Mengenal Fenomena Johatsu, Cara Menghilang Tanpa Jejak di Jepang

Salwa Izzati Khairana, Jurnalis · Selasa 19 Oktober 2021 17:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 406 2488678 mengenal-fenomena-johatsu-cara-menghilang-tanpa-jejak-di-jepang-2eVx3cIyjP.jpg Mengenal fenomena johatsu di Jepang (Unsplash)

FENOMENA johatsu sebuah praktik yang dikenal dalam budaya Jepang. Ini merupakan cara menghilangkan diri begitu saja tanpa meninggalkan jejak, selain dengan bunuh diri. Secara harfiah johatsu artinya penguapan.

Banyak orang Jepang meninggalkan identitas mereka sebelumnya dan memulai hidup baru secara diam-diam. Rasa malu adalah salah satu penyebab utama johatsu. Beberapa orang menghilang setelah kehilangan pekerjaan, pernikahan yang gagal, atau memiliki utang yang besar.

Baca juga: Mengenal Tradisi Nyotaimori, Makan Sushi di Atas Tubuh Wanita Tanpa Busana

Orang-orang yang menguap pergi ke tempat di mana tidak ada yang mengenali mereka dan hidup seperti hantu. Mereka menghilang tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang mereka cintai, meninggalkan mereka dalam keadaan sengsara yang tak ada habisnya, tidak yakin apakah mereka hidup atau mati.

Johatsu adalah pilihan lain bagi mereka yang tidak mampu menghadapi kegagalan dan rasa malu, tetapi tidak ingin bunuh diri.

Ada berbagai alasan di balik johatsu ini, seperti seorang anak yang tidak lulus ujian sekolah, atau suami yang menghasilkan banyak uang dari berjudi dan terlilit utang.

Di satu sisi, melakukan bunuh diri menempatkan keluarga dalam risiko keuangan karena biaya pembersihan dan utang yang sangat tinggi.

Baca juga: Mengenal Festival Hadaka Matsuri, Pesta Telanjang Doakan Panen di Jepang

Ketika orang dihadapkan pada pilihan untuk bunuh diri atau menghilang, mereka lebih memilih yang terakhir. Mereka merasa lebih baik menghilang daripada mati.

Rupanya, Jepang memiliki budaya di mana setiap orang mengalami sejumlah besar tekanan sosial sejak usia muda.

Ini bukan penculikan atau percobaan bunuh diri. Setiap tahun, sekitar 100.000 orang Jepang menghilang tanpa jejak. Beberapa muncul setelah beberapa saat, sementara yang lain tetap terisolasi di dalam rumah mereka sebagai hikikomori.

Namun, yang lain menjalani kehidupan sehari-hari mereka tanpa menunjukkan kehadiran mereka di masyarakat. Praktik ini lebih umum pada tahun 1990-an ketika Jepang mengalami kesulitan ekonomi, tetapi masih terjadi sampai sekarang.

Johatsu sendiri tidak dapat dilacak karena undang-undang privasi Jepang yang tidak dapat ditembus. Tidak seperti negara lain, polisi hanya dapat mengakses catatan publik dalam kasus kriminal, sementara sebagian besar kasus di Johatsu adalah kasus perdata.

Ilustrasi

Polisi tidak berdaya untuk membantu dalam kasus Johatsu, keluarga beralih ke detektif swasta, bahkan usaha mereka tidak membuahkan hasil.

Organisasi seperti Asosiasi Dukungan Pencarian Orang Hilang Jepang bermunculan untuk membantu pencarian orang hilang, tetapi sebagian besar kasus berakhir dengan jalan buntu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini