Mengenal Tradisi Harakiri, Ritual Bunuh Diri demi Kehormatan di Jepang

Nindi Widya Wati, Jurnalis · Senin 25 Oktober 2021 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 25 406 2491445 mengenal-tradisi-harakiri-ritual-bunuh-diri-demi-kehormatan-di-jepang-KLn72Ik4gE.jpg Ilustrasi tradisi harakiri di Jepang (Foto Pop Japan)

TRADISI harakiri di Jepang terkenal hingga mancanegara, terutama setelah diperkenalkan lewat film-film. Harakiri berasal dari gabungan Kanji, yakni hara berarti perut dan kiri adalah.

Hara-kiri berarti pemotongan perut dalam bahasa Jepang. Singkatnya adalah ritual bunuh diri untuk menebus kesalahan demi kehormatan atau harga diri.

Tetapi, orang Jepang hampir tidak pernah menggunakan kata harakiri dan lebih memilih kata seppuku. Seppuku adalah kematian terhormat atau bunuh diri ritualistik dengan mengeluarkan isi perut yang hanya bisa dilakukan oleh seorang samurai, karena terdapat ritual dan tata cara yang harus dilkakukan.

Baca juga:  Mengenal Tradisi Nyotaimori, Makan Sushi di Atas Tubuh Wanita Tanpa Busana

Tradisi seppuku (Harakiri) sudah lahir dari abad ke-12. Pada awalnya, kebiasaan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk seorang samurai dan orang-orang dari kelas atas untuk menebus kejahatannya, mendapatkan kehormatan yang hilang, atau mengindarkan diri dari penangkapan yang memalukan oleh musuh.

 Ilustrasi

Dirangkum dari beberapa sumber, alasan bagian perut menjadi pilihan untuk dipotong, tidak lain karena banyak dari orang Asia kuno yang percaya bahwa jiwa dan pikiran dari seseorang beristirahat dalam perut dan bukan pada otak, dan karenanya perut harus dipotong agar jiwa tersebut terbebas.

Ritual dimulai dengan samurai yang dimandikan, berpakaian kimono putih dan dilayani dengan menu favorit sebagai makanan terakhir, dan diberi waktu untuk menulis puisi kematiannya.

Dia akan dipersilakan duduk di tempat yang ditunjuk dengan posisi seiza (kaki ditarik di bawah tubuh sehingga benar-benar duduk di atas tumit). Kaishakunin, bertugas memenggal kepala dari pelaku Seppuku bersiap di sebelahnya. Kaishakunin dapat ditunjuk oleh pemerintah Shogun atau teman dekat pelaku.

Baca juga:  Mengenal Festival Hadaka Matsuri, Pesta Telanjang Doakan Panen di Jepang

Sebuah gelas sake, setumpuk Washi (kertas buatan tangan dari kulit kayu mullberry) dan alat tulis, serta Kozuka (pedang pemotong perut) akan diletakkan di meja kayu dan berada di depan pelaku Seppuku. 

Pedang yang biasa dipakai untuk mengeluarkan isi perut adalah Tanto (pisau). Pedang ini dibalut dengan kain sehingga tidak akan melukai tangan pengguna, atau menyebabkan dia kehilangan pegangan ketika memegang pedang tersebut.

Namun, jika pelaku belum cukup umur, atau diputuskan untuk terlalu berbahaya jika diberi pedang, pedang akan diganti dengan sebuah kipas.

Pelaku akan meminum sake dua kali masing-masing dua tegukan. Satu tegukan untuk keserakahan, ketiga tegukan lainnya untuk keraguan. Total empat tegukan, atau ‘shi’(empat) dalam bahasa Jepang, melambangkan kematian. Setelah itu dia akan menulis wasiat terakhir dengan anggun dan natural, seolah tanpa peduli bahwa dia akan mati.

Kemudian, Kaishakunin akan menampilkan Kaishaku-nya dengan memenggal kepala pelaku dalam satu tebasan, tapi membiarkannya menempel di sela kulit di tenggorokan.

Hal ini untuk mencegah kepala tersebut terbang ke arah penonton atau berputar di dalam ruangan, menyemprotkan darah kemana-mana. Hanya penjahat kelas rendah yang dipenggal sepenuhnya.

Kaishakunin akan mulai memenggal sesaat setelah melihat tanda sakit atau keraguan dari pelaku. Untuk pelaku yang menukar pedangnya dengan kipas, Kaishakunin akan mulai memenggal saat pelaku menyentuh perutnya menggunakan kipas. Setelah seppuku selesai dilaksanakan, meja kayu dan pedang akan dibuang karena telah tercemar oleh kematian.

Mengutip dari mai-ko.com ada berbagai jenis Seppuku (Harakiri) yang diidentifikasi dalam literatur yakni:

1. Oibara: Melakukan seppuku setelah atasannya meninggal. Sebelum tahun 1500-an banyak kaishakunin melakukan seppuku mengikuti seppuku dari tuannya.

 Ilustrasi

2. Tsumebara: Memaksa seppuku untuk menghukum seorang samurai. Seppuku bertentangan dengan keinginan seseorang.

3. Tachibara: Melakukan seppuku sambil berdiri. Tachi berarti "berdiri" dalam bahasa Jepang.

4. Kanshibara: Melakukan seppuku untuk memprotes perilaku samurai lain. Contohnya adalah seppuku Hirate Masahide pada tahun 1553 untuk memprotes Oda Nobunaga.

5. Kamabara: Melakukan seppuku dengan menggunakan sabit.

6. Kagebara: Melakukan seppuku tetapi menyembunyikan lukanya untuk mengejutkan penonton. Banyak digunakan dalam drama kabuki.

Lalu, pada tradisi Jenis Potongan Seppuku (Harakiri) memiliki beberapa jenis potongan perut, diantaranya sebagai berikut.

1. Jumonji: Ini adalah bentuk seppuku yang paling umum. Satu potongan horizontal dan satu vertikal dibuat pada bagian perut yang pada akhirnya terlihat seperti angka 10 (十) dalam bahasa Jepang. Potongan pertama biasanya tidak cukup dalam untuk memastikan isi perut tidak tumpah lebih awal. Potongan pertama biasanya di bawah pusar dari kiri ke kanan. Potongan kedua dari bawah ke atas dimulai tepat di atas pangkal paha. Urutan pemotongannya tidak begitu konsisten.

2. Ichimonji: Satu potong horizontal dari kiri ke kanan. Kadang-kadang samurai memotong secara diagonal dari pusar ke puting kanan yang dapat diterima.

3. Hachimonji: Membuat dua potongan vertikal sedikit miring yang terlihat seperti angka 8 (八) dalam bahasa Jepang.

4. Sanmonji : Membuat tiga potongan horizontal yang terlihat seperti angka 3 (三) dalam bahasa Jepang.

Seppuku secara sukarela dianggap sebuah sikap yang baik terhadap tuannya dan pihak yang dirugikan. Bahkan dalam beberapa kasus, dapat dianggap sebuah kematian dengan ‘tindak-tanduk’ yang menjamin reputasi baik bagi keluarganya sendiri dan memungkinkan mereka untuk menggunakan keuntungan penghargaan yang diberikan untuk jasanya selama hidup.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini