seperti yang terjadi terhadap manusia saat ini yaitu pandemi Covid-19. Kini, manusia memahami betul bagaimana caranya selamat dari tekanan Covid-19 yaitu menjaga imunitas tubuh dengan hidup dengan sehat.

"Seleksi alam terjadi bagi umat manusia, yang survive (atas kejadian Covid-19) adalah mereka yang selama ini hidup dengan sehat, sementara mereka yang hidupnya kurang sehat, ada yang tidak bisa melewati seleksi alam ini. Di sisi lain, Covid-19 mengalami co-evolusi dengan munculnya varian-varian baru yang mungkin akan lebih ganas dan manusia kemudian berusaha menyesuaikan diri dengan tekanan varian baru itu agar tetap survive," ucap Dadan.

Dengan begitu, mekanisme tersebut akan terus terjadi sepanjang kehidupan. Bahkan, hal yang sama juga akan terjadi pada tumbuhan dan binatang.

"Mungkin uuntuk sementara waktu akan ada jenis tumbuhan atau binatang yang akan terpengaruh dengan sesuatu yang baru, tapi dalam jangka panjang mereka juga akan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang baru," pungkasnya.

Seperti diketahui Kebun Raya Bogor segera menghadirkan wisata edukasi bernama GLOW. Dilansir dari Instagram @GlowKebunRaya, disebutkan GLOW hadir sebagai bentuk wisata edukasi unik yang diadakan hanya pada malam hari dengan konsep berjalan kaki menelusuri jalur di ruang alam terbuka.

Konsep Kebun Raya di malam hari juga sudah diadaptasi oleh beberapa Kebun Raya di dunia, seperti Johnsonville Night Lights in the Garden yang berlokasi di Naples Botanical Garden, Night Blooms di Huntsville Botanical Garden, dan Botanica Lumina di Adelaide Botanic Garden.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini