Eks Pilot Boeing Terancam 100 Tahun Bui Pasca-Tragedi Lion Air, Apa Kesalahannya?

Denisa Aisyah, Jurnalis · Senin 18 Oktober 2021 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 17 406 2487578 eks-pilot-boeing-terancam-100-tahun-bui-pasca-tragedi-lion-air-apa-kesalahannya-s5sT14tv5P.JPG Pesawat Boeing 737 Max (Foto: Reuters)

MANTAN pilot Boeing yang terlibat dalam pengujian pesawat jet 737 Max didakwa hakim federal atas tuduhan menipu regulator keselamatan yang sedang mengevaluasi pesawat. Aksinya itu menjadi salah satu penyebab dua kecelakaan mematikan pesawat tersebut.

Mark Forkner (49) dituding memberikan informasi palsu dan tidak lengkap kepada Administrasi Penerbangan Federal (FAA) tentang sistem kontrol penerbangan otomatis yang menjadi faktor utama dalam kecelakaan yang menewaskan 346 penumpang.

Forkner bekerja sebagai kepala pilot teknis pesawat Boeing 737 Max selama pengembangan pesawat. Jaksa berujar bahwa terjadi dugaan penipuan, sistem itu tidak disebutkan dalam dokumen kunci FAA, manual pilot, atau materi pelatihan pilot yang dipasok ke maskapai penerbangan.

Sistem kontrol penerbangan secara otomatis menekan hidung pesawat 737 Max yang jatuh pada 2018 di Indonesia, dan 2019 di Ethiopia.

Kecelakaan besar pertama melibatkan pesawat seri Boeing 737 Max yang terjadi pada 29 Oktober 2018, di mana pesawat Lion Air JT-610 jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat 13 menit setelah lepas landas. Tragedi itu menewaskan 189 penumpang plus awak kabin.

Baca juga: Singapura Akhirnya Izinkan Boeing 737 Max Terbang Lagi

Infografis Kecelakaan Pesawat di Indonesia

Lima bulan kemudian, pada 10 Maret 2019, pesawat Boeing 737 Max 8 dalam penerbangan Ethiopian 302 jatuh di dekat Kota Bishoftu, Ethiopia, enam menit setelah take off. Insiden itu menewaskan 157 orang di dalamnya. Kebanyakan pilot tidak menyadari sistem yang disebut sebagai Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Forkner didakwa dengan dua tuduhan penipuan yang melibatkan suku cadang pesawat dalam perdagangan antarnegara bagian dan empat tuduhan penipuan. Jika terbukti bersalah atas semua tuduhan, ia bisa menghadapi hukuman hingga 100 tahun atau satu abad kurungan penjara!.

Pengacara Forkner, David Gerger, sebelumnya mengatakan bahwa kliennya tidak akan pernah dengan sengaja menyembunyikan masalah keamanan.

"Mark menerbangkan Max. Teman-teman Angkatan Udaranya menerbangkan Max. Dia tidak akan pernah menempatkan dirinya, teman-temannya, atau penumpang manapun di pesawat yang tidak aman," kata Gerger kepada Wall Street Journal pada 2019.

Komentar Forkner dalam pesan internal termasuk di antara yang ditunjukkan oleh anggota parlemen AS dalam dengar pendapat di Washington sebagai bukti bahwa Boeing mengetahui masalah dengan perangkat lunak kontrol penerbangan.

Boeing setuju untuk membayar denda USD2,5 miliar atau setara dan menyelesaikan tuntutan pidana atas klaim bahwa mereka menipu regulator yang mengawasi 737 Max.

Baca juga: Bawa Mesin Cuci Darah dalam Pesawat, Penumpang Ini Diusir oleh Pilot

Infografis Jendela Pesawat

Segera setelah dua kecelakaan pada 2019, perusahaan manufaktur pesawat memecat kepala eksekutifnya saat itu, Dennis Muilenburg. Upaya tersebut dilakukan untuk menghukum segelintir karyawan 'nakal'.

Kemudian pada Mei, Boeing setuju membayar denda USD17 juta dan memperbaiki rantai pasokan dan praktik produksinya setelah memasang peralatan yang tidak disetujui di ratusan pesawat. Pesawat Boeing 737 Max baru diizinkan kembali mengudara pada akhir 2020 lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini